Home Alam Sekitar Waspada! Hipotermia Ancam Keselamatan Pendaki Gunung

Waspada! Hipotermia Ancam Keselamatan Pendaki Gunung

Baru-baru ini media sosial dihebohkan dengan pendaki gunung yang ditemukan meninngal dunia di area Gegerboyo, Gunung Lawu. Dalam video yang beredar, sebelum ditemukan tak bernyawa, pendaki tersebut bertingkah aneh dengan berjalan telanjang dada.

Selain jaket yang ia pakai digunakan untuk membungkus ranting pohon. Isu beredar jika pendaki tersebut kesurupan. Namun, dari gejala dan tingkah laku yang terlihat, dugaan kuat pendaki di Gunung Lawu tersebut mengalami hipotermia berat.

Dikutip dari halodoc.com, hipotermia merupakan kondisi saat temperatur tubuh menurun drastis di bawah suhu normal yang dibutuhkan oleh metabolisme dan fungsi tubuh, yaitu di bawah 35 derajat Celsius.

Kondisi ini harus mendapatkan penanganan segera, karena dapat menyebabkan gangguan pada sistem saraf dan fungsi organ lain dalam tubuh.

Penyebab umum hipotermia adalah paparan suhu dingin atau air dingin dalam waktu yang lama tanpa perlindungan yang cukup. Seperti misalnya melakukan kegiatan di tempat berudara dingin dalam waktu yang lama atau menggunakan pakaian basah.

Hipotermia juga dapat diklasifikasikan berdasarkan temperatur tubuh, yaitu:ringan = 34-36 °C. Dalam kondisi ini kebanyakan orang bila berada pada suhu ini akan menggigil secara hebat, terutama di seluruh ekstremitas. Bila suhu tubuh lebih turun lagi, pasien mungkin akan mengalami amnesia dan disartria. Peningkatan kecepatan nafas juga mungkin terjadi.


Sementara pada hipotermia sedang suhu manusia berada di kisaran 30–34 °C. Di fase ini
terjadi penurunan konsumsi oksigen oleh sistem saraf secara besar yang mengakibatkan terjadinya hiporefleks, hipoventilasi, dan penurunan aliran darah ke ginjal.

Bila suhu tubuh semakin menurun, kesadaran pasien bisa menjadi stupor, tubuh kehilangan kemampuannya untuk menjaga suhu tubuh, dan adanya risiko timbul aritmia.


Di fase hipotermai berat di kisaran kurang dari 30 °C, sesorang rentan mengalami fibrilasi ventrikular, dan penurunan kontraksi miokardium, pasien juga rentan untuk menjadi koma, pulse sulit ditemukan, tidak ada reflex, apnea, dan oligouria.

Hipotermia kerap kali menjadi momok menakutkan bagi para pendaki gunung. Celakanya, pendaki gunung yang mengalami hipotermia berat memicu kondisi bahaya bernama paradoxical undressing.

Dikutip dari kompas.com paradoxical undressing merupakan kondisi tubuh yang mengalami kedinginan hebat atau hipotermia dan menyebabkan gangguan kontrol pada hipotalamus.

Hipotalamus merupakan bagian dari otak yang mengeluarkan bahan kimiawi berupa hormon yang dibutuhkan tubuh untuk membantu mengendalikan organ dan sel-sel tubuh, termasuk keseimbangan suhu tubuh.

Akibat dari hipotalamus yang terganggu, seseorang yang terkena hipotermia berat hingga paradoxical undressing akan merasa kepanasan meski di tempat yang dingin. Bahkan, tak jarang saking merasa panasnya, ia akan membuka baju yang dikenakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini