Home Jejak Stasiun Radio Malabar, Tonggak Sejarah Komunikasi Nirkabel Antar Benua

Stasiun Radio Malabar, Tonggak Sejarah Komunikasi Nirkabel Antar Benua

Hallo Bandung. Pada tahun 1920-an, tanda panggil tersebut sangat populer di kalangan para kolonial Belanda yang bermukim di utara kota kembang.

Tanda panggil tersebut pertama kali disiarkan melalui Stasiun Radio Malabar. Stasiun radio yang merupakan stasiun media komunikasi tanpa kabel (nirkabel) antar benua pertama di dunia.

Stasiun radio yang berlokasi di kawasan lembah Gunung Puntang, Cimaung, Kabupaten Bandung, Jawa Barat itu digagas dan dirancang Cornelis Johannes de Groot. Ia merupakan ahli teknik elektro lulusan Technische Hogeschool, Karlsruhe, Jerman.

Sebelum membangun Stasiun Radio Malabar, atas perintah Belanda Groot pernah diminta untuk merancang stasiun telegraf. Karena saat itu komunikasi dari Belanda masih melalui telegram.

Kemampuannya di bidang teknologi informasi yang cukup handal, akhirnya Belanda meminta Groot untuk merancang sistem radio komunikasi di Indonesia yang menghubungkan dua negara. Indonesia (saat itu masih Hinda Belanda-red) dan Belanda.

Stasiun Radio Malabar dianggap sebagai proyek yang sangat ambisius kala itu. Bagaimana tidak, mereka belum pernah mengerjakan proyek radio yang mampu menghubungkan gelombang suara dari Bandung ke Belanda dengan jarak 12 ribu km!.

Nyaris mustahil selain karena jaraknya yang luar biasa jauh, juga minimnya ketersediaan kabel mengingat Perang Dunia I tengah berkecamuk. Satu-satunya jalan adalah dengan menggunakan gelombang suara panjang yang dipancarkan dari stasiun radio.

Groot tentunya punya alasan tersendiri mengapa memilih lereng Gunung Pancar sebagai lokasi pembangunan radio. De Groot berpendapat bahwa Gunung Puntang dan Gunung Halimun yang mengapit ngarai cocok untuk dijadikan dudukan pemancar gelombang radio.

Selanjutnya, guna membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20 kilometer sampai 75 kilometer, digunakan teknologi ‘busur listrik’ untuk pemancar telegraf dan telepon radio, yang membutuhkan tenaga 750 Volts dan daya 1 MA.

Lokasi dan rancangan sudah siap. Langkah selanjutnya dari Groot adalah menyiapkan peralatan pendukung berupa kumparan dan dan trafo. Willem Smit & Co’s Transformatorenfabriek ditunjuk sebagai pemasok kumparan besar dan beberapa trafo.

Sementara generator listrik dipasok oleh Smit Slikkerveer. Sebagai pendukung tenaga listrik, dibangun PLTA Dago, PLTA Plengan dan PLTA Lamadjan, serta PLTU di Dayeuhkolot agar koneksi radio berjalan optimal.

Dibangun sejak 1916, akhirnya Stasiun Radio Malabar diresmikan pada 5 Mei 1923. Gubernur Jenderal Hindia Belanda Dirk Fock meresmikan Stasiun Radio Malabar. Sempat terjadi badai tropis dan kilatan petir, beberapa peralatan di stasiun radio rusak sebelum diresmikan. Terpikir untuk diundur, peresmian akhirnya diteruskan dengan mengirim pesan telegram radio kepada Ratu Belanda.

Dalam ujicobanya, Groot sempat putus asa karena belum ada tanda-tanda Stasiun Radio Malabar berhasil menangkap siaran dari stasiun radio pusat milik Belanda, Stasiun Kootwijk PCG. Keadaan makin diperparah dengan beberapa kali kerusakan fatal alat pemancar dan kecelakaan kerja saat mengganti antena pengganti.

Baru lah pada 18 Januari 1923, suara dari Stasiun Kootwijk (PCG) didengar untuk pertama kalinya di stasiun penerima Radio Malabar.

Pada tahun 2004, situs Cdvandt.org, mencatatkan Stasiun Radio Malabar sebagai “ Worlds most powerful arc transmitter ever” atau pemancar kuno yang paling kuat yang pernah ada di dunia.

sumber: RRI.co.id | infobdg.com | Tirto.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini