29.4 C
Indonesia
Thursday, October 21, 2021

TAPAK.id

spot_img

Sejarah dan Filosofi Angklung Bungko Cirebon sebagai Tarian Perang

Angklung Bungko dikenal sebagai salah satu kesenian tradisional khas Cirebon yang berasal dari desa Bungko di Kecamatan Kapetakan, Cirebon. Instrumen yang digunakan terdiri dari gendang, tutukan, klenong dan gong.

Dilansir dari disparbud.jabarprov.go.id sebenarnya Angklung Bungko merupakan kesenian musik dan tarian perang. Bungko sendiri merupakan sebuah desa yang terletak di pinggir pantai dan sebagian besar masyarakatnya bermata pencarian sebagai nelayan. Dari desa itulah “Angklung Bungko” lahir. Alat musik utama yang digunakan dalam kesenian ini adalah angklung yang bentuknya juga hampir mirip dengan angklung Sunda masa kini.

Awalnya Angklung Bungko merupakan jenis musik ritmis yang menggunakan media kentongan (kohkol) yang terbuat dari potongan ruas bambu. Angklung Bungko terdiri dari tiga buah dan dipercaya sudah berumur 600 tahun. Meski sudah tidak lagi bernada dan tidak digunakan, alat musik ini tetap harus tetap ada dalam setiap pagelaran yang diadakan. Sedangkan, waditra (Instrumen) lainnya terdiri dari tiga buah ketuk, sebuah gong besar, dan sebuah kendang besar.

Sejarah dan Makna Kesenian Angklung Bungko

Angklung Bungko diperkirakan lahir menjelang abad ke-17 atau setelah wafatnya Sunan Gunung Jati. Konon, kesenian ini lahir secara kolektif yang tercipta atas dasar luapan emosi kegembiraan setelah mereka memenangkan perang (tawuran) melawan pasukan Pangeran Pekik (Ki Ageng Petakan).

“Tawuran” (pertempuran) tersebut merupakan akibat dari perbedaan pendapat mengenai prinsip-prinsip ajaran Islam yang diajarkan Sunan Gunung Jati. Karena itu, gerakan-gerakan tari dalam kesenian Angklung Bungko kurang lebih menggambarkan peperangan yang terjadi saat mereka mematahkan serangan pasukan Pangeran Pekik.

Busana dan Gerakan Tarian Angklung Bungko

Semua penari yang tampil dalam kesenian Angklung Bungko adalah laki-laki yang menggunakan ikat kepala batik, baju putih, keris, kain batik, serta sodér.

Meskipun kesenian ini identikan dengan tawuran (pertempuran), namun tariannya cenderung dibawakan dengan sangat halus dan statis sehingga memberikan kesan tenang, tapi dengan raut muka menunjukkan ketegangan.

Sedangkan untuk iringannya kadang terdengar bergemuruh. Hal ini tentu untuk memberi kesan seperti orang yang sedang bersiap berangkat ke medan perang.

Jenis Tarian Angklung Bungko

Terdapat empat jenis tarian dalam kesenian Angklung Bungko, diantaranya;

1. Panji,menggambarkan sikap berzikir.

2. Benteleye, menggambarkan sikap bertindak dalam menghadapi rintangan di perjalanan.

3. Bebek ngoyor, menggambarkan jerih payah dalam upaya untuk mencapai tujuan.

4. Ayam alas, menggambarkan kelincahan dalam mencari sasaran pemilih.

Atas gagasan Syeh Benting atau Ki Gede Bungko, kesenian Angklung Bungko tetap dipertahankan dan dimanfaatkan untuk menyebarkan agama Islam. Ki Ageng Bungko (Ki Puyunan) juga dianggap sebagai panutan yang berjiwa egaliter dan banyak jasa semasa hidupnya.

Kini beliau seolah-olah menjadi simbol kehebatan bagi masyarakat Bungko. Karena itulah, untuk mengenang jasa-jasa leluhurnya, masyarakat mengimplementasikannya dalam upacara ritual adat yang dikenal dengan Ngunjung.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

20,753FansSuka
2,990PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles