Home Jejak Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa situs bersejarah yang ternyata masih terabaikan dan belum masuk sebagai cagar budaya. Salah satunya adalah Rumah Multatuli.

Multatuli sendiri merupakan nama pena dari Edward Douwes Dekker. Ia merupakan seorang berkebangsaan Belanda yang menjadi asisten residen Lebak yang tinggal di Rangkasbitung tahun 1856. Selama tinggal di Rangkasbitung, ia mengalami berbagai kejadian menarik. Hal tersebut menginspirasinya untuk menulis sebuah novel Max Havelaar yang terbit pada 1860.

Novel tersebut berisi tentang kritik terhadap perlakuan pemerintah Hindia Belanda terhadap masyarakat Indonesia. Hingga saat ini, novel karya sang penulis sekaligus dramawan tersebut masih populer dan terus dicetak.

Mengingat karya besarnya tersebut, beberapa produser ternama dunia juga sempat merilis film pendek tentang Multatuli. Bukan hanya dunia internasional, karya-karyanya juga dinikmati oleh masyarakat Indonesia hingga sekarang.

Kediaman Multatuli di Rangkasbitung, Lebak, Banten, juga menjadi sebuah daya tarik bagi para penikmat cerita sejarah dan sastra. Namun sayang, bekas rumah Multatuli saat ini seolah tidak terawat. Padahal ia memiliki jasa yang besar bagi bangsa kita, yakni membongkar kekejaman pemerintah Hindia Belanda.

Jika kamu penasaran bagaimana keadaan rumah Multatuli saat ini, yuk, kepoin artikel di bawah ini!

Keadaan rumah Multatuli saat ini

Bekas kediaman sang pemilik tinta emas yang mengubah paradigma tentang praktik kolonialisme tersebut bisa dikatakan tidak terawat dan cukup memprihatinkan. Tempat ini

Bangunan bekas rumah Multatuli ini berada di antara gedung utama RSUD Dr Adjidarmo dan kamar jenazah. Posisi ini membuatnya hanya dapat diakses melalui gedung utama rumah sakit.

Rumah Multatuli sendiri sudah berstatus sebagai cagar budaya dan berada di bawah pengelolaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pemkab Lebak. Namun, jika dilihat dari luar, bangunan seluas 121 meter ini terlihat sudah sangat kusam dan tidak terawat.

Bangunan bekas rumah Multatuli tidak memiliki pintu lagi. kaca-kaca nako mulai lepas yang membuat jendelanya tidak lagi utuh, bahkan sebagian besar cat temboknya sudah mengelupas. Dari bagian dalam rumah ini, kita dapat melihat langit-langit rumah yang sudah bocor dihinggapi kelelawar.

Alih fungsi rumah Multatuli

Setelah ditinggalkan oleh Multatuli, bekas kediamannya itu mengalami alih fungsi beberapa kali. Sekitar tahun 1850-an, rumah Multatuli dijadikan sebagai markas tentara. Kemudian beralih fungsi menjadi bagian dari ruangan rumah sakit pada 1987.

Pada tahun 2000, bangunan tua tersebut difungsikan sebagai apotek. Berlanjut di tahun 2007, rumah Multatuli dijadikan sebagai gudang pembangunan RSUD Dr Adjidarmo.

Museum Multatuli

Museum Multatuli terletak di kawasan alun-alun Kota Rangkasbitung. Banyak orang yang berpikir bahwa Museum Multatuli dan rumah bekas kediaman Multatuli adalah bangunan yang sama. Padahal, rumah bekas kediaman sang penulis ini sudah dijadikan sebagai cagar budaya, sementara Museum Multatuli dijadikan sebagai tempat pameran karya dan informasi-informasi tentang Multatuli beserta masa-masa kolonialisme di daerah Lebak.

Museum Multatuli merupakan bangunan bekas Kawedanaan Rangkas Bitung. Sejatinya, Museum Multatuli telah didirikan di Amsterdam. Museum yang berada di Rangkasbitung tidak ada kaitannya dengan yang ada di Belanda. Walaupun demikian, terdapat beberapa hibah dari Museum Multatuli di Belanda yang diberikan kepada pemerintah daerah Lebak.

Jika kamu ingin mengenal Multatuli lebih dalam, peninggalan, serta karya-karyanya, kamu dapat berjalan-jalan ke rumah Multatuli. Setelah itu, jangan lupa berkunjung ke Museum Multatuli. Kedua tempat ini berada di daerah Rangkasbitung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini