Sebelum dan Sesudah Teknologi Smartphone

0
141
Ilustrasi kecanduan smartphone by newindianexpress

Penulis : Liana

Hampir semua orang dewasa saat ini menggunakan smartphone. Bukan hanya masyarakat perkotaan, pengguna smartphone kini sudah menembus diberbagai lapisan masyarakat. Mengutip dari website kominfo.go.id sebuah data mencatat pada tahun 2018 pengguna smartphone di Indonesia bisa mencapai lebih dari 100 juta pengguna. Memang tidak dipungkiri lagi, semua profesi baik itu seorang pekerja ataupun pelajar pasti membutuhkan smartphone untuk mendukung kegiatan sehari-hari. Alih-alih kata “mendukung” ,ternyata tidak sedikit orang yang justru malah terkendali dengan teknologi yang satu ini.

Sebelumnya, teman-teman wajib tahu nih. Ternyata, wujud smartphone sebelum seperti sekarang ini mengalami beberapa kali evolusi dari segi bentuk, dan fiturnya. Jauh sebelum ada sistem android, IOS, bahkan blackberry. Ada yang namanya IBM Simon Personal Communicator yang diluncurkan ke publik pada tahun 1994. Dijual dengan harga yang cukup tinggi yaitu sekitar 12 juta an, sepertinya cukup sepadan dengan fitur yang cukup canggih pada masanya. IBM Simon memiliki fitur mengirim pesan singkat, kalender digital, note, dan bisa berkirim email, serrta dilengkapi stylus pen. Tapi sayangnya, IBM Simon hanya ber tahan selama dua bulan di pasaran karena ketahanan baterai yang hanya bisa bertahan selama 60 menit saja. Dibalik kekurangannya, IBM Simon adalah sebuah benda yang menjadi cikal-bakal pertama pengembangan teknologi smartphone.

 Trial error para pengembang smartphone sampai masa ini, ternyata membuahkan hasil yang menakjubkan. Kita setuju ya teman-teman, fitur smartphone saat ini memang memudahkan kita dalam segala hal. Berkirim pesan, belanja online, sampai fitur hiburan yang seru kadang membuat kita lupa diri.

Kita tidak bisa menutup mata, semua perubahan akibat smartphone sering kita temukan sehari-hari. Baik itu perubahan positif ataupun negatif. Berikut mungkin hal yang paling sering terjadi akibat penggunaan smartphone.

Kehidupan Sosial

Apakah teman-teman menyadari? Kehidupan sosial dulu sebelum ada smartphone dibandingkan sekarang jauh berbeda. Kalau dahulu, setiap Minggu pagi kita selalu kumpul keluarga di ruang tamu untuk nonton televisi dan saling berbagi cerita, tapi kini sepertinya hal itu jarang dilakukan. Kita lebih asyik mengurung diri di kamar masing-masing dengan berbagai aktivitas di smartphone. Belum lagi kita sering melihat pemandangan sekelompok orang yang berkumpul, tapi mereka tidak bicara satu sama lain, melainkan sibuk dengan smartphone mereka masing-masing. Apakah ini yang dimaksud new normal?

Konsumtif

Salah satu aktivitas yang paling digemari saat bermain smartphone adalah berseluncur di sosial media. Banyak konten di sosial media yang bisa kita pilih sesuai dengan minat kita masing-masing. Untuk kaum hawa, konten kecantikan biasanya yang paling diminati. Gak cuma melihat tutorial, tapi banyak anak muda yang saat ini merasa “teracuni” dengan review produk kecantikan. Sampai banyak yang mengaku mereka tidak punya tabungan karena selalu membeli kosmetik mahal. Ya! Kalau dahulu promosi produk hanya sebatas media televisi, majalah, atau radio saja, kini tidak dipungkiri berkat smartphone dan gencarnya media promosi online tidak jarang mempengaruhi kita menjadi lebih konsumtif.  Ini bukan salah medianya, tapi kita yang belum cerdas secara emosional untuk membedakan mana kebutuhan yg memang perlu dibeli atau tidak.

Produktivitas Terganggu

Ngaku ajadeh, siapa yang sedang deadline tapi masih sempat check smartphone untuk lihat notifikasi atau tergiur membalas group chat? Atau teman-teman pernah merasakan, bahwa dahulu selalu betah berlama-lama membaca buku tapi kok sekarang rasanya buku bukan lagi jadi benda yang menarik, ya? Semenjak ada smartphone tidak dipungkiri, fokus dengan kerjaan memang hal yang sulit dilakukan.  Akibatnya produktivitas terganggu dan hasil kerja kamu tidak maksimal. Kalau sudah begini, masih mau salahin smartphone nya?

Mempengaruhi Sikap Mental

Kalau dahulu sebelum ada smartphone kayaknya kita lebih hati-hati dalam berbicara, karena kita langsung bertatap muka dan saling menjaga perasaan.  Sampai kalau kita punya salah saja, harus kirim-kiriman surat untuk sekedar minta maaf. Apakah teman-teman pernah mengalami drama seperti ini? Rasanya sekarang berbeda, saat ada smartphone tidak sedikit merubah sikap mental kita. Salah efeknya menjadi lebih mudah mengkritisi orang, bukan berarti komunikasi via smartphone yang tidak bertatap muka lantas kita jadi minim empati dan tidak menjaga perasaan orang ya teman-teman. Belum lagi banyak dari kita yang mudah sekali terpengaruh dengan provokasi berita-berita yang memecah belah antar kelompok. Miris sekali rasanya.

Memang ada banyak manfaat smartphone yang bisa memudahkan kehidupan kita. Tapi jangan tutup mata bahkan sampai tidak menyadari, jangan-jangan kita sudah merasakan dampak negatif seperti itu?

Yuk, gunakan smartphone seperlunya saja. Kita harus punya kendali penuh terhadap sikap, perilaku, dan juga respon saat menggunakan smartphone. Bijaklah menggunakannya, jangan sampai smartphone yang mengendalikan kehidupan kita. Karena dunia ini lebih luas dan lebih bermakna daripada layar smartphone semata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here