Home Jejak Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal itu turut memusingkan saya ketika akan mengkaji sejumlah riwayat kekuasaan yang berkaitan dengan ketiga nama tersebut. Oleh karena itu, saya berupaya menyusun pelbagai informasi historis yang sekiranya dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang konsep Sunda, Pakuan, dan Pajajaran.

Walaupun masih mengandung banyak kekurangan, informasi ini dihimpun dengan data bersejarah yang dianggap valid oleh para ahli terkait. Sehingga apabila ada informasi tambahan, baik itu berupa penguatan ataupun sanggahan, didasari pula oleh data yang semestinya. Dengan demikian, diskusi yang dilakukan akan berbuah manis penuh rasa persaudaraan, bukannya sikap tak elok dengan meninggikan ego dan memancing permusuhan. Yang diharapkan, niat baik kita senantiasa menjadi pemantik kebersamaan, agar kita dapat hidup dalam indahnya kebaikan.

Sunda

Pelbagai bukti sejarah mengindikasikan bahwa Sanjaya adalah tokoh historis, atau sosok yang benar-benar pernah eksis dalam sejarah. Bukti arkeologis dan filologis menyatakan bahwa Sanjaya hidup pada sekitar abad VIII, atau bahkan bisa saja lebih tua dari itu karena Prasasti Sthirengga saja yang menyebutkan namanya berasal dari tahun 732 M. Sosok Sanjaya menjadi penguat bukti akan eksistensi Kerajaan Sunda, karena dalam Naskah Carita Parahyangan (CP) diriwayatkan bahwa Sanjaya pernah menjadi menantu Tarusbawa, yang adalah Tohaan di Sunda (yang dipertuan di Sunda). Manuskrip lain yang memuat nama Sunda adalah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian dari tahun 1518 (Atja, 1972), Pararaton (Brandes, 1920), dan Kidung Sunda (Berg, 1927; 1928).

Tidak hanya itu, Prasasti Juru Pangambat yang dianggap berbahasa Melayu Kuna dan diduga berasal dari tahun 932 M, memiliki bunyi kalimat yang salah satunya adalah: “… ba(r)pulihkan haji sunda …” atau “memulihkan (kekuasaan) raja Sunda” (TBG, 1918: 91). Artefak tertulis ini jelas menguatkan informasi tentang adanya sebuah kerajaan yang bernama Sunda di Jawa Barat. Di samping itu, nama “Sunda” juga muncul dalam Prasasti Sanghyang Tapak yang berasal dari tahun 1030 (Pleyte, 1915). Di dalamnya tertulis nama Maharaja Sri Jayabhupati yang tercatat sebagai penguasa Prahajyan Sunda (Kerajaan Sunda). Berkaitan dengan hal itu, kata Sunda juga dimuat dalam Prasasti Horren (Kediri) yang berasal dari zaman Erlangga. Di artefak itu, tertulis kata satru sunda yang dapat diartikan sebagai “musuh (dari) Sunda” (Bambang Sumadio, 1984: 356).

Literatur lain yang berasal dari luar negeri, juga tidak sedikit yang menyebut-nyebut nama Sunda. Yang termasyhur adalah catatan dari Tome Pires (1513) yang pernah berkeliling pesisir Jawa pada awal Abad XVI. Menurut pegawai Portugis itu, terdapat sebuah kerajaan yang berkuasa di Jawa Barat dan mengadakan hubungan niaga dengan Portugis sebagai regno de cumda alias ‘Kerajaan Sunda’ (Cortesao, 1944: 166-73; 412-6). Dalam Da Asia, Barros juga menyebutkannya. Demikian juga berita yang berasal dari Antonio Pigafetta (1522) yang memberitakan bahwa Sunda adalah sebuah daerah yang banyak menghasilkan lada (Robertson, 1906). Peta-peta kuno yang pernah dibuat oleh orang-orang Portugis juga acapkali memuat nama Sunda dengan penyebutan khas mereka, misalnya peta Pero de Lavanha (1524).

Nama Sunda juga ditemukan dalam dokumen-dokumen klasik Tiongkok, di antaranya adalah informasi yang berasal dari catatan Dinasti Ming (1368-1643). Di dalamnya tercantum nama Sunda dalam bentuk kata “sun-la” (Groeneveldt, 1960: 44). Demikian juga halnya dengan berita-berita Tiongkok setelahnya. Berita Ceng-Ho, misalnya, menyebutkan bahwa ia beberapa kali diutus kaisar Cina ke negara-negara di sebelah selatan, antara lain ke Sun-la, yang besar kemungkinannya merupakan lafal Cina untuk Sunda (Groeneveldt, 1879: 44).

Dengan memerhatikan semua sumber tersebut, setidaknya dapat diketahui bahwa nama Sunda sudah dikenal sejak lama dan identik dengan sebuah kekuasaan yang ada di Jawa bagian barat, sejak sekitar akhir abad ke-7 hingga (akhir) abad ke-16.

Pakuan dan Pajajaran

Sebelum membahas kata Pakuan dan Pajajaran secara konseptual, alangkah baiknya kita mencoba menelaah asal muasal kedua kata tersebut. Sebagaimana diketahui, terdapat beberapa pendapat dari para ahli yang cukup menarik untuk diungkapkan. Pendapat pertama ialah yang menghubungkan kata pakwan dengan paku (sejenis pohon, Cycas circinalis), sedangkan Pajajaran diartikannya tempat berjajar sehingga pakwan pajajaran diartikan tempat dengan (pohon) paku yang berjajar (Holle, 1882: 93). Pendapat kedua mencoba menghubungkan pakwan dengan kata kuwu, dengan menunjukkan pula buktinya bahwa kata pakwan yang berasal dari kuwu itu terdapat dalam Negarakretagama. Pendapat ketiga menyatakan bahwa pakwan seharusnya berasal dari kata paku ‘pasak’, dan kata itu dapat dihubungkan dengan lingga kerajaan yang terletak di samping prasasti Pakwan Pajajaran. Paku dalam artian lingga, sesuai dengan tafsiran zamannya, berarti pusat atau poros dunia serta erat tautannya dengan kedudukan raja, yaitu sebagai pusat jagat. Mengenai kata pajajaran, Dam (1957: 301) menguraikan bahwa pendapat itu menghubungkannya dengan kenyataan bahwa baik pakwan maupun kadatwan (puri raja), terletak di antara dua batang sungai yang mengalir sejajar, yaitu Cihaliwung dan Cisadane.

Berbeda dengan konsep atau kata “Sunda” yang telah termaktub pada sumber primer prasasti yang berasal dari Abad X, nama “Pakuan” dan “Pajajaran” muncul lebih belakangan. Namun walaupun begitu, secara konseptual nama kedua kata itu dapat ditelusuri melalui data arkeologis dan manuskrip. Untuk kata “Pakuan” dan “Pajajaran” tersebut, dapat dibilang sebagai sesuatu yang unik. Sebab, kata-kata ini kadang di-satu-nafas-kan sehingga disebut Pakuan Pajajaran, akan tetapi terkadang tercatat pula dengan variasi penyebutan kata yang terpisah satu sama lain, baik itu kata tunggal “Pakuan” ataupun “Pajajaran”. eksistensi kedua kata tersebut memperlihatkan bahwa di antara kata Pakuan, Pajajaran, dan Pakuan Pajajaran, terdapat variasi pengabadian yang berlandaskan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Nama Pakuan misalnya, tercatat dalam Prasasti Huludayeuh, di Dukuh Puntang, Cirebon. Pada baris ketiga cagar budaya itu, berbunyi: “…ri pakwan sya sang (hyang)…” (di Pakwan ia Sanghyang). Di samping itu, dalam Prasasti Kebantenan 1/4 terdapat kalimat: “….pun. ini piteket sri baduga maharaja ratu haji di pakwan, sri sang ratu dewata…” (…maafkan. Inilah amanat Sri Baduga Maharaja, ratu haji di Pakwan, Sri Sang Ratu Dewata…). Sebagai naskah kuno Sunda, kropak K.406 (CP bagian pertama) memberikan banyak informasi tentang istilah “Pakuan”. Manuskrip itu menyebut nama Pakuan sebagai berikut: a) “… ti kandangwesi pamwat siya ka PAKWAN…” (dari kandangwesi persembahannya ke Pakwan); b) “… anaking sang prebu, rama, resi samadaya sarerea siya marek ka PAKWAN unggal tahun…” (anakku prabu, rama, resi, bersama-sama semuanya menghadap ke Pakwan tiap-tiap tahun).

Sedangkan untuk kata Pakuan dan Pajajaran, bisa dilihat dalam Prasasti Batutulis Bogor, yang mengabadikan nama Pakuan Pajajaran dalam satu kalimat tunggal. Disana termaktub bahwa: “…diwastu diya dingaran sri baduga maharaja ratu haji di pakwan pajajaran sri sang ratu dewata, ya nu nyusukna pakwan…” (…disucikan beliau baginda bergelar Sri Baduga Maharaja, ratu haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Baginda itulah yang memariti Pakwan). Prasasti Kebantenan 2 dan 3 memiliki karakter yang sama dengan penyebutan itu, karena disana tertulis bahwa: “…ong awighnam astu nihan sakakala rahyang niskala wastu kancana pun. Turun ka rahyang ningrat kancana, maka Nguni ka susuhunan ayona pakwan pajajaran…” (Selamat, mudah-mudahan tidak ada rintangan. Demikianlah sakakala Rahyang Niskala Wastu Kancana, turun kepada Rahyang Ningrat Kancana, pendahulu Yang Dipertuan yang sekarang di Pakwan Pajajaran). Meski demikian, Prasasti Kebantenan 5 sebagaimana diungkapkan Pleyte (1911: 169-71) berbunyi: “…ini piteket nu seba di pajajaran…” (Inilah amanat bagi mereka yang menghadap di Pajajaran).

Dengan bukti-bukti kuat yang kebenarannya dapat diterima, secara historis Pajajaran atau lebih lengkapnya Pakwan Pajajaran dapat diartikan sebagai nama pusat atau ibukota kerajaan, sedangkan Sunda adalah nama kerajaannya. Walaupun demikian, tidak jarang nama kerajaan atau negara dikenal melalui nama ibukotanya (Ayatroahedi, 1978: 51). Dengan demikian, maka istilah Kerajaan Pajajaran dengan demikian haruslah diartikan sebagai “kerajaan yang ibukotanya bernama Pajajaran”. Terkait hal itu, ada kebiasaan di kalangan masyarakat kita untuk menggunakan nama ibukota atau pusat kerajaan sebagai nama kerajaan, seperti Kesultanan Banten disebut juga Nagari Surosowan (Danasasmita, 1973: 21).

Penggunaan istilah Pajajaran untuk menyebutkan nama kerajaan, kemungkinan dilatar-belakangi oleh kenyataan bahwa ibukota atau pusat Kerajaan Sunda mengalami beberapa kali pindah. Paling tidak diketahui adanya empat buah ibukota atau pusat kerajaan selama masa Kerajaan Sunda, yaitu Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali dan Pakwan Pajajaran. Secara kronologis, pusat Kerajaan Sunda yang berpindah-pindah itu pernah berlokasi di tempat-tempat sebagai berikut: Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan. Jadi, Kerajaan Sunda itu berakhir pada waktu pusat kerajaannya berkedudukan di Pakwan Pajajaran (Danasasmita, 1975: 47).

Tampaknya, penggunaan istilah Pajajaran untuk menyebutkan kerajaan bermula dimaksudkan untuk menunjukkan Kerajaan Sunda dalam periode beribukota di Pakwan Pajajaran. karena periode ini terjadi beberapa kali dan termasuk yang terakhir kali, maka pemakaian istilah tersebut menjadi popular dan memasyarakat secara luas di lingkungan masyarakat Sunda (Jawa Barat), bahkan sampai ke masyarakat Jawa, dalam periode-periode selanjutnya sebagimana terwujud dalam legenda, mitos, dan karya sastra (sejarah) lainnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sejarah Singkat Psikologi Klinis Di Indonesia

Founder dan Psikolog Klinis Layanan Psikologi Balanceway.id Oleh: Tri Mahardika Dewi, Psikologi. Founder dan Psikologi Klinis Pusat Layanan...

Pohon Jati Cirebon

Pohon bermutu tinggi. Batangnya dapat tumbuh sangat besar, cocok untuk dijadikan penyangga bangunan. Bentuknya secara umum lurus dan dapat tumbuh hingga ketinggian...

TUTUR GALUR BATUR KA CIPANCUR

Sepanjang tahun 1680-an, laju politik di Jawa Barat bergerak dengan sangat dinamis. Cirebon yang semula bermitra dengan Banten, kemudian memilih menjadi negeri...

Bajra Sandhi sebagai Wujud Perjuangan Masyarakat Renon Bali

Indonesia merupakan salah satu negara yang pernah mengalami penjajahan. Tentunya untuk merebut kemerdekaan bukanlah hal yang mudah. Indonesia...

Komentar terkini