Home Jejak Uniknya Grebeg Besar, Tradisi Idul Adha dari Yogyakarta

Uniknya Grebeg Besar, Tradisi Idul Adha dari Yogyakarta

Hari raya Idul Adha tinggal hitungan hari. Hari raya yang jatuh pada tanggal 10 Zulhijah ini menyimpan segudang sejarah dan juga tradisi di sejumlah daerah di tanah air.

Sebut saja Manten Sapi yang berasal dari Pasuruan, Kaul dan Abda’u dari Maluku lalu ada Mepe Kasur asli Banyuwangi, dan yang paling terkenal adalah Grebeg Besar dari Yogyakarta.

Yogyakarta memang dikenal sebagai kota yang sangat menjunjung tinggi nilai budaya. Salah satu buktinya, ialah dengan diadakannya Grebeg Besar. Kegiatan yang ditunggu-tunggu masyarakat Yogyakarta setiap hari besar Islam.

Grebeg Besar diisi dengan arak-arakan gunungan yang nantinya akan dibagikan kepada masyarakat seusai shalat id. Prosesi grebeg dimulai dengan pawai para prajurit Bregada (pasukan perang Keraton Yogyakarta). Bregada yang terdiri dari 10 satuan prajurit dengan seragam berbeda keluar satu per satu dari gerbang utama Keraton.

Tradisi ini tak hanya menarik minat dari masyarakat lokal saja namun juga wisatawan asing. Tak sedikit wisatawan asing yang kagum dengan upacara simbol kemakmuran masyarakat dan Kesultanan Yogyakarta ini.

Dalam Grebeg Besar, terdapat tujuh gunungan yang diarak. Lima diantaranya diberikan ke masyarakat, dan dua sisanya dibawa ke Kantor Gubernur Yogyakarta dan Puro Pakualaman. Sebelum diberikanke masyarakat, gunungan-gunungan tersebut akan didoakan terlebih dahulu. Para warga dan wisatawan akan menunggu gunungan tadi untuk diarak keluar dari keraton.

Usai doa dibacakan, masyarakat akan berebut gunungan tersebut hingga ludes tak tersisa. Terkadang, turis asing pun ikutan berebut.

Prosesi pengambilan gunungan ini dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah rayahan. Masyarakat percaya dengan mengambil gunungan tersebut mereka akan mendapatkan keberkahan.

Gunungan pada tradisi Grebeg Besar biasanya berisi macam-macam sayuran, buah-buahan, hasil bumi lainnya. Isi gunungan yang paling utama adalah ketan. Ada filosofi yang terkandung dalam kuliner yang sering dijadiakan bubur itu. Sifat lengket dari ketan bermakna keharmonisan hubungan antara sang sultan dengan para rakyatnya.

Grebeg sendiri berarti iring-iringan oleh orang banyak. Ada pula yang berpendapat bahwa grebeg berasal dari kata gurembeg yang merujuk pada deru angin yang dihasilkan dari orang-orang yang berkumpul.

Tidak diketahui secara pasti pada tahun berapa Grebeg Besar petama kali diadakan. Tradisi Grebek di Yogyakarta sendiri sebenarnya ada tiga untuk perayaan yang berbeda. Ketiga grebek tersebut adalah Grebek Syawal (Bulan Ramadhan dan Idul Fitri), Grebek Maulud (Maulid Nabi), dan Grebek Besar (Idul Adha).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini