22.4 C
Indonesia
Thursday, December 2, 2021

TAPAK.id

spot_img

Tak Banyak Diketahui, Ternyata Inilah Kisah Dibalik Nama Kabupaten Boyolali

Kabupaten Boyolali merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Tengah yang terletak diantara kaki Gunung Merapi dan Merbabu. Kabupaten yang telah 13 kali memperoleh penghargaan Adipura ini didirikan pada tahun 1847 dan memiliki pusat pemerintahan yang berada di kecamatan Mojosongo.

Berbatasan dengan Kabupaten Klaten di sebelah selatan, Kota Solo di sebelah utara, serta Salatiga dan Semarang disebelah timur, Boyolali terdiri atas 22 kecamatan yang juga dikenal dengan slogannya Boyolali Tersenyum yaitu merupakan akronim dari kata Tertib, Elok, Rapi, Sehat, Nyaman untuk Masyarakat.

Meski menjadi Kabupaten yang telah mencanangkan kebijakan Pro Investasi sejak 2010 silam sebagai kawasan pengembang industri, Boyolali juga memiliki kisah yang belum banyak diketahui dibalik terciptanya Nama Kabupaten tersebut.

Dijelaskan oleh Drs. Mulyono Santoso M.SI selaku Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Boyolali di channel youtube Dibalik Nama, Singkat cerita Ki Ageng Pandan Arang atau yang dikenal dengan Tumenggung Notoprojo merupakan Bupati pertama Semarang yang diramalkan oleh Sunan Kalijaga akan menjadi Wali penutup dan mengantikan Syekh Siti Jenar.

Oleh Sunan Kalijaga, Ki Ageng Pandan Arang kemudian diutus menuju ke gunung Jabalkat yang berlokasi di Bayat, Kabupaten Klaten untuk mensyiarkan agama Islam. Bersama istrinya yaitu Nyi Ageng Pandan Arang, beliau berjalan kaki dari Semarang menuju Bayat.

Selama perjalanan Ki Ageng Pandan Arang dan sang istri mengalami banyak rintangan, bahkan sempat dirampok di tengah perjalanan. Keduanya yang berjalan tidak beriringan akhirnya terpisah.

Ki Ageng Pandan Arang yang sudah berjalan cukup jauh memutuskan untuk beristirahat di sebuah batu besar yang berada di tengah sungai sembari menunggu kehadiran sang istri yang tertinggal jauh dibelakang. Sambil menunggu istrinya Ki Ageng Pandan Arang pun berucap “Boya Wis Lali Wong Iki” yang dalam bahasa Indonesia, kata tersebut berarti “Apa sudah lupa orang ini pada saya”.

Hal serupa juga dilakukan oleh Nyi Ageng Pandan Arang. Karena merasa lelah lantaran tertinggal jauh oleh sang suami, beliau akhirnya memutuskan untuk isitirahat sejenak di sebuah batu. Sambil mengetuk-ngetuk tongkat yang dibawanya, beliau berkata “Boya Wis Lali kah Ki Karo Aku” yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Apa sudah lupa Ki Ageng pada saya”. Meski tertinggal jauh Nyi Ageng Pandan Arang akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya menyusul sang suami ke gunung Jabalkat.

Nah, dari sinilah akhirnya daerah tersebut dikenal dengan nama Boyolali hingga sekarang. Dimana nama tersebut berasal dari rangkaian kata “Boya dan Lali”.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

20,753FansSuka
3,042PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles