Home Lifestyle Urban Strategi Kedai Kopi di Era Pandemi

Strategi Kedai Kopi di Era Pandemi

Di era digital, jumlah kedai kopi lokal di Indonesia meningkat signifikan. Bagai jamur di musim hujan, brand baru bermunculan dan langsung menghadirkan cabang di berbagai kota. Anak muda menjadi sasaran utama para pemilik kedai kopi.

Beragam inovasi diciptakan untuk menarik minat anak muda atau generasi milenial. Para pemilik kedai kopi ini membuat sistem Coffee to Go, yaitu kedai kecil yang menyediakan fresh RTD Coffee dengan harga terjangkau untuk dibawa pulang atau dikenal juga dengan take away. Kehadiran platform ride hailing seperti GoFood dan GrabFood ikut mendorong booming-nya kedai kopi jenis di atas.

Berdasarkan riset, salah satu faktor yang membuat pertumbuhan kedai kopi naik pesat adalah budaya nongkrong sambil ngopi. Terlebih, kedai kopi saat ini hadir dengan tampilan yang Instagramable.

Sama seperti industri kuliner lainnya, kedai kopi pun mengalami persaingan ketat. Para pemilik kedai kopi berburu biji kopi terbaik hingga pelosok Indonesia.

Loyalitas konsumen menjadi prioritas utama. Untuk itu para pemilik jor-joran melakukan promosi baik secara offline maupun online lewat media sosial. Adanya menu baru yang khas juga menjadi cara agar dapat menarik konsumen baru.

Pandemi Covid-19 meluluhlantahkan semua jenis industi, termasuk kuliner. Salah satu industri kuliner yang terdampak virus yang berasal dari Wuhan ini adalah kedai kopi. Saat ini pemilik kedai kopi harus memutar otak untuk mempertahankan kelangsungan hidup usahanya.

Pada awal Maret 2020, Covid-19 dinyatakan masuk ke Indonesia untuk mencegahya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan. Dalam masa sulit tersebut, sejumlah pemilik kedai kopi dipaksa memutar otak untuk mempertahankan eksistensi usahanya.

Berbagai macam cara dilakukan, mulai dari menurunkan harga makanan sampai 20% hingga melakukan menu sharing kopi susu literan dengan berbagai varian rasa. Tidak hanya itu, pemilik kedai kopi mengoptimalkan sistem pemesanan online dan take away. Bahkan, beberapa kedai kopi memberikan promo gratis ongkos kirim.

Kampanye #DiRumahSaja membawa asa pemilik kedai kopi untuk bertahan. Lewat media sosial, menu-menu andalan tetap dapat disajikan. Ada pula kedai juga yang mengandalkan frozen food dan paket kopi.

“Kami cuma bisa menjadi survivor aja. Kami tidak lagi berpikir untuk mencari untung, cukup untuk menjaga cash flow supaya tetap hidup. Profit nanti mungkin bisa kita tingkatkan lagi setelah wabah slowing down,” ujar pemilik Kedai Kopi Smith Muhammad Aga kepada tapak.id.
Terkait omzet, Aga menyebut ada penurunan yang cukup signifikan selama pemberlakuan PSBB.

“Bisa 50-60 % penurunannya,” lanjut pria yang juga pernah jadi juara barista tersebut.

Di era new normal ini, sejumlah kedai kopi kembali buka. Terhitung awal Juni, kedai kopi di wilayah DKI Jakarta beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan.

Pengunjung diwajibkan untuk memakai masker dan menjaga jarak bagi yang ini menikmati kopi dan hidangan lainnya di tempat. Baik pengunjung dan karyawan saat akan masuk terlebih dahulu diukur suhu tubuhnya. Selain itu pemilik kedai kopi harus menyediakan sabun dan tempat cuci tangan.


Meski sudah masuk new normal, pemilik kedai kopi juga diminta untuk membatasi jam operasional. Jam operasional sejumlah kedai kopi di DKI Jakarta sendiri kini dibatasi hingga pukul 20.00.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini