Home Jejak Menilik Sungai Sebagai Jalur Perdagangan di Masa Kerajaan

Menilik Sungai Sebagai Jalur Perdagangan di Masa Kerajaan

Sungai pernah menjadi urat nadi transportasi dan perdagangan masa lampau.  Salah satu sungai yang menjadi fondasi peradaban pada masa kerajaan adalah Sungai Citarum. Sungai yang mengalir sepanjang wilayah Jawa Barat ini ikut andil bahkan urat nadi kerajaan Tarumanegara.

Kerajaan Tarumanegara merupakan jejak sejarah yang menghadirkan bukti adanya peradaban di Sungai Citarum. Pusat kerajaan terletak di tepi Sungai Citarum, dibangun Maharesi Jayasinghawarman, raja pendahulu Punawarman.

Dikutip dari Mongabay.co.id, menurut peneliti geologi T Bachtiar, lokasi berdirinya Kerajaan Tarumanagara berada di muara Citarum. Karena berada di wilayah strategis, pada masanya kejayaan ini sudah memfungsikan dermaga untuk membuka alur perdagangan lintas negara seperti India dan China.

Masih di daerah Jawa bagian barat. Ada sungai lain yang menjadi roh sebuah kerajaan. Yaitu Sungai Cisadane Sebelum disebut Cisadane. Sungai ini dulu sekali bernama Sadane.  Kata “sadane” dalam bahasa Sanskerta berarti istana kerajaan. Kerajaan yang dimaksud merupakan adalah Kerajaan Pajajaran dengan ibukota di Pakuan (wilayah Bogor saat ini).

Kerajaan Pajajaran merupakan kerajaan yang menganut agama Hindu yang sangat menghormati air sungai dari gunung sebagai sarana untuk membersihkan diri menuju jalan kebijaksanaan. Cisadane yang dulu mengalir bersih menjadi sungai suci bagi masyarakat Hindu Kerajaan Pajajaran.

Banyak kapal dagang kecil memasuki muara Cisadane untuk berlabuh ke Tangerang. Saat itu daerah sekitar aliran Cisadane seperti Mauk, Kedaung, Sewan, Kampung Melayu, dan Teluk Naga, masih berupa rawa-rawa, sehingga muara Cisadane masih berada di dekat Tangerang

Bergeser ke Jawa bagian timur, ada Sungai Brantas. Bagi masyarakat Blitar dan Tulungagung Sungai Brantas diibaratkan Sungai Nil.  Di masa kerajaan kuno di Jawa Timur, sungai terpanjang kedua di pulau Jawa ini adalah jalur transportasi utama. Selain lebih cepat, jalur darat dulunya masih berupa hutan belantara sehingga sangat berbahaya untuk dilalui.

Kerajaan yang menggunakan Sungai Brantas sebagai jalur transportasi utama diantaranya Kerajaan Mataram Kuno dan Kerajaan Majapahit.

Pada masa Kerajaan Majapahit, keluar titah raja yang secara resmi melarang pembakaran hutan. Dalam Prasasti Malang tertulis perintah kepala desa di daerah timur Gunung Kawi menjaga lereng-lereng yang berilalang. Perintah itu dikeluarkan guna mencegah penggundulan hutan. Sebab, ketika hujan tiba, sedimentasi dari lereng hutan yang gundul akan masuk ke Sungai Brantas sehingga berpotensi menimbulkan banjir dan imbasnya wilayah kerajaan Majapahit akan terendam aliran sungai Brantas.

Ada juga Sungai Bengawan Solo. Sungai yang memiliki hulu di kaki gunung merapi dan pegunungan kidul, serta bermuara di laut selatan ini menyimpan kisah kejaayaan kerajaan Majapahit. Dalam beberapa prasasti Jawa kuno menyebutkan ada beberapa desa yang masuk wilayah Kerajaan Majapahit berada di tepi Sungai Bengawan Solo.  

Sungai bengawan solo pada masa kerajaan Majapahit juga dimanfaatkan sebagai jalur transportasi dan jalur perdagangan dengan saudagar dari India, Timur Tengah, dan Tiongkok. Hal ini dibuktikan dengan penemuan benda-benda keramik atau logam di daerah aliran sungai Bengawan Solo.

Tak hanya di pulau Jawa, sungai juga menjadi fondasi berdirinya kerajaan di wilayah Kalimantan atau Borneo. Ada Sungai Mahakam yang berdasarkan penelitian, hulu sungainya merupakan pusat kerajaan Kutai. Tepatnya di Muara Kaman.

Sungai Mahakam menjadi pusat perdagangan sejak abad ke-4 masehi. Telah terjalin hubungan ekonomi antara Kerajaan Kutai dengan saudagar dari mancanegara seperti India dan Tiongkok.Hal itu diketahui dari jejak-jejak arkeologi yang ditemukan di Muara Kaman.

Nama Mahakam diketahui berasal dari bahasa Sanskerta, yang terbagi dalam dua arti, yakni kata maha dan kama. Maha sendiri berarti tinggi atau besar. Sedangkan Kama berarti cinta. Dalam hal ini Mahakam diterjemahkan sebagai cinta yang sangat besar atau agung.

Di Sumatera, Kerajaan Sriwijaya kendati jejak istananya belum ditemukan, arkeolog meyakini ada di sekitaran muara Sungai Musi.

Begitu besar peran sungai. Selain sebagai sarana untuk transportasi dan irigasi, sungai pada masa lampau melahirkan peradaban-peradaban dengan teknologi dan pemikiran luar biasa yang membuat nama Nusantara termahsyur hingga ke mancanegara.

Pernah menjadi tonggak peradaban, sudah sepantasnya kini pemerintah dan masyarakat menjaga kelestarian sungai di Indonesia. Karena bukan tidak mungkin ada peradaban luar biasa kembali lahir dari tepi sungai.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Misteri Desa Karang Kenek: Kutukan atau Kebetulan?

Jika kita berbicara soal misteri, negara kita pasti selalu masuk daftar negara dengan banyak hal unik serta misteri-misteri yang belum terpecahkan. Beberapa...

Misteri Batu Bleneng di Tol Cipali

Bukan hanya hutan, gunung, laut, jembatan, ternyata jalan tol di Indonesia juga ada yang menyimpan misteri yang hingga saat ini belum terpecahkan.

Sunda Land awal Peradaban Dunia

Istilah “Atlantis” mungkin merupakan sebuah istilah yang sudah kita dengar. Bahkan pada 2001, sebuah industri film di Amerika Serikat membuat film animasi...

Gunung Padang: Dugaan tentang Piramida Tertua di Dunia

Selain kaya akan budaya, Indonesia juga dikenal sebagai negara yang kaya akan situs-situs sejarah, mulai dari candi, tugu, gedung-gedung, dan situs-situs lain...

Komentar terkini