Home Jejak Tokoh Laksamana Malahayati, Wanita Tangguh Dari Ujung Barat Indonesia

Laksamana Malahayati, Wanita Tangguh Dari Ujung Barat Indonesia

Untuk kalian para pecinta sejarah, pasti kalian pernah mendengar perwira-perwira angkatan laut seperti Khairuddin Barbarossa, Ferdinand Magelhaens, Alfonso de Albuquerque. Yap mereka adalah perwira-perwira terkenal di Eropa abad 16 yang sudah sangat dielu-elukan di lautan karena berbagai prestasinya. Namun, siapa sangka bahwa dulu kita juga punya laksamana yang sangat ditakuti di lautan bahkan oleh orang Eropa sekalipun. Ialah Laksamana Malahayati, wanita tangguh dari ujung barat Indonesia yang pernah membuat bangsa Eropa terkencing-kencing.

Laksamana Malahayati lahir di Aceh Besar pada tahun 1550 yang masih keturunan langsung dari Sultan Salahuddin Syah dengan ayahnya yang bernama Laksamana Mahmud Syah. Lahir di kalangan bangsawan tak serta merta membuat Malahayati hidup bermegah-megahan. Hidupnya tidak dihabiskan untuk bersolek atau memasak di dapur seperti wanita pada umumnya. Justru ia lebih menyukai ilmu peperangan dan ilmu kenegaraan.

Pada suatu pertempuran di Selat Malaka melawan Portugis, suami Malahayati syahid di sana. Alih-alih bersedih dan merenung, tapi ia tetap tegar dan bersumpah untuk membalas kematian suaminya. Atas kejadian itulah ia meminta izin pada sultan Aceh saat itu untuk membentuk dan memimpin suatu unit pasukan yang terdiri dari janda yang suaminya syahid saat berperang. Di kemudian hari, unit pasukan ini dikenal sebagai Inong Balee.

Inong Balee nantinya terdiri dari sekitar 2000 pasukan dengan 100 kapal perang lengkap dengan meriamnya. Meski didedikasikan untuk para janda, namun akhirnya banyak pula gadis muda yang tertarik untuk bergabung dalam unit pasukan ini. Inong Balee nantinya akan menjelma menjadi suatu pasukan elit yang menjadi hantu bagi para pelaut-pelaut Eropa.

Saya yakin kalian pernah mendengar nama Cornelis de Houtman dari buku sejarah kalian kan? Namun, tidak terlalu jelas diajarkan bagaimana nasib dari Cornelis setelah membuat kekacauan dan hengkang dari Banten. Ternyata selepas dari Banten, Cornelis masih saja membuat kekacauan seperti di Madura, Bali, sampai berakhir tragis di Aceh.

Yap, Cornelis De Houtman benar-benar melakukan kesalahan terbesarnya untuk mencari masalah dengan Kesultanan Aceh saat itu. Saat armadanya hendak membuat kekacauan di Aceh, Armada Inong Balee telah siap berjaga dan membuat armada Belanda keteteran. Dan pada saat inilah, Cornelis de Houtman yang congkak ini terbunuh. Apakah kalian tahu siapa yang membunuhnya? Ya, Laksamana Malahayati sendiri yang membunuhnya dengan rencong saat duel satu lawan satu.

Seorang perwira Belanda lainnya yaitu Paulus van Caerden juga mencari masalah dengan menjarah dan menenggelamkan kapal rempah Aceh. Sultan Aceh yang mendengar kabar ini langsung naik pitam dan memerintahkan Malahayati untuk bertindak. Sang wanita tangguh ini pun menjawab perintah sang sultan dengan memerintahkan pasukannya untuk menangkap Laksamana Jacob van Neck. Karena kuatnya perlawanan dari Aceh, Belanda akhirnya terpaksa menyerah.

Bahkan penguasa Belanda sampai mengirim diplomatnya untuk berunding dengan Malahayati untuk memperbaiki hubungan dengan  Aceh. Malahayati yang mahir dalam berdiplomasi meminta ganti rugi pada pihak Belanda. Pada akhirnya, Belanda bersedia membayar 50.000 Gulden untuk ganti rugi dengan tawanan Belanda dibebaskan.

Bahkan Inggris tak berani macam-macam dengan Aceh. Belajar dari kesalahan Belanda karena mencari masalah dengan Aceh, Inggris memilih berdagang di Aceh dengan damai. Ratu Elizabeth saat itu mengirim Sir James Lancaster untuk meminta izin berdagang di Aceh dengan membawa berbagai hadiah untuk sang Sultan.

Laksamana Malahayati sendiri akhirnya syahid pada tahun 1606 di Selat Malaka saat bertempur dengan Portugis. Beliau dimakamkan di Desa Lamreh, Kecamatan Masjid Besar. Beliau diresmikan menjadi pahlawan nasional pada tahun 2017. Bahkan namanya diakui oleh bangsa Eropa dan kerap disandingkan dengan Catherine the Great dari Rusia.

Disaat dunia menggembar-gemborkan emansipasi  wanita, 4 abad silam seorang wanita tangguh dari Aceh telah membuktikannya. Laksamana Malahayati merupakan sosok inspirasi bagi gadis zaman sekarang. Beliau telah membuktikan bahwa wanita juga bisa memimpin dan memperjuangkan cita-citanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Lorong Kuno di Bekasi Tempat Pembantaian Tentara Jepang? Ini Kata Sejarawan

Soal lorong kuno yang ditemukan di bawah stasiun Bekasi disebut sebagai bekas tempat pembantaian tentara Jepang, sejarawan asal Bekasi Ali Anwar memberi...

Relief Candi Borobudur Ungkap Puluhan Tanaman Jawa Kuno

Puluhan spesies tumbuhan era Jawa kuno terungkap melalui identifikasi relief kisah Lalitavistara di Candi Borobudur. Identifikasi itu dilakukan Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan...

Kerupuk Melarat, Camilan Renyah Digoreng Pakai Pasir

Santap siang selain pakai nasi panas dan sambal pedas, ada satu lagi yang tak boleh dilupakan, yaitu kerupuk. Kerupuk bagi banyak orang...

Smartphone Android Bakal Bisa Deteksi Gempa Bumi

Informasi yang simpang siur serta deteksi dini yang masih minim saat terjadi gempa bumi mendorong ahli untuk merancang deteksi gempa yang terhubung...

Komentar terkini