Home Lifestyle Kuliner Sidat, Komoditas Andalan Indonesia yang Menjadi Primadona Kuliner di Jepang

Sidat, Komoditas Andalan Indonesia yang Menjadi Primadona Kuliner di Jepang

Sebagai negara maritim, Indonesia bisa dikatakan sukses karena memiliki pasar ekspor yang luas di bidang perikanan. Bahkan di tengah pandemi covid-19, ekspor ikan kita tetap berjalan, bahkan meningkat 9,82% di periode yang sama dari tahun 2019.

Beberapa komoditas ikan dengan tingkat ekspor yang tinggi adalah udang yang merupakan komoditas andalan dan kebanggaan Indonesia. Selain itu, ada pula tuna, cumi, cakalang, dan berbagai produk ikan lainnya.

Namun, tahukah kamu, ada satu komoditas lain di bidang perikanan yang ternyata turut berkontribusi dalam pergerakan ekonomi Indonesia?

Komoditas tersebut adalah sidat. Dibanding komoditas lain seperti udang dan lele, nama sidat mungkin tidak terlalu populer di telinga kita.

Walaupun tidak terlalu populer di negara kita, ternyata ikan ini sangat populer lho di negeri Sakura! Yuk, simak info lebih lengkapnya!

Sidat VS Belut

Meskipun memiliki bentuk yang hampir mirip dengan struktur tubuh yang bulat, memanjang, dan licin, sidat memiliki beberapa perbedaan dengan belut. Sidat memiliki sisik yang berbentuk seperti anyaman dan sirip yang terletak di kepala sehingga mirip seperti daun telinga, sementara belut tidak bersisik dan tidak memiliki sirip.

Berdasarkan habitat hidup, sidat dapat hidup di air tawar maupun air asin, sementara belut membutuhkan media lumpur untuk hidup. Sidat dewasa biasanya tinggal di air tawar dan akan bermigrasi ke laut jika ingin melepaskan telur, sementara belut hanya akan melakukan migrasi apabila tempat awalnya mengalami perubahan suhu dalam jangka panjang.

Banyuwangi dan ekspor sidat ke Jepang

Meskipun tidak terlalu populer di Indonesia, namun berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Indonesia masuk pada peringkat 10 dunia sebagai pengekspor sidat terbesar. Hal ini dapat dilihat berdasarkan data dari tahun 2019 bahwa hasil produksi sidat di Indonesia mencapai 515.18 ton. Angka ini lebih besar 59% dibanding tahun sebelumnya. Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, nilai ekspor sidat mencapai Rp437 miliar sepanjang 2019, dan Rp216 miliar dari Januari hingga Juni 2020.

Popularitas sidat yang meningkat tersebut dipengaruhi karena sidat masuk dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).

Berdasarkan informasi dari PT JAPFA Comfeed Indonesia, sidat dapat hidup di perairan dengan kualitas baik. Banyuwangi memiliki kualitas perairan yang baik sehingga menjadi wilayah ini menjadi wilayah penghasil sidat (oling dalam bahasa yang digunakan masyarakat Banyuwangi) terbesar di Indonesia.

Ekspor perdana sidat dari Banyuwangi yang dilakukan pada Januari 2020 memiliki nilai ekspor hingga Rp13 miliar. Negara yang menjadi target utama ekspor tersebut adalah Jepang.

Sidat, atau dalam bahasa Jepang disebut unagi, merupakan jenis kuliner yang sangat populer. Biasanya makanan ini diolah dengan cara dibakar. Jika kamu pergi ke restoran-restoran di Jepang, terutama pada musim panas, kamu akan menemukan unagi tersaji di sana. Bukan hanya itu, di Jepang bahkan terdapat festival makan sidat yang disebut dengan Do-yo ushi no hi.

Do-yo ushi no hi dan kandungan nilai gizi pada sidat/unagi

Jepang memiliki sebuah kepercayaan yang ditelah diyakini dari zaman Edo bahwa semua makanan yang diawali dari huruf ā€œuā€ sangat baik bagi kesehatan. Oleh karena itu, pengadaan festival unagi kerap dilakukan setiap musim panas di Jepang. Hal ini dikarenakan masyarakat Jepang percaya bahwa unagi dapat menjaga sistem imun tubuh mereka di tengah-tengah cuaca yang panas.

Waktu pelaksanaan Do-yo ushi no hi biasanya berubah-ubah tiap tahun. Hal ini karena jadwal festival tersebut mengikuti penanggalan Jepang.

Terlepas dari kepercayaan tentang makanan berhuruf awal ā€œuā€ tersebut, unagi menjadi primadona kuliner di Jepang karena nilai gizinya yang sangat tinggi.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa ikan ini memiliki kandungan Vitamin, A, E, serta EPA dan DHA yang tinggi. Selain itu, sidat juga memiliki kandungan karbohidrat dan protein serta kandungan omega 3 yang dinilai sangat baik untuk memaksimalkan fungsi otak.

Itulah mengapa permintaan sidat di Jepang selalu meningkat. Indonesia sebagai salah satu negara penghasil sidat terbesar di Indonesia menjadi sasaran impor bagi Jepang.

Nah, sekarang kamu sudah tahu beberapa fakta tentang sidat hingga mengapa ia menjadi primadona kuliner di Jepang. Sebagai negara yang turut berkontribusi menghasilkan komoditas ini, kamu juga harus ikut membantu pemerintah untuk memperkenalkan sidat di kalangan masyarakat kita. Yuk, bagikan artikel ini agar teman-temanmu juga tahu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Carok, Tradisi Duel Sengit dari Madura

Indonesia dikenal sebagai negara multikultural. Negara ini terdiri dari beragam suku bangsa yang masing-masing memiliki kebudayaan yang khas...

Tradisi Unik pada Pernikahan Suku Tidung: Pengantin Dilarang Buang Air Besar

Berbicara tentang suku, budaya, dan tradisi, Indonesia merupakan sebuah wilayah yang sangat kaya akan hal-hal tersebut. Setiap wilayah di Indonesia memiliki budaya...

Misteri Desa Karang Kenek: Kutukan atau Kebetulan?

Jika kita berbicara soal misteri, negara kita pasti selalu masuk daftar negara dengan banyak hal unik serta misteri-misteri yang belum terpecahkan. Beberapa...

Misteri Batu Bleneng di Tol Cipali

Bukan hanya hutan, gunung, laut, jembatan, ternyata jalan tol di Indonesia juga ada yang menyimpan misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan.

Komentar terkini