Home Jejak Pakubuwono X, Pemilik Mobil Pertama di Indonesia

Pakubuwono X, Pemilik Mobil Pertama di Indonesia

Pada akhir 2018, lembaga survey Tom Tom Traffict Index mengeluarkan daftar negara termacet di dunia. Indonesia berada masuk 10 besar dengan berada di peringkat ketujuh.

Banyaknya kendaraan pridadi yang tidak disertai pelebaran ruas jalan, menjadi salah satu penyebab Indonesia termasuk 10 besar negara termacet di dunia. Dari data yang dirilis BPS, mobil penumpang pada 2018 tercatat sebanyak 16.440.987 unit. Tentu jumlah tersebut terus bertambah sampai saat ini.

Namun pernahkah terlintas siapa pemilik mobil pertama di Indonesia?

Berdasarkan catatan sejarah, Pakubuwono X, raja dari Kasultanan Surakarta merupakan pemilik mobil pertama di tanah air. Pada tahun 1894, Pakubuwono X membeli sebuah mobil dengan merek Mercedes-Benz Victoria Phaeton yang didatangkan langsung dari Jerman. Dikutip dari Liputan6.com, Raja Surakarta itu membeli Victoria Phaeton dengan harga 10 ribu gulden.

Info dari Masinis Asal Inggris

Ketertarikan Pakubowono X memiliki mobil berawal dari pertemuannya dengan masinis asal Inggris yaitu John C. Potter. Potter datang ke Indonesia membawa sepeda motor dari Jerman pada tahun 1883.

Saat itu para bangsawan Nusantara menggunakan kereta kuda sebagai kendaraan dan penanda status sosial kalangan ningrat. Pakubowono yang ingin terlihat berbeda dan mewah pun mendapatkan informasi bahwa di tahun 1885, sebuah pabrikan otomotif Jerman akan memproduksi mobil untuk pertama kalinya di dunia.

Pakubuwono X lalu meminta Potter membelikan mobil yang dikenal dengan nama Benz Phaeton. Perlu waktu satu tahun agar mobil pabrikan Eropa itu sampai ke tangan Pakubuwono X.

Dikutip dari Goodnewsfromindonesia.id, mobil milik Pakubuwono X ini memiliki mesin satu silinder berkapasitas 2.000 cc dan bertenaga 5 horse power.

Meski terkesan mewah, ban Victoria Phaeton masih menggunakan roda kayu, hebatnya meski beroda kayu, mobil ini bisa menampung hingga delapan orang. Oleh masyarakat, mobil milik Pakubuwono X dijuluki sebagai kereta setan. Pasalnya, kereta ini bisa berjalan tanpa ditarik kuda.

Hilang Saat Dipinjam Belanda

Pada tahun 1924, Belanda meminjam mobil milik Pakubuwono X itu untuk dipamerkan pada sebuah acara pameran mobil. Belanda mengirimkan mobil tersebut ke negaranya melalui kapal laut di pelabuhan di Semarang, Jawa Tengah.

Kedatangan Jepang ke Indonesia mebuat nasib mobil tersebut terkatung-katung dan tak jelas. Pasalnya, Belanda tidak pernah lagi membawa pulang Benz Victoria Phaeton.

Setelah puluhan tahun menghilang, mobil itu diketahui berada di sebuah museum di Den Haag, Belanda. Namun tidak diketahui pasti apakah mobil yang dipajang di sana merupakan mobil yang dulunya milik Pakubuwono X atau bukan.

Yang pasti, pembelian Victoria Phaeton oleh Pakubuwono X membuat raja-raja dan kalangan ningrat tanah air berbondong-bondong membeli mobil.

Kanjeng Raden Sosrodiningrat, yang membeli sebuah mobil Daimler. Kabar burung beredar, PB X tidak mau kalah gengsi dengan gubernur jenderal di Batavia yang memiliki mobil sejenis. Berturut-turut, Bupati Brebes Raden Mas Ario Tjondro pada 1904 hingga Sultan Ternate pada 1913 mulai membeli mobil lain.

sumber: merdeka.com | Goodnewsfromindonesia.id | detik.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini