Home Jejak Artefak Watu Lumpang, Situs Megalitikum Dekat Lereng Gunung Slamet

Watu Lumpang, Situs Megalitikum Dekat Lereng Gunung Slamet

Provinsi Jawa Tengah memang dikenal sebagai gudangnya situs purbakala. Di Kabupaten Banyumas yang beribukota di Purwekerto terdapat sebuah situs purbakala zaman megalitikum, Watu Lumpang.

Situs ini berada di Dusun Ragung, Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok. Warga sekitar menyebutnya sebagai Watu Lumpang karena bentuknya semacam batu lumpang yang biasa digunakan untuk menumbuk padi.

Watu Lumpang merupakan batu berukuran besar berbentuk setengah lingkaran dengan tinggi 80cm, diameter 70cm dan berlubang dibagian tengah atas berisi air. Pada jaman dahulu lumpang biasanya dijadikan sebagai tempat penumbuk gabah (padi) dan kopi.

Situs Watu Lumpang ditemukan berdasarkan penelusuran pelestarian dan pembinaan peninggalan arkeologis (benda Purbakala) oleh Balai Peninggalan Sejarah dan Purbakala ‎Jawa Tengah. Penemuan situs ini pada pada medio 80-an.

Situs Watu Lumpang merupakan bangunan punden berundak sebagai tempat pemujaan arwah nenek moyang pada masa prasejarah. Situs yang dekat lereng Gunung Slamet ini berorientasi ke arah utara dan selatan dengan pusatnya di Gunung Slamet.

Watu Lumpang dahulu, dianggap sebagai tempat persinggahan terakhir persemayaman arwah leluhur.

Karena lokasinya yang berada jauh dari rumah penduduk dan memeliki keterkaitan dengan arwah leluhur, situs Watu Lumpang memiliki banyak kisah mistis.

Masyarakat sekitar mensakralkan situs tersebut karena menurut cerita yang beredar ada kekuatan gaib yang melindungi Watu Lumpang.

Cerita mistis yang beredar, pernah suatu saat ada seseorang yang berusaha mencuri Watu Lumpang, namun dalam sekejap Watu Lumpang kembali ke tempat asalnya.

Cerita lain yang beredar adalah, air hujan yang tertampung di Watu Lumpang tidak pernah luber meski curah hujan tinggi hingga berhari-hari.

Masyarakat setempat juga mempercayai jika air tampungan Watu Lumpang mempengaruhi kondisi air masyarakat sekitar. Jika air di Watu Lumpang menyusut, maka air di rumah penduduk pun sedikit. Sementara jika melimpah, air di rumah penduduk akan banyak dan jernih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini