Home Jejak Tokoh Mengenal Raden Ayu Lasminingrat. Wanita Intelektual Pejuang Pendidikan

Mengenal Raden Ayu Lasminingrat. Wanita Intelektual Pejuang Pendidikan

Memperingati hari Kartini pada tanggal 21 April akan lebih lengkap jika kami mengulang kembali sejarah perjuangan wanita inspiratif terdahulu jauh sebelum  R.A Kartini dilahirkan.

Beliau adalah Raden Ayu Lasminingrat yang namanya harum pada jamannya tapi mulai luntur seiring jaman. Untuk kembali mengharumkan sekaligus mengenang semangat perempuan yang dijuluki wanita intelektual pertama di Indonesia ini, mari kita mengenal lebih jauh mengenai latar belakang keluarga, kehidupan masa kecil, sampai jasa apa yang sudah diberikan di tanah kelahirannya.

Masa kecil Raden Ayu Lasminingrat

Lahir di Garut pada tahun 1843, Raden Ayu Lasminingrat merupakan putri sulung dari pasangan Raden Haji Muhammad Musa yang seorang sastrawan juga dikenal sebagai tokoh agama dan ibunya bernama Raden Ayu Ria. R.A Lasminingrat sudah fasih berbahasa Belanda sejak usia muda, ini karena dirinya diasuh oleh kerabat ayahnya yang seorang Sekretaris Jendral Pemerintah Hindia Belanda bernama Levyson Norman untuk mendapatkan pendidikan secara formal. Tumbuh dan belajar di kalangan bangsawan Belanda rupanya membentuk level intelektualitas seorang R.A Lasminingrat lebih tinggi daripada wanita pribumi seusianya di masa itu.

Jejak Raden Ayu  Lasminingrat Dalam Bidang Literasi

Peribahasa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya rasanya sangat cocok untuk bakat menulis R.A Lasminingrat yang diturunkan oleh ayahnya. Kemahirannya membaca, menulis, dan berbicara bahasa Belanda dimanfaatkannya untuk menerjemahkan karya sastra Belanda kedalam bahasa Sunda yang lebih mudah dipahami. Kerja kerasnya membuahkan hasil saat R.A Lasminingrat menginjak usia 32 tahun tepatnya di tahun 1875 dirinya mencetak sebanyak 6.015 eksemplar buku yang berjudul  Tjarita Erman yang merupakan terjemahan buku karya Christoph von Schmidt. Buku ini menjadi sangat menarik bagi penduduk bumiputra karena pasa masa itu belum ada buku karya pribumi asli yang cocok dibaca oleh anak-anak. Tidak hanya buku bacaan anak, R.A Lasminingrat pun aktif dalam memberikan materi pengajaran pendidikan moral, ilmu pengetahuan alam, agama, psikologi, dan sosiologi.

Karya sastra lainnya adalah buku yang berjudul “Sang Radja Poetri jeung Saderekna Doewa Welas” yang berisikan isi hati R.A Lasminingrat tentang perempuan yang hanya dilihat dari tubuh, tabiat, stigma, dan intimidasi yang kerap dirasakan oleh perempuan. Kisah yang dituliskan di buku ini sungguh memilukan, bercerita seorang wanita yang dituntut untuk memberikan anak perempuan oleh suaminya. Tanpa tahu, bahwa melahirkan bukanlah hal yang mudah, melainkan sangat menyakitkan. Perempuan tersebut seolah tidak memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri, dirinya terus dipaksa hamil dan melahirkan sampai mendapatkan anak perempuan. Sampai anak ketiga belas, barulah terlahir anak perempuan. Ternyata penderitaan tidak berarkhir, petaka bagi kedua belas anak laki-laki yang sudah dilahirkannya mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya, seperti diabaikan bahkan terancam dibunuh. Dalam bukunya, R.A Lasminingrat ingin menunjukan betapa kasih sayang seharusnya tak memandang jenis kelamin, kesetaraan itu harus dimiliki oleh semua orang baik laki-laki ataupun perempuan . Dari kisah buku ini kita sudah bisa melihat bahwa keahlian R.A Lasmingrat dalam dunia literasi menjadi “suara” untuk menyampaikan keresahan hatinya terhadap gender issue pada masa itu.

Raden Ayu Lasminingrat dan Dunia Pendidikan

Sejak menikah dengan Raden Adipati Aria Wiratanudatar VII yang menjabat sebagai bupati Garut pertama, R.A Lasminingrat memutuskan untuk berhenti dari dunia penulisan. Meski begitu, dirinya tetap ingin memiliki andil dalam pendidikan khususnya bagi para wanita Sunda. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya Sakola Kautamaan Istri  pada tahun 1907 yang pada awalnya hanya berisikan kaum priyayi dan bangsawan lokal saja.

Sejak berpindah lokasi ke Jalan Ranggalawe pada tahun 1911, sekolah yang juga langsung di bawah pengawasan R.A Lasminingrat ini ternyata semakin berkembang dengan jumlah murid sampai 200 orang.

Dengan mengusung semangat Hari Kartini ini, tidak ada salahnya teman-teman terutama kaum perempuan wajib tahu bahwa masih banyak perempuan di masa lampau dengan segala keterbatasan teknologi bisa memiliki peran yang luar biasa. Tugas kita saat ini sebagai perempuan modern harus menjadi agen penerus untuk membangkitkan sesama wanita agar terus berdaya dan berkarya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Kerupuk Melarat, Camilan Renyah Digoreng Pakai Pasir

Santap siang selain pakai nasi panas dan sambal pedas, ada satu lagi yang tak boleh dilupakan, yaitu kerupuk. Kerupuk bagi banyak orang...

Smartphone Android Bakal Bisa Deteksi Gempa Bumi

Informasi yang simpang siur serta deteksi dini yang masih minim saat terjadi gempa bumi mendorong ahli untuk merancang deteksi gempa yang terhubung...

Kabar DKI Jakarta Zona Hitam Covid-19 Dipastikan Hoaks

Beredar foto peta sebaran kasus Covid-19 di DKI Jakarta lewat jejaring sosial Twitter, Rabu (12/8/2020). Dalam foto itu tertulis keterangan yang menyebut...

Bung Hatta Yakin Koperasi Penggerak Ekonomi Rakyat

Selain dikenal sebagai proklamator kemerdekaan Republik Indonesia, Mohammad Hatta atau akrab dipanggil Bung Hatta juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

Komentar terkini