Beranda Tokoh Tak Hanya R.A Kartini, Inilah 4 Tokoh Emansipasi Perempuan Di Indonesia Yang...

Tak Hanya R.A Kartini, Inilah 4 Tokoh Emansipasi Perempuan Di Indonesia Yang Perlu Kamu Ketahui

0

Raden Ajeng Kartini merupakan salah satu sosok pahlawan nasional wanita yang banyak dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Berkat jasanya dalam memperjuangkan pendidikan bagi kaum perempuan, membuat Kartini berhasil dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan hingga saat ini.

Bahkan, tanggal 21 April yang juga bertepatan dengan hari kelahirannya, selalu diperingati sebagai hari Kartini di Indonesia. Hal ini, tentu bertujuan untuk menghormati dan mengingatkan masyarakat akan jasa serta perjuangannya dalam mewujudkan kesetaraan hak bagi kaum perempuan di Indonesia.

Sobat tapak, perlu kalian ketahui juga bahwa selain Kartini, berikut ini ada beberapa pahlawan nasional wanita lainnya yang juga dikenal tangguh dan pemberani terlebih dalam berjuang demi Indonesia. Siapa sajakah pahlawan nasional wanita tersebut?

1. Laksamana Keumalahayati

Lukisan Laksamana Malahayati sumber wikipedia

Pahlawan nasional wanita pertama ini berasal dari Aceh dan lahir pada tahun 1550. Laksamana Malahayati merupakan salah satu pahlawan nasional wanita yang masih memiliki garis keturunan langsung dengan Sultan Salahuddin Syah khususnya dari sang ayah yaitu Laksamana Mahmud Syah.

Meski terlahir di kalangan bangsawan, hal tersebut justru tak membuat beliau serta merta hidup penuh dengan kemewahan. Kehidupannya juga tak hanya dihabiskan untuk bersolek atau memasak di dapur seperti wanita pada umumnya. Sebab, Keumalahayati merupakan pribadi yang justru lebih menyukai ilmu peperangan dan ilmu kenegaraan.

Berkat keberanian serta pendidikan yang dimilikinya, Keumalahayati berhasil membentuk sebuah pasukan perang bernama Inong Balee dan ikut terjun dalam pertempuran laut melawan Portugis. Melalui keberaniannya itu, Beliau pantas untuk disebut sebagai pahlawan wanita yang menginspirasi bagi generasi saat ini, karena telah membuktikan bahwa wanita juga bisa memimpin dan memperjuangkan cita-citanya.

2. Dewi Sartika

Foto Dewi Sartika sumber wikipedia

Nama pahlawan wanita selanjutnya adalah Dewi Sartika. Beliau adalah pahlawan pendidikan dari tanah Sunda yang lahir pada 4 Desember 1884. Dewi Sartika juga merupakan anak dari Patih Bandung, yaitu Raden Rangga Somanagara.

Sebagai seorang anak yang lahir dari keluarga terpandang, Dewi Sartika mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan. Keistimewaan inilah yang tidak dimiliki oleh hampir sebagian besar anak perempuan lainnya pada masa itu.

Meski dikenal sebagai sosok perempuan yang cerdas dan kritis, hal tersebut justru tak membuatnya menjadi pribadi yang besar kepala. Beliau bahkan dengan ikhlas membagikan ilmu yang dimilikinya kepada anak perempuan lain di sekitarnya.

Dewi Sartika juga mengubah batasan dengan membuka akses pendidikan untuk semua golongan, terutama bagi kaum perempuan. Beliau pun mendirikan sebuah sekolah yang bertujuan untuk mencerdaskan kaum perempuan agar tercipta kesetaraan pendidikan antara laki-laki dan perempuan, serta antara kaum perempuan dari golongan priayi dan kaum perempuan dari golongan biasa.

Tepat pada 16 Januari 1904, keinginan dan perjuangan Dewi Sartika akhirnya terwujud. Di usianya yang masih terbilang sangat muda, yaitu sekitar 20 tahun, Beliau berhasil mendirikan sebuah sekolah bernama Sakola Istri dengan bantuan dari C. Den Hammer dan R.A.A.Martanegara. Sekolah tersebut bertempat di ruang Paseban Kabupaten, di sudut sebelah Barat Pendopo Bupati Bandung. Sekolah Saloka Istri juga sempat beberapa kali mengalami pergantian nama, hingga tepat pada 1914 akhirnya sekolah yang didirikan oleh Dewi Sartika itu pun diberi nama sebagai Sakola Kautamaan Istri yang memiliki motto dari bahasa Sunda, yaitu “cageur, bageur, benersinger, pinter” atau yang dalam bahasa Indonesia berarti, “sehat, baik hati, benar, mawas diri, pintar”.

3. Martha Christina Tiahahu

Ilustrasi Martha Christina Tiahahu sumber wikipedia

Pahlawan nasional wanita asal Kepulauan Maluku yang lahir sekitar tahun 1800 ini, tercatat sebagai Pahlawan Nasional sejak 20 Mei 1969 karena keberaniannya dalam melawan penjajah Belanda pada tahun 1816.

Martha yang merupakan putri dari pasangan Kapitan Paulus Tiahahu (pemimpin perlawanan di Nusa Laut) dengan seorang keturunan kapitan besar Lolohowarlau dari negeri Titawasi yang bernama Sina, dikenal telah mewarisi darah kapitan dari pihak ayah maupun sang ibu.

Maka, bukan suatu yang mengherankan jika beliau memiliki keberanian di setiap medan pertempuran, baik di Nusalaut maupun di Saparua ketika menghadapi Belanda. Bahkan, saat usianya masih sangat belia, Martha juga bergabung dalam pertempuran di Maluku bersama dengan pasukan Thomas Matulessy (Pattimura).

Martha yang ikut serta dalam pertempuran itu pun bertekad untuk berjuang membela bangsa, walaupun nyawanya menjadi taruhan. Karena keberanian yang dimilikinya ini, beliau patut menjadi teladan, sehingga namanya kini juga dikenal sebagai pahlawan perempuan yang melegenda.

4. Rangkayo Rasuna Said

Foto Rangkayo Rasuna Said Sumber Kami Perkenalkan. 1954. Jakarta: Ministry of Information

Pahlawan nasional wanita Indonesia lainnya adalah Hajjah Rangkayo Rasuna Said. Beliau merupakan seorang tokoh sekaligus pahlawan nasional dari Sumatera Barat yang berperan dalam memperjuangkan hak-hak perempuan pada tahun 1926-1965.

Lahir di Desa Panyinggahan Maninjau, Agam, Sumatera Barat pada 14 September 1910, Rasuna Said adalah putri dari seorang aktivis pergerakan yang juga merupakan seorang pengusaha di Sumatera Barat, yaitu Haji Muhammad Said atau yang kerap disapa Haji Said. Sebagai seorang anak dari keluarga yang cukup terpandang, Rasuna Said tentu mendapatkan kesempatan untuk mengenyam pendidikan dengan baik.

Berbekal dari pendidikan yang dimilikinya, Rasuna Said pun tergerak untuk berjuang dalam bidang pendidikan. Beliau bahkan pernah menjadi seorang pengajar di Sekolah Diniah Putri dan turut memberikan pendidikan politik kepada murid-muridnya.

Tak hanya itu, Rasuna juga membuka Kursus Pemberantasan Buta Huruf dengan nama, Sekolah Menyesal. Setelah itu, Rasuna Said membuka Sekolah Thawalib di Padang, mengajar di Sekolah Thawalib Puteri, dan menjadi pemimpin di Kursus Putri serta Kursus Normal di Bukittinggi.

Perjuangan lain yang dilakukan oleh Rasuna Said khususnya di bidang politik adalah dimulai dengan bergabung dalam Sarekat Rakyat tahun 1926 pada masa pendudukan Belanda hingga Jepang. Dirinya aktif mengikuti berbagai organisasi dan membuatnya dikenal sebagai orator ulung, pendidik yang tegas serta penulis majalah.

Beliau juga bahkan aktif berkontribusi dalam Persatuan Wanita Republik Indonesia untuk menyuarakan hak-hak perempuan agar memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki, terutama di bidang pendidikan dan politik.

TIDAK ADA KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini