Home Jejak Artefak Mengenal Cetbang Lebih Jauh, Senjata Api Pertama di Tanah Nusantara

Mengenal Cetbang Lebih Jauh, Senjata Api Pertama di Tanah Nusantara

Perkembangan teknologi yang terjadi dari waktu ke waktu sudah menjadi sesuatu yang tak terelakkan lagi. Kebutuhan manusia yang selalu bertambah seiring berjalannya waktu seperti pertanian, perkebunan, hingga peperangan menjadi  alasannya. Salah satu inovasi teknologi yang dapat menentukan jalannya sejarah di dunia hingga sekarang ini adalah dengan penemuan bubuk mesiu sebagai bahan peledak. Bubuk mesiu menjadi cikal bakal terciptanya senjata api pertama di dunia.

Bila kalian mengira bubuk mesiu pertama kali ditemukan di Eropa karena kemajuan peradaban mereka, maka kalian salah. Bubuk mesiu pertama kali ditemukan di China  pada abad ke 9. Setelah itu, bubuk mesiu diadaptasi oleh bangsa Mongol setelah mereka menaklukkan dinasti Yuan. Lalu bubuk mesiu mulai menyebar ke Eropa, Jepang, Jawa, dan berbagai wilayah lain. Penyebaran bubuk mesiu terjadi melalui perdagangan jalur sutra, ataupun melalui invasi Mongol yang gagal ke suatu wilayah.

Bangsa Mongol yang merupakan kekaisaran terkuat di masanya sekaligus imperium terbesar ke dua di dunia, ternyata pernah dipermalukan oleh nenek moyang kita. Pada saat invasi Mongol ke Jawa pada tahun 1293, Raden Wijaya berhasil mengelabui dan membuat pasukan Mongol kabur tunggang langgang. Setelah berhasil mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa untuk selamanya, Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit.

Setelah itu, Raden Wijaya mulai mengadaptasi teknologi bubuk mesiu yang ditinggalkan bangsa Mongol. Pada akhirnya, terciptalah Cetbang yang merupakan senjata api pertama di bumi nusantara. Cetbang semakin dikembangkan oleh Gajah Mada untuk menunaikan sumpah palapa nya saat ia diangkat sebagai mahapatih.

Cetbang pertama kali diciptakan dengan bahan perunggu, lalu menggunakan besi pada awal abad 16. Cetbang memiliki panjang yang bervariasi mulai dari 1 hingga 3 meter. Yang panjangnya 3 meter biasanya digunakan pada kapal-kapal perang (jong) Majapahit, sedangkan yang panjangnya 1 meter dipanggul perseorangan seperti bazooka zaman sekarang. Itu adalah salah satu bukti kehebatan nenek moyang kita, bahwa mereka telah menggunakan meriam panggul seperti cetbang jauh sebelum bazooka modern diciptakan.

Setelah Kerajaan Majapahit runtuh pada perang Paregreg, eksistensi Cetbang sebagai senjata api pertama di bumi nusantara tetap digunakan dan dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan kecil setelahnya. Bahkan pada abad ke 17, seluruh kerajaan di nusantara telah memiliki persediaan senjata api masing-masing yang sangat melimpah.

Bahkan saat beberapa penjelajah dari Spanyol datang berdagang ke nusantara dengan persenjataan berat, para pedagang lokal tak takjub melihatnya karena memang persenjataan kita juga tak kalah hebat dari mereka. Saat Alfonso de Alburqueue pertama kali datang ke Malaka pada tahun 1511, ia menemukan 8000 meriam dengan kualitas yang lebih baik dari milik Portugis sendiri.

Pada abad ini, teknik pembuatan meriam mulai terpengaruh dari bangsa Eropa. Pengaruh terbesar datang dari Kesultanan Turki Usmani, yang pernah mengirimkan berbagai macam persenjataan dan teknisi pada Kesultanan Aceh sebagai vassalnya. Bahkan pada tahun 1620, Aceh setidaknya 2000 meriam dengan 800 diantaranya adalah meriam besar, dan 112.500 pucuk senapan untuk setiap personil militernya.

Selain senjata api, kapal-kapal perang kita juga tak kalah hebatnya waktu itu. Salah satu contohnya adalah kapal jong kesultanan Demak. Bahkan salah seorang kapten armada Portugis, Fernando de Andrade mengatakan bahwa kapal jong ini merupakan kapal terbesay yang ia pernah lihat. Kapal jong tersebut sangat luas dengan ketebalan yang berlapis hingga peluru meriam terbesarnya pun tak bisa menembus kapal jong itu.

Jadi, sekarang kita telah mengetahui kemajuan teknologi leluhur kita di masa lalu. Selama ini kita hanya didoktrin bahwa leluhur kita adalah orang primitif dan berperang hanya dengan bambu runcing. Padahal jauh sebelum itu, leluhur kita telah sangat maju dalam bidang pertahanan. Cetbang sebagai senjata api pertama di bumi nusantara merupakan salah satu buktinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Lagi, Gempa Bumi Guncang Bayah Banten

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa bumi mengguncang Bayah, Banten, Kamis (6/8/2020). Gempa bermagnitudo 3,3 terjadi pukul 14.40 WIB

Kue Geplak, Kuliner Betawi yang Kalah Tenar dari Kerak Telor

Apa yang terlintas saat mendengar kuliner Betawi? Yang ada di kepala kita pasti makanan tradisional seperti kerak telor dan bir pletok. Tapi...

17 Agustus, Masyarakat Indonesia Diminta Sikap Sempurna dan Berdiri Tegak

Tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tahun ini bangsa Indonesia akan merayakan 75 tahun merdekanya Indonesia.

Jejak Peradaban Megalitikum Tertua Indonesia di Lembah Bada

Berdasarkan catatan Pusat Arkeologi Nasional, terdapat 42 situs megalitik di Sulawesi Tengah. Yang paling terkenal dan menyita perhatian publik adalah situs zaman...

Komentar terkini