Home Kesehatan Mencermati lebih dalam makna mudik dan pulang kampung di Era Pandemi

Mencermati lebih dalam makna mudik dan pulang kampung di Era Pandemi

Mungkin teman-teman pun menyadari, bahwa Ramadhan kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sejak diumumkannya penyebaran virus yang sudah masuk Indonesia pada pertengahan Maret 2020 lalu, sejumlah kebijakan diterapkan oleh pemerintah demi memutus rantai penyebaran virus COVID-19. Mulai dari himbauan mencuci tangan, memakai masker, sampai dengan serangkaian peraturan yang dirangkum dalam protokol PSBB ( Pembatasan Sosial Bersekala Besar ). Kemudian muncul kontroversi mengenai larangan mudik bagi masyarakat di zona merah. Hal ini menimbulkan pro dan kontra. Sebab banyak regulasi mudik yang masih abu-abu dan ini menyebabkan penerapan larangan mudik masih mengalami tumpang tindih.

Publik pun dibingungkan dengan perbedaan pendapat antar kementrian dengan keputusan pemerintah pusat . Ada yang bilang mudik dilarang, tapi pulang kampung diperbolehkan.

Untuk orang awam sulit mencerna sebenarnya apa maksud dari peraturan ini? Biar teman-teman gak bingung, yuk kami ulas makna mudik dan pulang kampung berdasarkan fakta-fakta yang terjadi saat ini. Simak sampai habis ya..!

Pengertian Mudik

Secara etimologi, kata mudik berasal dari kata udik yang berarti Selatan atau hulu. Karena pada zaman dahulu, saat Jakarta belum mengalami arus urbanisasi yang tinggi, banyak daerah yang diberi akhiran ilir dan udik. Seperti Meruya Ilir, Sukabumi Udik, dan masih banyak lagi. Dari arti ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa mudik sendiri berasal dari aktivitas ilir udik yang berarti perpindahan dari satu tempat, dan kembali ke tempat semula. Seiring berjalannya waktu, makna mudik berkembang menjadi sebuah tradisi masyarakat Indonesia yang kembali ke kampung halaman pada hari raya ( biasanya hari raya Idul Fitri ) untuk bersilahturahmi dan berkumpul sejenak dengan anggota keluarga setelah setahun penuh di perantauan, setelah hari libur habis biasanya mereka akan kembali ke kota besar untuk kembali bekerja.

Sejarah mudik

Bukan Tapak namanya kalau tidak memberikan edukasi sejarah di balik setiap fenomena. Sebelum paham perbedaan mudik dan pulang kampung ada baiknya teman-teman tahu sejarah mudik dari seorang dosen yang merupakan pakar sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta bernama Silverio Raden Lilik Aji Sampurno. Dirinya berpendapat bahwa tradisi mudik sudah ada sejak zaman kerajaan Majapahit dan Mataram Islam.

Pada zaman dahulu wilayah kekuasaan Majapahit meluas sampai Sri Lanka dan Semenanjung Malaya. Karena daerah kekuasaan yang sangat luas, pemerintah Majapahit menempatkan beberapa pejabatnya di berbagai titik wilayah kekuasaan untuk menjaga daerah tersebut. Pada suatu hari, pemerintah meminta kembali semua pejabat yang bertugas untuk kembali menghadap ke pusat kerajaan dan bertemu dengan keluarga di kampung halaman mereka. Sejarah ini banyak dikaitkan para ahli sejarah sebagai asal mula kegiatan mudik.

Selain kerajaan Majapahit, ada pula yang menerapkan sistem yang sama yaitu kerajaan Mataram Islam. Hanya yang menjadi perbedaan, dahulu pejabat Mataram Islam diminta menghadap raja dan kembali ke kampung halaman hanya pada hari Raya Idul Fitri.

Dari penuturan ahli sejarah tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwasannya esensi mudik sama yang sudah disebutkan di pembahasan sebelumnya, yaitu kembali ke kampung halaman dalam beberapa waktu sebelum kemudian pergi lagi untuk bertugas.

Perbedaan mudik dan pulang kampung

Kita semua tahu, banyak dampak yang terjadi pasca diberlakukannya Pembatasan Sosial Bersekala Besar. Banyak pekerja yang dirumahkan, mengalami Pemutusan Hubungan Kerja atau PHK secara sepihak, bahkan banyak buruh harian yang akhirnya tidak lagi memiliki penghasilan karena proyek pekerjaannya ditutup permanen.Mengutip dari halaman kompas.com bahwa Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan situasi ini sangat berat dan akan terjadi peningkatan jumlah angka kemiskinan sampai 3,78 juta orang. Kondisi bertahan di kota besar tanpa penghasilan memang tidak mudah, hal ini yang menjadi pemicu banyaknya kegiatan pulang kampung meski pemerintah sedang memberlakukan peraturan PSBB. Mengutip dari sumber media online yang mewawancarai para pedagang dan juga buruh pabrik yang terpaksa pulang kampung, mengaku bahwa mereka tidak lagi bisa membayar kontrakan juga kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka memilih kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan kehidupan dan jika memungkinkan akan mencari pekerjaan di daerah asal mereka masing-masing. Kalau sudah begini, peraturan PSBB rasanya tak lagi jadi fokus mereka.Pulang kampung menjadi pilihan terakhir untuk bisa melanjutkan hidup. Dengan ini teman-teman bisa membedakan, bahwa mudik dan pulang kampung yang jadi bahan perdebatan di sosial media memiliki konteks yang berbeda pada masa pandemi ini. Lebih ringkasnya, mudik merupakan tradisi yang sebenarnya tidak akan berdampak serius jika teman-teman menundannya. Sementara pulang kampung, merupakan jalan akhir untuk mereka yang tak lagi punya pilihan untuk bertahan hidup.

Tindakan preventif saat pulang kampung

Jika teman-teman terpaksa harus pulang kampung, pastikan kalian wajib patuh melakukan himbauan dari BNPN ( Badan Nasional Penanggulangan Bencana ). Peraturan ini menjadi protokol yang baku untuk mengurangi risiko penularan virus kepada sanak saudara di kampung halaman.

Berikut protokol resmi dari pemerintah untuk kamu yang terpaksa harus pulang kampung

  • Bersedia mengisi formulir mengenai data diri dan penjelasan kepulangan secara rinci.
  • Memiliki surat pengantar resmi dari pejabat setempat RT atau lurah bahwa memiliki izin pulang kampung.
  • Diharuskan tidak lagi kembali ketempat asal bekerja.
  • Bersedia menjalani pemeriksaan kesehatan.
  • Apabila telah sampai di kampung halaman, hindari interaksi sosial dengan mengisolasi diri selama 14 hari.

Kompak Tumpas Covid-19

Kerja keras untuk mengakhiri pandemi ini bukan hanya tugas pemerintah dan tenaga medis saja ya, teman-teman. Bagaimanapun, kita sebagai warga sipil yang jumlahnya jauh lebih besar dari mereka justru yang paling berpengaruh untuk memutus mata rantai penularan virus covid-19. Caranya dengan tidak mudik dulu di hari raya Idul Fitri ini. Silahturahmi memang penting, tapi jauh lebih penting memprioritaskan kesehatan anggota keluarga di kampung halaman. Tahan…ini hanya sementara! Jika teman-teman mau sedikit saja rela berkorban, teman-teman sudah turut andil menjadi pahlawan pembasmi covid-19. Saat semuanya berakhir, mudiklah dan habiskan waktu teman-teman bersama keluarga dan orang-orang tercinta. Jadi untuk saat ini, menahan diri dengan di rumah aja sudah menjadi keputusan yang paling baik. Apalagi, saat ini komunikasi sudah canggih! Melepas kangen dengan video call bisa menjadi obat rindu yang cukup ampuh, lho. Stay safe, stay healthy!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Debus: Dari Atraksi Ekstrem dari Banten

Jika kamu ingin mempelajari dan mengeksplorasi berbagai kebudayaan yang ada di Banten, rasanya kurang lengkap jika belum menyaksikan...

Carok, Tradisi Duel Sengit dari Madura

Indonesia dikenal sebagai negara multikultural. Negara ini terdiri dari beragam suku bangsa yang masing-masing memiliki kebudayaan yang khas...

Komentar terkini