Home Jejak Perwalian Kekuasaan Putra Wiralodra

Perwalian Kekuasaan Putra Wiralodra

F. C. Hasselaer adalah salah seorang pejabat VOC yang selanjutnya berposisi sebagai Residen Cirebon. Dalam memorinya yang berangka tahun 1765, pejabat yang telah habis masa kepemimpinannya tersebut bercerita tentang kondisi wilayah di seantero Karesidenan Cirebon pada saat ia tengah menjabat. Salah satu daerah yang dilaporkannya itu adalah Indramayu.

Pada saat itu, Indramayu tidak dipimpin oleh seorang Wiralodra (ataupun keturunannya) yang sah dan dewasa, melainkan dikelola oleh dua orang lain yang bernama Tanujiwa dan Wirantaka. Keduanya menjadi kepala “perwalian” lokal karena putra Ngabehi Wiralodra yang telah wafat sebelumnya masih sangat kecil. Ia dianggap belum aqil baligh dan tidak dapat memutuskan perkara kepemimpinan dengan matang.

Mengenai dua tokoh yang jadi wali putra Wiralodra ini, Babad Dermayu tahun 1900 (BD 1900) dan Sejarah Indramayu tahun 1977 (SI 1977) mengutip nama keduanya namun dengan kondisi waktu yang berlainan. BD 1900 dan SI 1977 menceritakan bahwa Tanujiwa adalah saudara dari Wiralodra I yang berasal dari Bagelen. Jika demikian, sosok ini dapat dikatakan eksis sebelum abad ke-18 mengingat Wiralodra I hidup di zaman itu. Kecil kemungkinan jika dua nama Tanujiwa ini adalah orang yang sama.

Sedangkan nama Wirantaka, dalam BD 1900, dikatakan sebagai anak dari Wiralodra II namun bukan berasal dari permaisuri sehingga ia tak pantas mewarisi tahta sang ayah. Yang menjadi Wiralodra III dalam babad itu adalah saudaranya: Raden Sawerdi. Nama Wirantaka dalam BD 1900 ini memiliki kemungkinan sebagai orang yang dimaksud oleh Hasselaer karena hidup dalam kurun waktu yang bersamaan dengan dirinya. Dalam hal ini, namanya lebih logis sebagai nama yang dimaksudkan oleh sang residen.

Meski demikian, narasi itu belum dapat dipastikan mengingat bukti yang dibaca baru satu sumber berikut: Memorie van Pieter Cornelis Hasselaar. Masih banyak catatan sezaman lain yang mesti dikupas untuk mengungkap sosok-sosok pemimpin daerah tersebut. Catatan dari keluarga (jika ada), juga merupakan khazanah extra yang bisa dikomparasikan kandungan nilai historisnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini