Home Lifestyle Kuliner Odading, Jajanan Tradisional Bandung yang Kembali Naik Daun

Odading, Jajanan Tradisional Bandung yang Kembali Naik Daun

Sebuah warung jajanan di Bandung bernama Odading Mang Oleh, menjadi viral di jagat media sosial Indonesia. Hal ini dikarenakan seorang pria mengulas odading dari warung tersebut dengan gaya terkesan ngegas.

Video yang dianggap lucu tersebut kini ramai dijadikan sebagai meme, sementara jajanan yang diulas menjadi ramai diperbincangkan. Jajanan tersebut bernama odading.

Jika seblak dan nasi timbel sebagai makanan khas Bandung sudah populer di kalangan masyarakat, mungkin odading bisa dibilang masih asing di telinga, apalagi untuk orang-orang yang berasal dari luar kota. Padahal odading adalah makanan khas kota dengan sebutan Paris Van Java ini, lho!

Selama ini kamu mungkin sudah tahu cakwe, jajanan khas berupa roti goreng asal Tiongkok, atau roti bolang-baling, jajanan asal Jawa Tengah. Nah, sekarang kamu juga harus berkenalan dengan odading, roti goreng asli Bandung.

Makanan ini merupakan adonan tepung terigu, telur, ragi, dicampur dengan gula sehingga rasanya manis. Selain karena teksturnya yang empuk, bentuknya yang mirip seperti bantal juga mmembuat odading kerap disebut sebagai roti bantal.

Nah, bagi kamu yang belum tahu, yuk cek fakta-fakta mengenai odading di bawah ini.

Odading sangat populer di masa lalu

Sebelum ada jajanan populer seperti pizza, burger, takoyaki, dan beberapa jajanan lain yang berasal dari negara lain, jajanan tradisional khas Bandung ini pernah populer pada masanya, lho!

Pada era 1980-an hingga 1990-an, odading kerap dijajakan oleh para penjual yang membawa dagangan dengan cara memangkunya di samping badan. Dalam bahasa Sunda pedagang ini disebut dengan istilah tukang telek.

Biasanya tukang telek mampir ke sekolah-sekolah pada jam istirahat. Anak-anak akan rebutan membeli dan mencicipi odading. Namun saat ini, popularitas odading semakin menurun. Kita sudah jarang menemukan jajanan ini dijual di sekolah-sekolah. Kini kita haya bisa menemukan odading di pasar atau warung-warung kecil di Kota Bandung.

Asal-usul nama odading

Odading ternyata bukan hanya sekedar jajanan pasar yang rasanya manis. Makanan ini ternyata punya sejarah sendiri yang berkaitan dengan Belanda, yaitu namanya.

Di era kekuasaan pemerintah Hindia Belanda di Indonesia, seorang putra pejabat Belanda ingin dibelikan jajanan yang ia lihat dibeli oleh anak-anak Indonesia yang tinggal di daerah tersebut. Namun ia tidak tahu nama makanan yang dimaksud.

Ia mengadu kepada ibunya sambil menunjuk tukang telek yang menjual makanan tersebut. Ia dan ibunya mendekati sang pedagang, lalu membuka daun pisang yang menutupi makanan yang dijual.

Ibunya berkata, “Oo, dat ding?” yang berarti “Oo, benda itu?” Beberapa orang di sekitar tempat itu mendengar ucapan sang nyonya pejabat Belanda. Sejak saat itu, makanan yang berupa roti goreng tersebut dinamakan odading.

Nyanyian pedagang odading

Meskipun di zaman sekarang kita masih bisa menemukan odading di pasar atau di warung, namun cara pedagang menjajakan dagangannya mungkin sudah sama dengan caranya menjajakan makanan lain. Padahal dulunya odading ini dijual sembari pedagangnya melantunkan lagu, lho.

Berikut lirik lagunya:

Ding, odading, odading, ding, haraneut keneh yeuh, oda-oda, ding, mangga atuh odading, ding, ding

Berikut terjemahan lirik ke dalam Bahasa Indonesia:

Ding, odading, odading, ding, masih hangat nih, oda-oda, ding, silakan odading, ding, ding

Nah, itu dia beberapa fakta mengenai odading, jajanan khas Bandung yang popularitasnya kini menurun. Semoga dengan adanya video viral  “Odading Mang Oleh”, popularits odading sebagai jajanan tradisional kembali naik. Yuk, bantu orang-orang lebih kenal odading dengan membagikan artikel ini!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini