Home Berita Sejarah Hari Anak Nasional yang Diperingati 23 Juli

Sejarah Hari Anak Nasional yang Diperingati 23 Juli

Masa depan suatu negara bergantung pada generasi mudanya, dalam hal ini anak-anak. Maka negara wajib hadir untuk memberikan hak anak, salah satunya dengan memperingati hari anak nasional.

Di Indonesia Hari Anak Nasional yang diperingati setiap 23 Juli sesuai dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1984 tanggal 19 Juli 1984.

Namun, untuk menentukan tanggal 23 Juli sebagai Hari Anak Nasional seperti saat ini butuh perjalanan panjang.

Dikutip dari Historia.id,sejarah hari anak nasional mulai digaungkan dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani), federasi dari organisasi-organisasi perempuan.

Pada 1951, dalam salah satu sidangnya, Kowani sepakat untuk menyelenggarakan peringatan Hari Kanak-kanak Indonesia. Namun kesepakatan ini hanya secara prinsip, tanpa keputusan penentuan hari dan tanggalnya.

Menurut majalah Rona terbitan 1988, usulan yang masuk waktu itu antara lain tanggal 3 Juli bertepatan dengan Hari Taman Siswa dan 25 November (Rona menyebut 24 November) sebagai hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Kendati tanpa keputusan, tahun berikutnya digelar Pekan Kanak-kanak pada 18 Mei 1952. Baru pada sidang Kowani di Bandung tahun 1953 disetujui penyelenggaraan Pekan Kanak-kanak Indonesia setiap minggu kedua bulan Juli.

Penentuan minggu kedua bulan Juli karena mengambil waktu luang menjelang kenaikan kelas anak-anak sekolah. Keputusan Kowani disetujui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Karena berpatokan pada libur sekolah, penyelenggaraan Pekan Kanak-kanak pun berubah-ubah. Sejak 1956 pekan kanak-kanak diadakan tanggal 1-3 Juli sesuai keputusan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Dalam Kongres Kowani ke-15 di Jakarta pada 18-20 Februari 1970, penentuan tanggal hari anak nasional kembali dibahas.

Kongres memutuskan penetapan Hari Kanak-kanak Nasional harus didiskusikan dengan tiga komponen pendidikan prasekolah, yakni Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI), Gabungan Taman Kanak-kanak Indonesia (GTKI) –kini, Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI)– dan Dinas Pendidikan Prasekolah (Dipras).

Saat digelar lokakarya tentang pendidikan prasekolah dalam rangka Kongres GTKI pada 26-28 Maret 1970 kembali dibahas mengenai tanggal perayaan Hari Anak Nasional. Setelah dibahas, disepakati untuk mengusulkan kepada pemerintah agar tanggal 17 Juni ditetapkan sebagai Hari Kanak-kanak Nasional.

Hari anak nasional juga pernah diperingati bertepatan dengan hari ulang tahun Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno. Pada tahun 1965 puncak perayaan hari anak digelar 6 Juni.

Barulah pada era orde baru hari anak mendapat tanggal yang pasti. Melalui UU Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak yang disahkan pada 23 Juli 1979, akhirnya Hari Anak Nasional ditetapkan pada 23 Juli.

Usulan tanggal tersebut dilemparkan oleh GOPTKI. Dalam keterangan yang tertuang di majala Rona, alasan tanggal tersebut karena memiliki nilai historis dan simbolis. Ditambah lagi tanggal tersebut bersifat nasional sehingga menghindari subyektivitas kelompok.

Berapapun tanggalnya, peringatan Hari Anak Nasional sudah semestinya bukan hanya sebatas seremoni belaka. Hari Anak Nasional harus jadi momentum bagi pemerintah untuk benar-benar memenuhi hak anak Indonesia, terutama di bidang pendidikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini