Otak Semar Jadi Tumbal Negara Krisis

1
358

Oleh Fuji

Suatu ketika diceritakan Negara Hastinapura yang dipimpin Raja Duryodana sedang menghadapi krisis. Terjadi bencana alam, wabah penyakit menyebar, ekonomi terpuruk, tingkat kejahatan dan korupsi meningkat di Hastinapura.

Resi Bisma sebagai sesepuh yang bijaksana dan berilmu tinggi di Hastinapura memberi tahu Duryodana dan Sangkuni agar mengurus negara dengan baik. Tegakan hukum dengan seadil-adilnya dan tidak tebang pilih. Koruptor harus dihukum secara tegas dan jabatan diberikan kepada orang yang ahlinya, bukan ke orang-orang dekat alias oligarki.

Namun saran Resi Bisma tidak didengar para pejabat negara. Duryodana malah mendengarkan saran Resi Dorna dan muridnya dari golongan jin yang sakti.

Jin sakti ini menyarankan agar Raja Duryodana membuat tumbal otak manusia yang paling tua bernama Semar dari Negara Amarta yang berada di bawah kekuasaan Pandawa Lima. Otak Semar dijadikan tumbal di pusat kota supaya krisis di Negara Hastinapura terselesaikan.

Akhirnya pasukan Hastinapura mengempur Semar untuk dibunuh dan diambil otaknya guna dijadikan tumbal.

Kisah ini diceritakan dalam pagelaran wayang golek dengan lakon ‘Bambang Pawana Aji’ yang dibawakan Dalang Asep Sunandar Sunarya.

Diceritakan Anoman Perbancana Suta melihat hakikat dari peristiwa ini. Menurut Anoman, otak Semar harus dijadikan tumbal negara artinya para pejabat, elit dan masyarakat harus memiliki pola pikir Semar. Artinya harus meneladani sikap dan pikiran Semar. Maksudnya bukan membunuh dan mengambil otak Semar.

Dikatakan Anoman, membuat tumbal dari otak orang yang paling tua. Artinya pejabat, elit dan masyarakat harus seperti orang tua, yakni menjadi dewasa.

Kehidupan Semar juga sederhana, tenggang rasa, sopan, jujur dan tidak sombong. Artinya Semar tidak hubbud dunya atau cinta dunia yang berlebihan. Kalau para pejabat, elit dan masyarakat sudah bisa sederhana, tenggang rasa, sopan, jujur dan tidak sombong, maka negara akan aman.

Menurut Anoman, Semar tetap sabar meski dianiaya orang lain, hatinya tidak mudah terluka oleh sikap jahat orang lain. Wajah Semar berwarna putih, merupakan gambaran hati yang bersih. Orang yang hatinya bersih sudah pasti memiliki budi pekerti yang baik.

Tubuh Semar berwarna hitam. Artinya gambaran manusia yang sudah banyak pengalaman hidup di dunia, sehingga matang pengalaman dan ilmunya. Sudah banyak pengalaman terkena panasnya siang dan dinginnya malam, artinya banyak pengalaman suka dan duka.

Anoman menjelaskan lagi, Semar tidak mengenakan baju. Artinya Semar tidak merasa memiliki harta dan ilmu, karena baginya semua harta termasuk ilmu adalah titipan dari Allah. Semar tawakal atau pasrah diri kepada kehendak Allah. Anoman menegaskan kalau semua orang di Negara Hastinapura sudah bisa tawakal, Insya Allah negara bisa selamat dan bahagia.

Anoman menjelaskan lagi, Semar kalau berjalan kaki setiap tiga langkah berhenti. Kemudian menengok ke kanan dan ke kiri terus menengok ke belakang. Tiga langkah artinya tekad (niat), ucapan dan perbuatan. Berhenti di langkah ketiga kemudian melihat ke kanan, kiri dan belakang. Artinya melihat dan merenungkan tekad, ucapan serta perbuatan yang sudah dilakukannya apakah sudah benar atau masih salah.

Semar sadar dan menganalisis, apakah ada tekad saya yang buruk, apakah ada ucapan saya yang menyakiti perasan orang lain, apakah ada perbuatan saya yang merugikan orang lain. Kalau ada saya mau kembali lagi untuk meminta maaf.

Semar melihat ke kanan dan ke kiri di langkah ke tiga, artinya harus peka pada sesama manusia. Apakah ada tetangga atau orang di dekat kita yang sedang kesusahan atau kelaparan. Tenggang rasa dan pekalah, tengok serta bantu mereka. Menurut ajaran Islam, kalau ada tetangga tidak bisa makan karena miskin, maka tetangganya yang mampu akan berdosa karena tidak membantunya.

Anoman menegaskan, kalau pejabat, elit dan masyarakat sudah bisa meneladani sikap Semar. Maka negara akan aman, damai dan bahagia.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here