Home Uncategorized Lebih Ramah Lingkungan, Inilah Cara Kurangi Penggunaan Kantong Plastik!

Lebih Ramah Lingkungan, Inilah Cara Kurangi Penggunaan Kantong Plastik!

Saat ini, gerakan untuk kurangi plastik dalam kehidupan sehari-hari tengah digalakkan oleh masyarakat di seluruh dunia, dan Indonesia adalah salah satunya.

Apalagi, Indonesia tercatat menduduki peringkat kedua daftar negara di dunia yang “menyumbangkan” sampah plastik ke laut.

Tapi, siapa yang menyangka kalau sebenarnya plastik diciptakan justru dengan tujuan untuk membantu alam semesta, bukannya mengotorinya? Pertama kali dibuat oleh Sten Gustaf Thulin, kantong plastik dibuat dan diperkenalkan sebagai pengganti kantong kertas. Karena kantong kertas tidak bisa digunakan berulang-ulang, sehingga jumlah sampahnya makin menumpuk.

Industri plastik sintetis sendiri tumbuh pada masa Perang Dunia II, di mana tuntutan untuk menjaga sumber daya alam sangat tinggi. Akibatnya, produk-produk berbahan plastik jadi alternatif yang diprioritaskan dibandingkan produk berbahan dari alam, termasuk kantong plastik.

Di samping itu, plastik juga terus mengalami perkembangan. Contohnya adalah pengenalan plastik PET (polyethylene terephthalate) untuk botol minuman bersoda karena mampu menahan dua tekanan atmosfer. Dan seiring dengan berlalunya waktu, makin banyak jenis plastik yang diperkenalkan serta dipergunakan untuk berbagai produk yang digunakan manusia sehari-hari, mulai dari peralatan rumah tangga hingga pakaian.

Akan tetapi, setelah masa perang sudah lama berlalu dan masyarakat di dunia mulai memasuki era modern, muncul persepsi baru mengenai plastik, termasuk kantong plastik. Setelah adanya penemuan puing-puing plastik di lautan untuk pertama kalinya pada periode 1960-an.

Pada momen tersebut, diikuti dengan peristiwa lain yang berkaitan dengan polusi dan ancaman terhadap ekosistem, mulai banyak suara yang mencetuskan bahwa plastik dapat menjadi sampah atau limbah yang wajib diwaspadai karena mampu merusak lingkungan.

Kira-kira sejak periode 1970-an hingga saat ini, plastik telah mendapatkan cap sampah perusak lingkungan. Apalagi, plastik tidak dapat diuraikan sehingga tumpukan sampahnya hanya akan terus menumpuk dan tidak pernah hancur.

Lantas, apa strategi yang bisa teman-teman lakukan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai? Saat ini, sudah banyak perusahaan yang memproduksi dan menggunakan kantong biodegradasi, alias yang bisa diuraikan secara alami, seperti kantong kertas, atau kantong “plastik” yang terbuat dari bahan organik dan biodegradasi. Hanya saja, produksi kantong biodegradasi ini jauh lebih mahal dibandingkan plastik, sehingga berdampak pada biaya operasional perusahaan.

Alternatif lain yang bisa teman-teman coba adalah untuk selalu membawa tas belanja atau tote bag ke mana pun teman-teman pergi, terutama ketika berbelanja. Tas belanja terbuat dari kain yang pastinya akan jauh lebih awet dan tahan lama dibandingkan kantong kertas, sehingga bisa teman-teman gunakan dalam jangka panjang, bahkan hingga bertahun-tahun. Dengan begitu, teman-teman jadi tidak perlu menggunakan kantong plastik ketika berbelanja, kan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini