Home Agama Menilik Vihara Avalokitesvara, Simbol Toleransi Umat Beragama di Banten

Menilik Vihara Avalokitesvara, Simbol Toleransi Umat Beragama di Banten

Banten dikenal sebagai salah satu wilayah di Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam.  Bahkan sejak tahun 1526, terdapat kerajaan Islam yang disebut dengan Kesultanan Banten.  Tidak heran di wilayah tersebut banyak tradisi-tradisi Islam yang masih dilestarikan hingga saat ini.

Walaupun demikian, toleransi terhadap umat dari agama selain Islam tampak sangat dijunjung di daerah Banten. Hal ini terbukti dengan adanya bangunan Vihara Avalokitesvara di Kota Serang.

Sejarah Vihara Avalokitesvara

Meskipun Kota Serang merupakan kota dengan mayoritas penduduk Muslim, sebuah vihara masih berdiri kokoh hingga saat ini. Vihara tersebut menjadi simbol persatuan agama dan kebudaya yang berbeda-beda.

Sejarah pendirian Vihara ini dimulai dari keberadaan Kesultanan Banten yang saat itu dipimpin oleh Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).  Saat itu, Kesultanan Banten mengalami masa kejayaan, terutama di bidang perdagangan. Bahkan kesultanan ini menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar di Indonesia. Hal ini membuat banyak pedagang asing, terutama dari Cina, datang ke Banten untuk berdagang.

 Menurut cerita dari mulut ke mulut, pembangunan Vihara Avalokitesvara ini juga berkaitan dengan hubungan asmara antara Sunan Gunung Jati dengan seorang putri asal bernama Ong Tien, yakni sekitar tahun 1652.

Saat itu Putri Ong Tien ingin berkunjung ke Surabaya untuk tujuan dagang. Namun karena ramainya aktivitas dagang di Banten, ia memutuskan beristirahat sebentar di sana. Apalagi saat itu persediaan bekal di kapal mereka sudah menipis.

Setelah tinggal di Banten selama beberapa hari, ternyata Putri Ong Tien merasa betah tinggal di Banten. Masyarakat Banten yang mayoritas menganut agama Islam menjadi resah. Mereka merasa kedatangan Putri Ong Tien ke Banten dapat merusak kebudayaan Islam yang telah dibangun sejak dulu.

Ternyata Sunan Gunung Jati menaruh hati pada Putri Ong Tien, begitu juga sebaliknya. Agar dapat diterima oleh masyarakat dan menikah dengan Sunan Gunung Jati, akhirnya Putri Ong Tien memeluk agama Islam. Untuk menghormati hal tersebut, Sunan Gunung Jati mendirikan sebuah vihara sebagai simbol persatuan agama dan kebudayaan yang berbeda-beda.

Vihara Avalokitesvara sempat pindah beberapa kali

Saat pertama kali dibangun pada tahun 1652, lokasi vihara ini berada di Desa Dermayon, dekat Masjid Agung Banten. Pada 1959, vihara ini kemudian menempati Loji Belanda.

Lokasi vihara kembali berpindah ke selatan menara Masjid Pecinan Tinggi pada 1725. Sejak 1774 hingga sekarang, Vihara Avalokitesvara berlokasi di wilayah Kasemen, Kota Serang.

Pada 2009, beberapa bagian bangunan dari vihara ini sempat mengalami musibah kebakaran. Namun, sebagian besar ukiran serta bagian dalam vihara, masih dijaga utuh keasliannya oleh penduduk setempat.

Vihara sebagai simbol toleransi agama

Vihara Avalokitesvara yang memiliki nama lain Klenteng Tri Darma ini sebenarnya diperuntukkan bagi 3 kepercayaan sekaligus, yakni Kong Hu Cu, Taoisme, dan Budha. Walaupun demikian, vihara ini tetap dibuka untuk umum, bebas untuk semua agama. Tidak hanya digunakan untuk beribadah, namun juga untuk keperluan wisata.

Setiap perayaan Imlek, tempat ini ramai oleh pengunjung. Berbagai wisata kuliner juga dapat dengan mudah ditemukan di kawasan Vihara Avalokitesvara.

Tidak hanya 3 agama dan kepercayaan yang disebut di atas, masyarakat dengan agama dan kepercayaan lain juga turut meramaikan perayaan Imlek di tempat ini setiap tahun.  Oleh karena itu, vihara ini pantas disebut sebagai simbol toleransi antar umat beragama di Indonesia.

Demikian sejarah dan informasi mengenai Vihara Avalokitesvara yang berdiri kokoh di kota Islam, Kota Serang, hingga saat ini. Sebagai masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggil Pancasila dan keberagaman, yuk, kita tetap jaga toleransi antar agama dan budaya! (Bangley)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini