Home Jejak Menengok Rumah Gadang Datuk Bisai

Menengok Rumah Gadang Datuk Bisai

Rumah gadang identik dengan masyarakat suku Minang. Selain sebagai tempat tinggal, rumah gadang juga dapat berfungsi sebagai tempat musyawarah keluarga, tempat mengadakan upacara-upacara, pewarisan nilai-nilai adat, dan merupakan representasi dari budaya matrilineal khas Minangkabau.

Salah satu rumah gadang tertua yang menjadi cagar budaya adalah Rumah Gadang Datuk Bisai. Rumah ini didirikan pada tahun 1920 oleh Datuk Bisai, salah seorang Urang Godang (Orang Besar) di Rantau Kuantan.

Seperti rumah gadang di Minangkabau, rumah gadang ini juga berfungsi sebagai tempat bermusya-warah dan aktifitas adat seperti upacara adat batogak gelar, monti, dubalang serta pemberian gelar datuk bagi pemegang teraju pucuk pimpinan luhak atau kesatuan desa/ kelurahan.

Rumah gadang ini juga pernah difungsikan sebagai kantor Muda Bisai sebagai Urang Gadang Limo Koto di Tengah.

Rumah Gadang Datuk Bisai merupakan rumah tradisional daerah rantau Kuantan. Arsitekturnya mempunyai ciri khas rantau yang terlihat dari bentuk atap tidak bagonjong, tetapi berbentuk atap tumpang dua tingkat dengan model kajang padati[1] terbuat dari seng.

Lantai rumah ini berbentuk panggung dengan tangga di pangkal, sementara pintu masuk berada di sisi timurnya. Rumah Gadang ini terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama digunakan sebagai tempat bermusya-warah dan acara-acara adat lainnya.

Di lantai ini juga terdapat tiga buah kamar, dua buah kamar berada di samping kiri dan kanan, sedangkan sebuah kamar yang ditengah berfungsi sebagai sebagai lemari. Kondisi lantai pertama sebagaian telah hancur.

Sementara lantai dua dipergunakan sebagai tempat menyimpan barang atau peralatan perlengkapan adat.

Bangunan rumah berdenah persegi panjang berukuran 16,40 m x 6,6 m yang disangga oleh 22 buah tiang kayu. Untuk sirkulasi udara rumah gadang di kedua lantainya dilengkapi oleh jendela.

Di lantai pertama terdapat 5 jendela, 3 jendela besar berada di sisi depan pintu masuk, tepatnya di sisi timur, 2 jendela kecil berada di sisi barat.

Jendela di lantai dua berjumlah 8 buah, masing-masing 4 buah berada di sisi tenggara dan barat laut. Ruangan dapur yang berada di sisi utara, kondisinya sekarang telah hancur, hanya tinggal dinding sisi utara, timur lantainya pun telah hancur.

Di sisi barat laut dari rumah gadang ini sekitar 7,8 m terdapat rangkiang (lumbung padi). Lumbung padi ini ber-ukuran 2,5 m x 4,2 m, dengan tonggak sebanyak 6 buah.

Kondisi rangkiang ini sudah rusak berat dan sebagian besar dinding dan lantainya sudah hancur. Sayangnya rumah ini sekarang sudah tidak dihuni lagi, sehingga kondisinya sedikit tak terawat.

sumber: kemendikbud.go.id | kebudayaanindonesia.net.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini