Home Jejak Tarian Ngarak Posong: Tradisi Unik Cianjur yang Berawal dari Petani Belut

Ngarak Posong: Tradisi Unik Cianjur yang Berawal dari Petani Belut

Cianjur merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang terkenal dengan berbagai keunikan. Salah satu khas Cianjur yang hampir semua orang Indonesia adalah beras Pandan Wangi. Yup, wilayah ini memang dikenal dengan produksi berasnya yang pulen dan wangi. Selain beras, Cianjur juga terkenal dengan tauco, lho! Keren sekali ya daerah Indonesia yang satu ini.

Masih di bidang pangan, berkaitan dengan perikanan, Cianjur juga dikenal dengan budidaya belut, lho. Di wilayah ini bahkan terdapat sebuah perayaan bernama Ngarak Posong yang dikaitkan dengan budidaya belut.

Yuk, simak lebih lengkap tentang budaya Ngarak Posong pada artikel di bawah ini!

Ngarak Posong digagas 11 tahun yang lalu

Tidak seperti banyak kebudayaan Indonesia yang sudah ada bahkan sebelum zaman kolonial, tradisi Ngarak Posong baru digagas pada tahun 2009 dan hingga sekarang terus-menerus berusaha diperkenalkan ke masyarakat.

Awalnya tradisi ini berawal dari panen belut di Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur.  Pencetusnya,  HE Supardi, seorang pemilik industri rumah tangga untuk olahan belut, mengatakan bahwa ia melihat  di daerah Cianjur terdapat begitu banyak petani belut. Kegiatan budidaya belut ini juga sudah menjadi ikon daerah Cianjur. Oleh karena itu, para petani belut pantas diapresiasi dengan adanya sebuah perayaan khusus untuk mereka.

Meskipun umur kebudayaan ini masih tergolong muda, namun pada 2013, tradisi Ngarak Posong sudah ditampilkan dalam Festival Budaya ASEAN yang dilaksanakan di Purwakarta dan melibatkan 9 negara di Asia Tenggara dan 10 kota di Indonesia, termasuk Cianjur.

Ngarak Posong sebagai bentuk kesenian

Ngarak berarti “kirab” atau dengan kata lain “berjalan beriringan”, sementara posong merupakan sebuah media penangkap belut. Secara harafiah, tradisi Ngarak Posong diartikan sebagai sebuah tradisi bagi para petani belut berupa penampilan yang dilakukan dalam bentuk berjalan beriringan sambil membawa posong.

Dalam penampilan tradisi Ngarak Posong ini, orang-orang yang terlibat di dalamnya menampilkan bagaimana proses dalam menangkap belut. Penampilan ini biasanya diiringi dengan musik-musik khas Jawa Barat dan kerap diiringi dengan instrumen gending.

Biasanya para penampil pria akan menggotong sebuah replika belut raksasa, sementara para penampil wanita datang dengan membawa posong.

Selain itu, Ngarak Posong juga menampilkan cerita tentang seorang dewi belut. Untuk menemani cerita tersebut, para penampil biasanya menggunakan berbagai properti yang mendukung.

Untuk terus mempertahankan tradisi ini, HE Supardi, sang penggagas tradisi sekaligus ketua sebuah sanggar seni bernama Sanggar Hibar, menjadikan sanggar tersebut sebagai tempat untuk melatih para penampil tradisi Ngarak Posong.

Filosofi Ngarak Posong

Secara garis besar, tradisi Ngarak Posong dibuat sebagai bentuk apresiasi terhadap petani belut sekaligus sebagai ucapan syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa karena budidaya belut telah membantu mereka dari segi ekonomi.

Dari segi makna, dalam tradisi Ngarak Posong, tersirat nasihat agar kita sebagai manusia tetap berproses di jalan yang lurus. Hal ini ditunjukkan dengan para penampil yang berjalan beriring-iringan sembari bergembira dan mengucap syukur atas rezeki yang mereka dapatkan dalam hidup.

Nah, itu dia penjelasan tentang tradisi Ngarak Posong yang berasal dari Cianjur. Harapannya, meskipun Ngarak Posong merupakan sebuah tradisi yang baru, tradisi ini tetap dilibatlkan oleh masyarakat dan pemerintah dalam berbagai acara. Hal ini diperlukan agar tradisi Ngarak Posong sebagai sebuah tradisi yang unik menjadi semakin dikenal, tidak hanya dalam lingkup masyarakat Jawa Barat, tetapi juga di seluruh Indonesia.

Yuk, bagikan artikel ini dan kenalkan Ngarak Posong ke teman-temanmu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini