Home Jejak Merancang Pertanian di Pulo Geulis: Pulau Cantik Peninggalan Padjadjaran di Pusat Kota...

Merancang Pertanian di Pulo Geulis: Pulau Cantik Peninggalan Padjadjaran di Pusat Kota Bogor

Arogan rasanya, kita sebagai generasi Indonesia saat ini, tidak mengamalkan bahkan tidak mengetahui sejarah dan nilai yang pernah ditanamkan oleh leluhur kita. Pertanian, ilmu tentang hidup yang seharusnya mampu kita kembangkan dan pertahankan di era semodern apapun, selama manusia tidak mampu berfotosintesis atau kenyang dengan memakan udara.

Keistimewaan Pulo Geulis Era Padjadjaran

Peradaban Pulo Geulis dibangun pada abad ke-16 di tengah delta Sungai Ciliwung, yang saat ini berlokasi di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Pulo Geulis memiliki luasan 3.5 Hektare.

Terdapat beberapa peninggalan sejarah yang dipercaya berasal dari Kerajaan Pajajaran yaitu berupa batu-batu dan patung-patung yang memiliki arti dan lambang dari kekuatan dan kejayaan Kerajaan Pajajaran pada masanya. Banyak peninggalan lainnya yang menjadi bukti bahwa lokasi Pulo Geulis dulunya menjadi salah satu tempat lahirnya peradaban masa kerajaan Sunda. Pulo Geulis merupakan suatu tempat bersejarah bagi beberapa agama leluhur masyarakat kerajaan Sunda.

Kebiasaan Masyarakat Pulo Geulis Era Padjadjaran

Masyarakat Pulo Geulis sejak dahulu memanfaatkan sumber air yang berlimpah tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari (konsumsi dan mencuci) namun juga untuk hal yang lebih produktif untuk mengairi tanaman (berkebun) dan budidaya ikan skala kecil (kolam). Hampir setiap rumah warga memiliki kolam ikan yang hasilnya untuk dikonsumsi skala rumah tangga.

Kondisi Terkini Pulo Geulis

Dikutip dari liputan6.com Pulo Geulis memiliki luasan wilayah sekitar 3,5 Hektare, Pulo Geulis saat ini dihuni oleh kurang lebih 2.500 jiwa atau dengan kata lain kepadatannya sekitar 700 jiwa per hektare. Masyarakat Pulo Geulis mayoritas berkerja sebagai pedagang, buruh bangunan, sopir, serta sedikit sebagai pegawai dan petani. Sebaran profesi petani yang minim, tentu mengubah tata letak dan fungsi ruang di Pulo Geulis menjadi sebuah pemukiman padat penduduk yang kurang tertata. Sayangnya, saat ini Pulo Geulis menjadi salah satu wilayah yang termasuk kedalam permukiman kumuh di Kota Bogor.

Penggunaan Sungai Ciliwung di Pulo Geulis saat ini sayangnya juga mengalami pergeseran. Masyarakat sekarang hanya memanfaatkan sungai sebagai tempat pemandian umum, mencuci, bermain anak-anak, memancing, dan sebagai tempat pembuangan air besar (WC umum). Ketika air sungai berlimpah, masyarakat akan sangat aktif memanfaatkan sungai, sebaliknya apabila sungai kering maka sungai akan terlihat sangat kotor.

Dengan kondisi kerapatan penduduk saat ini, hampir tidak mungkin bagi masyarakat Pulo Geulis untuk melanjutkan sistem pertanian yang sama dengan leluhurnya. Lantas kita bisa apa? Sebagai generasi saat ini, kita dapat mengembalikan semangat pertanian era Pajajaran dengan merancang sistem yang adaptif.

Merancang Pertanian Baru Pulo Geulis

Kondisi permukiman padat penduduk dengan kerapatan spasial yang nyaris tidak menyisakaan ruang terbuka, masyarakat setempat dapat memanfaatkan tembok-tembok, dinding rumah dan bahkan jembatan penyebrangan sebagai alternatif lahan pertanian. Konsep ini dinamakan pertanian pekarangan, yakni memanfaatkan ruang terbatas. Setiap rumah tangga dapat menanam tanaman pangan yang mudah dibudidayakan (Bayam, Kangkung, Cabai), setidaknya daya fungsi lahan dan keamanan pangan rumah tangga dapat meningkat.

Seiring bertambahnya pemukiman, lahan terbuka atau kosong semakin sulit untuk didapatkan sebagai lahan pertanian. Sebaliknya, lahan pekarangan meningkat hingga mencapai 10,3 juta hektar atau 14% dari total luasan lahan pertanian Indonesia. Optimalisasi pemanfaatan pekarangan dan lahan sekitar tempat tinggal menjadi lahan pertanian merupakan poin penting dalam penyediaan sumber pangan bergizi di tingkat keluarga.

Sumber : Journal.ipb.ac.id | Forum Penelitian Agro Ekonomi 30(1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini