22.6 C
Indonesia
Thursday, December 2, 2021

TAPAK.id

spot_img

Residen Cirebon Di Kabupaten Kuningan

Pemerintahan Republik Indonesia yang belum genap berusia 2 tahun terhenyak. Sejumlah wilayah perkotaan yang strategis telah dianeksasi oleh Belanda. Aksi yang dimulai sejak tanggal 21 Juli 1947 itu kemudian dikenal sebagai Agresi Militer Pertama Belanda di Indonesia.

Dalam buku Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Jawa Barat, Ekadjati mengungkapkan, “Pada awal serangannya, Belanda dapat menguasai secara penuh wilayah Jakarta dan selanjutnya dengan mudah membobol garis-garis pertahanan Divisi Siliwangi yang ada di kawasan Jawa Barat.”

Akibat gerak pasukan Belanda tersebut, jalur hubungan darat di wilayah Jawa Barat dapat dikuasai secara penuh oleh Belanda dan dengan mudahnya berhasil menduduki kota-kota penting, seperti Bogor, Sukabumi (termasuk Pelabuhan Ratu), Cianjur, Bandung, Sumedang, dan Cirebon.

“Sementara itu, karena terdesak oleh Belanda, pada akhirnya pasukan Divisi Siliwangi bergerak mundur ke hutan-hutan dan pegunungan. Di Priangan timur, mereka bergerak di pedalaman dataran tinggi dekat daerah Jawa Tengah,” ujar Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia.

Tidak hanya kelompok tentara, masyarakat sipil yang bekerja di bidang pemerintahan pun turut mengungsi akibat perang tersebut. Salah satunya adalah pemerintahan Karesidenan Cirebon yang memindahkan kedudukannya ke kawasan perbukitan Ciwaru di tenggara Kuningan.

Rombongan abdi negara dari kawasan pesisir itu dipimpin oleh Hamdani, yang tengah menjabat sebagai Residen di Cirebon. Ia mengungsi melewati banyak desa yang masih lebat dengan hutan bersama administrator negara beserta anggota keluarga yang dapat dibawa.

Di Ciwaru, Residen Hamdani berusaha menjaga kedudukannya yang rentan. Sebab, dinamika perjuangan dan pergerakan pada masa itu sangat radikal. Terdapat banyak kelompok yang bergerak tanpa koordinasi dan bertindak secara otonom, sehingga kadang eksistensinya malah membahayakan.

Meski demikian, Residen Hamdani dapat menjaga kedudukannya sebagai wakil Republik Indonesia hingga tahun 1950. Hal itu tidak hanya menunjukkan perjuangan bangsa Indonesia yang tidak pernah surut, namun juga menegaskan bahwa Indonesia masih ada sebagai negara yang merdeka.

Untuk semua pejuang Indonesia yang berupaya memerdekakan negeri ini, lahum al fatihah

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

20,753FansSuka
3,042PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles