Home Politik Menelusuri Kehebatan Diplomatik Kerajaan Aceh Dengan Bangsa Eropa

Menelusuri Kehebatan Diplomatik Kerajaan Aceh Dengan Bangsa Eropa

Pada masa pra kemerdekaan, negara ini terdiri dari banyak sekali kerajaan-kerajaan mandiri yang menguasai sebagian wilayah nusantara. Adapun kerajaan-kerajaan yang terkenal seperti Sriwijaya, Singasari, Majapahit, Pajajaran, Aceh, Malaka, dan masih banyak lagi. Salah satu kerajaan yang pernah Berjaya pada masanya saat itu adalah Kerajaan Aceh, yang terkenal akan diplomasinya. Bahkan hubungan-hubungan diplomatik Kerajaan Aceh sudah mencapai daratan Eropa saat itu.

Kerajaan Aceh sendiri merupakan kerajaan bercorak Islam yang berdiri pada tahun 1496 dan didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah. Wilayah awal saat kerajaan ini berdiri meliputi Kerajaan Lamuri, lalu disusul oleh wilayah Pedir, Daya, Lidie, Nakur, dan Pasai.

Kita selama ini belajar bahwa leluhur kita memiliki peradaban yang kuno dan tertinggal sehingga mudah dijajah oleh bangsa barat. Namun, Kerajaan Aceh telah mematahkan stigma tersebut dengan membuka diplomasi ke berbagai negara Eropa dan memiliki militer yang cukup kuat. Bahkan tak hanya Aceh, jauh sebelum itu Majapahit pernah mengusir tentara Mongol yang terkenal barbar dari tanah Jawa untuk selamanya. Ada lagi Malaka, dengan armada laut dan gudang senjatanya yang melimpah pernah membuat bangsa Portugis insecure dan segan untuk menyerangnya.

Kerajaan Aceh memang terkenal sering membuka hubungan diplomasinya ke berbagai kerajaan baik dari barat ataupun timur. Diplomatik Kerajaan Aceh yang paling terkenal adalah kedekatannya dengan Kesultanan Turki Usmani. Pada saat itu, Aceh mengakui Turki sebagai khalifah Islam dan bersedia mnjadi vassalnya. Pada tahun 1566 Sultan Turki Usmani, Selim II telah mengirimkan armadanya yang terdiri atas pasukan, meriam dan artileri, ribuan pucuk senjata, dan teknisinya ke Aceh sebagai tanda persahabatan. Dari teknisi-teknisi itulah Aceh setelahnya dapat mengembangkan teknologi militernya sendiri.

Kedekatan kedua kerajaan Islam tersebut menjadi sebuah ancaman bagi Kerajaan Portugis sebagai saingan dagang dari Aceh. Aceh pun kerap kali meneror armada laut Portugis dan bahkan pernah mengepung Malaka sebanyak 2 kali. Portugis pun yang tahu akan kekuatan armada Aceh hanya bisa berkutat di Malaka dan tak bisa berbuat banyak. Hal tersebut membuat mimpi Portugis untuk melakukan ekspansi ke Asia Tenggara pupus. Sampai akhirnya mereka harus hengkang dari Malaka untuk selamanya setelah dikalahkan VOC.

Diplomatik Kerajaan Aceh tak hanya sebatas dengan sesama kerajaan Islam saja seperti Turki Usmani. Aceh juga membuka hubungan dagang pada negeri-negeri seperti Kamboja, Champa, Liamer, hingga China. Bahkan Aceh juga pernah  membuka hubungan diplomatik ke negeri-negeri Eropa seperti Inggris, Perancis, dan Belanda.

Pada abad ke 16 Ratu Elizabeth I dari Inggris pernah mengirim diplomatnya, Sir Lancaster York ke Aceh untuk meminta izin berdagang di sana. Sultan Aceh saat itu pun meresponnya dengan positif dan mengizinkan ­saudara Inggrisnya untuk berdagang di wilayahnya. Bahkan raja dari kedua belah pihak rutin mengirimkan hadiah sebagai bentuk persahabatan.

Belanda yang terkenal akan kebengisannya dalam menjajah negeri kita pun ternyata pernah meminta bantuan pada Aceh. Sultan Aceh dengan baik hati mengirimkan Abdul Hamid sebagai utusanya bersama rombongannya. Namun, beliau meninggal dunia saat perjalanan. Beliau pun dimakamkan secara kenegaraan di Belanda dan dihadiri oleh berbagai bangsawan di sana sebagai penghormatan.

Perancis juga pernah mengirimkan utusannya ke Aceh saat itu. Saat itu Perancis ingin mengirimkan hadiah berupa cermin yang sangat berharga pada Sultan Iskandar Muda, sultan Aceh saat itu yang memang menyukai barang-barang berharga. Namun, saat perjalanan cermin itu pecah. Akhirnya serpihan dari cermin tersebut tetap dihadiahkan dan sang sultan tetap menerimanya dengan baik guna meningkatkan hubungan diplomatik Kerajaan Aceh dengan Perancis.

Aceh pernah menjadi negeri adidaya di kawasan nusantara dengan kemampuan militer, berdagang, dan diplomasinya. Hubungan diplomatik Kerajaan Aceh ke berbagai negara besar di dunia telah meruntuhkan stigma bahwa leluhur kita adalah bangsa yang tertutup dan tertinggal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini