Home Jejak Artefak Rasi Bintang Hubungkan Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon

Rasi Bintang Hubungkan Candi Borobudur, Mendut, dan Pawon

Candi Borobudur bersama Candi Pawon dan Candi Mendut merupakan karya arsitektur termegah pada zamannya, termasuk hingga saat ini. Ketiga candi tersebut, terutama Borobudur dibangun dengan rancangan yang rumit namun detail.

Salah satu yang menjadi ciri khas dalam pembangunan candi-candi yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini adalah berpatokan pada rasi bintang.

Dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) ‘Penguatan Story Telling Pada Paket Wisata di Kawasan Candi Borobudur’, Asisten Pengajar dari UGM Yogyakarta, Lui Buana, mengatakan bahwa hal ini merupakan keunikan yang perlu digali untuk pengembangan potensi wisata di ketiga candi ke depan.

“Ini yang membuat Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Pawon istimewa. Zaman dulu kan belum ada teleskop. Belum ada Arkeoastronomi. Tapi pembangunan candi tadi sudah mengikuti ilmu astronomi,” seperti dikutip dari Detik.com.

Dikutip dari Borobudurnews.com, ahli astronomi menyebut kesegarisan Borobudur-Pawon-Mendut ini terkait dengan tiga bintang di rasi bintang Orion yang dinamai Alnitak-Alnilam-Mintaka.

Garis lurus yang menghubungkan Alnitak-Alnilam-Mintaka juga miring seperti garis yang menghubungkan Borobudur-Pawon-Mendut. Saat Orion berada di atas kepala, posisi kemiringan garis ketiga bintang itu mirip dengan kemiringan garis Borobudur-Pawon-Mendut.

Pembangunan candi tersebut berpatokan pada astronomi ditegaskan dalam relief yang terdapat pada Candi Borobudur. Dalam relief tersebut terdapat ukiran yang diyakini sebagai matahari, bulan sabit, dan tujuh bintang.

Menurut ahli Etnoastronomi, Widya Sawitar, istilah bintang tujuh mengacu pada bintang biduk atau rasi Ursa Mayor. Rasi Ursa Mayor terlihat sebagai tujuh bintang terang di belahan bumi utara. Rasi ini sejak zaman dahulu dijadikan pedoman pelaut saat berlayar di malam hari.

Selain sebagai patokan membangun Candi, rasi bintang orion juga digunakan masyarakat pada Jawa sebagai penanda musim tani yang bertahan hingga sekarang.

“Dalam masa sekarang yang mengikuti pergerakan rasi manakala akan mengerjakan pertanian. Sehingga sabuk bintang orion menjadikan tanda kapan siap-siap membajak sawah,” ujar Agus Aris Munandar dalam video yang diunggah channel Youtube Mazzeup berjudul Orion Candida.

Menggunakan rasi bintang sebagai patokan pembangunan candi, menandakan nenek moyang bangsa Indonesia memiliki kemampuan ilmu astronomi yang sangat tinggi meski belum ada teknologi canggih seperti teleskop yang ada pada masa ini.

Selain itu, masih terlihatnya rasi bintang dengan jelas menandakan saat itu Pulau Jawa masih asri, jauh dari polusi, terutama polusi cahaya seperti sekarang yang mengakibatkan bintang di langit Jawa tidak nampak jelas terlihat.

sumber: detik.com | borobudurnews.com | Jogjauncover.blogspot.com | Mazzeup.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini