Home Lifestyle Urban Nostalgia , Game Online “PUBG” Punya Cara Main yang Mirip dengan Mainan...

Nostalgia , Game Online “PUBG” Punya Cara Main yang Mirip dengan Mainan Tradisional “Pletokan”

Game viral PUBG favorit anak-anak generasi milenial di tahun 2000an, Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG) sebuah permainan tembak-tembakan digital dengan genre battle royale yang para pemainnya bisa bermain dengan jumlah 100 orang sekaligus secara online.

Dalam strategi permainan PUBG, player bisa memilih untuk bermain solo, tim dengan jumlah 2 orang, dan 4 orang.

Sejak tahun 2017, game Battle Royal viral di kalangan gamers karena permainan digital ini memiliki genre yang dianggap lebih menantang dengan map yang luas sehingga memberikan kebebasan kepada player untuk lebih bebas untuk bertarung dan bertahan hidup sampai mati.

Cara bermain PUBG yang menantang, mereka bisa terjun bebas dari pesawat menggunakan parasut ke lokasi yang mereka loot. Lingkaran putih dalam area permainan menandakan zona bermain. Zona bermain tersebut akan diperbarui dan mengecil saat lingkaran tersebut sudah dikuasai lawan  yang membuat beberapa area di sekitar menjadi tidak aman.

Pemain yang berada di luar lingkaran putih (zona bermain) akan kehabisan darah lalu mati. Setelah itu, lingkaran putih akan mengecil terus-menerus sehingga membuat semua pemain yang tersisa di lingkaran putih untuk bisa bertempur habis-habisan untuk mempertahankan hidup.

Dulu, anak-anak tidak perlu menggunakan smartphone dan komputer untuk asyik main game tembak-tembakan. Main game online juga memberikan efek kepada generasi milenial untuk berjam-jam terpapar sinar radiasi smartphone. Sedikit nostalgia anak-anak jaman 90an memiliki kisah yang menyenangkan dibandingkan anak jaman sekarang karena tidak dapat merasakan keseruannya main game tradisional “Pletokan” yang cara mainnya hampir mirip dengan game online PUBG loh.

Melansir dari situs Kompas, perang-perangan menjadi mainan anak-anak di awal tahun sesudah kemerdekaan dengan hegemoni jasa para pahlawan  saat mengusir para penjajah. Ide mainan Pletokan namanya diambil dari bunyi yang dihasilkan oleh bambu dengan ukuran 30-40 cm menggunakan diameter 1/ 2 cm. Bambu yang dipilih yang  tua dan kuat agar tidak mudah pecah, cara membuatnya bambu dibagi jadi dua untuk sodokan dan laras dengan bagian pangkal untuk pegangan sekitar 10 cm.

Pelurunya terbuat dari kertas basah yang dipadatkan lalu disodok sehingga menghasilkan bunyi pletok secara nyaring. Seiring berkembangnya waktu, pletokan masih bermetamofosis menjadi lebih modern dengan panjang bambu yang lebih bervariasi agar terlihat lebih canggih sesuai dengan eranya agar pletokan tak hilang ditelan zaman.

Hampir sama dengan strategi permainan PUBG, bermain pletokan juga bisa dibagi menjadi beberapa tim dengan jumlah orang yang semakin banyak maka semakin seru mainnya. Setiap tim menentukan area di tempat masing-masing untuk menembak pemain lawan. Jika, salah satu anggota lawan terkena peluru maka dinyatakan mati. Tim yang dinyatakan menang yaitu mereka dapat bertahan hidup dan mempertahankan daerah kekuasaannya.

Permainan tradisional pletokan mencerminkan peperangan zaman dahulu menggunakan pistol dari bambu  dengan peluru yang terbuat dari kertas memberikan keseruan game peperangannya yang mengajarkan arti pentingnya kerjasama dan strategi kelompok.

Dilihat dari strateginya permainannya antara PUBG dengan Pletokan memiliki persamaan untuk melakukan penyerangan agar dapat bertahan hidup sampai akhir permainan untuk menjadi satu-satunya pemenang.

Mainan tradisional asli Nusantara ternyata tak kalah seru dengan game online di era sekarang. Kenalilah  beberapa mainan tradisional lainnya agar kebudayaan asli kita tidak hilang ditelan berbagai media digital.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini