Home Jejak Artefak Pedang dan Golok Cikeruh

Pedang dan Golok Cikeruh

Penulis : Tendi

Sejak zaman pra-Islam, tanah Pasundan memang telah menjadi tempat bersemainya para ahli metalurgi. Perkembangan itu tidak hanya karena adanya dukungan kandungan geologi alamnya yang mumpuni, namun juga disokong oleh eksistensi kekuasaan beberapa kerajaan. Sejumlah tradisi tertulis dan toponym yang ada, turut menguatkan pendapat tersebut.

Naskah Sejarah Empu Tanah Jawa yang disalin Mas Sardama Sastraredja pada tahun 1806 mengungkapkan bahwa Galuh dan Pajajaran memiliki empu-empu yang hebat pada masa kejayaannya. Nama-nama seperti Windusarpa, Andayasangkala, dan Anjani, disebutkan sebagai tokoh-tokoh yang handal dalam pengolahan logam di wilayah Pasundan.

Suksesor Pajajaran di bagian timur, Cirebon, juga memiliki tradisi yang kental dengan bidang olah logam. Dalam Manuskrip Carang Satus yang digarap TD. Sudjana dinyatakan bahwa sejumlah senjata telah diproduksi di zaman Sinuwun Jati. “Empu Domas ingkang ajir,” tegas penulis naskah yang mengungkapkan bahwa Empu Domas adalah pande penting Cirebon.

Di Banten, penerus lain genealogi kekuasaan Pajajaran, memunculkan banyak nama empu yang juga tak kalah hebatnya. Salah satu yang paling legendaris disana adalah Ki Cenguk yang diyakini dalam tradisi lokal masyarakat Banten sebagai empu pertama yang membuat golok Ciomas dengan menggunakan ghodam si Denok yang diberikan oleh Sultan Banten.

Pengrajin Senjata Cikeruh

Beratus tahun setelahnya, kawasan Jawa bagian barat terus memunculkan tokoh-tokoh hebat dalam proses pembuatan senjata tersebut. Satu di antaranya adalah Empu Adimadja, seorang pande besi senjata tradisional yang kelak menurunkan para pembuat senjata terkenal di Cikeruh, Sumedang. Empu Adimadja sendiri diyakini sebagai salah seorang keturunan Kerajaan Sumedang sehingga dalam nadinya masih mengalir darah bangsawan.

Pada sekitar tahun 1881, cucu Empu Adimadja yaitu Empu Kartadimadja mulai merintis kembali usaha yang pernah digeluti oleh kakeknya dahulu. Dalam beberapa tahun, usahanya berkembang dengan pesat dan Cikeruh masyhur sebagai pusat pembuatan senjata. “De desa’s Tjikeroeh en Tjisoerat in de afdeeling Soemedang hebben de renommee van het smeden van wapens, als kapmessen (bèdog of golok) en houwers (gobang),” tulis Java-Bode bertanggal 07-10-1896.

Setahun setelah perintisan, Tanudimadja, saudara Kartadimadja, turut bergabung dalam usaha pembuatan senjata tersebut. Kolaborasi itu menghasilkan barang-barang yang sangat laku di pasaran. Reputasi yang baik di tengah para pecinta senjata tajam pun segera menghampiri usaha kedua bersaudara Cikeruh tersebut.

Perang yang berkecamuk di Aceh amat sangat menyulitkan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Beberapa tindakan yang mereka lakukan sejak awal perang di tahun 1873, tidak jua menghancurkan semangat mereka. Konon, kerugian Belanda mencapai 115 juta florin. Salah satu solusi yang mereka ambil untuk masalah ini adalah pembentukan Korps Marechaussee te Voet dengan senjata klewang produksi Kartadimadja sebagai andalannya.

Usaha pembuatan senjata ini terus berlanjut dan diteruskan oleh para keturunannya sehingga nama Cikeruh menjadi masyhur sebagai penghasil senjata-senjata yang mumpuni bagi para pemesannya. Pada tahun 1941, Wijnand Kerkhoff pernah mengabadikan kegiatan dan toko milik pengrajin senjata Cikeruh tersebut dalam citra foto sehingga perjalanan pande besi Cikeruh hingga akhir masa kolonial masih dapat terlacak.

Senjata Cikeruh dan Asimilasi Budaya

Keunikan hasil kerajinan tangan para pande dan maranggi Cikeruh adalah keunggulan tersendiri yang menjadi daya tarik usaha mereka kepada para calon pemesan. Selain dapat membuat senjata berbentuk golok tradisional, pengrajin Cikeruh dapat pula membuat pedang yang bergaya Eropa. Bahkan lebih dari itu, mereka dapat menyatukan gaya tradisional dan Barat di dalam bilah-bilah yang mereka produksi.

Sejak lama, golok tradisional Cikeruh telah memiliki citra yang istimewa di mata para pecinta senjata. Golok dengan gaya khas daerah Priangan, ditempa dengan baik oleh para pande Cikeruh. Maranggi disana, melengkapi bilah berkualitas itu dengan pembuatan gagang dan sarung yang indah dengan ukiran-ukiran khas yang dipenuhi oleh unsur-unsur lokalitas masyarakat Pasundan. Para pengrajin Cikeruh berhasil mewariskan keahlian metalurgi mereka kepada keturunannya dengan baik, seperti halnya Adimadja kepada Kartadimadja.

Sedangkan keahlian pande Cikeruh dalam mengadopsi model Eropa terjadi setelah Mas Kartadimadja mendapat kesempatan mengikuti pameran (senjata) di Paris, Perancis. “Ook de krissen en messen van Tjikeroeh zouden goed paradeeren op de Parijsche tentoonstelling,” catat Java-Bode bertanggal 06-12-1897. Tampaknya ia banyak belajar akan gaya dan model senjata Eropa ketika melakukan perjalanan ke Eropa tersebut.

Setelah pameran di Eropa dan kembali ke Cikeruh, Kartadimadja mengembangkan karyanya yang bergaya Eropa. Para pejabat kolonial di Bandung, adalah orang-orang yang pertama kali tertarik akan hasil kerja Kartadimadja tersebut. Pesanan pedang dengan model Eropa terus berdatangan karena Bandung semakin ramai dengan orang Eropa yang berdatangan ke kota yang diproyeksikan sebagai ibukota Hindia Belanda tersebut. Bahkan, Departement van Oorlog (Departemen Peperangan) telah dimulai dipindahkan kesana sejak tahun 1908.

Di samping pembuatan golok tradisional dan pedang bergaya Eropa, tak jarang pengrajin Cikeruh memodifikasi bilah buatannya dengan menghadirkan kedua gaya tersebut secara bersamaan. Sehingga tidak mengherankan apabila sekarang kita kadang melihat bilah wesi aji berbentuk Suduk Maru yang bersandangan sarung berukiran logam dan memiliki gagang yang ber-guard. Atau ada pula pedang melengkung khas saber yang ternyata memiliki kepala handle Si Tumang meskipun dihiasi cross-guard yang kuat. Sungguh asimilasi budaya yang sangat menarik!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini