Home Jejak Klaten, Ibukota Mataram Kuno Berjuluk Kota Seribu Candi

Klaten, Ibukota Mataram Kuno Berjuluk Kota Seribu Candi

Kabupaten Klaten Selasa (28/7/2020) genap berusia 216 tahun. Berbatasan langsung dengan Solo dan Daerah Istimewa Yogyakarta membuat Klaten menjadi saksi sejarah masa lampau.

Klaten di zaman kerajaan, dikenal sebagai ibu kota dari kerajaan Medhang Mataram atau dikenal juga Mataram Kuno.

Kerajaan ini didirikan oleh Sanjaya dari wangsa Badra, setelah memindahkan kekuasaan dari Temanggung usai ditaklukkan Dinasti Syailendra pada tahun 732 Masehi atau tahun Saka 654.

Pada 11 November 866, raja ketujuh Medhang Mataram, Rakai Kayu Wangi atau Lokapala mengumumkan daerah yang sekarang bernama Ngawen sebagai wilayah perdikan atau desa yang diberi otonomi untuk mengatur daerahnya sendiri dan dibebaskan dari pajak kerajaan.

Rakai Kayu Wangi adalah putra Pikatan cucu Sanjaya yang menikah dengan Pramodhawardhani putri Samaratungga dari Wangsa Syailendra. Kayu Wangi adalah simbol penyatuan dua dinasti yang bersaing yakni Wangsa Badra dan Wangsa Syailendra.

Kota Seribu Candi

Kentalnya budaya Hindu-Budha di Jawa Tengah, sehingga banyak situs purbakala seperti candi sering ditemukan di beberapa kota dan kabupaten di provinsi tersebut. Salah satu wilayah yang banyak ditemukan candi adalah Klaten

Maka tak heran Klaten dijuluki sebagai kota seribu candi. Candi-candi yang ditemukan di Klaten berdasarkan penelitian para ahli merupakan tempat perabuan bagi para leluhur ataupun raja-raja yang meninggal dunia.

Selain itu, candi-candi ini juga digunakan untuk tempat bersembahyang para anak cucu juga sebagai penghromatan untuk leluhur yang berpulang.

Saat ini candi-candi dibangun sejak era Sanjaya, Pikatan hingga Kayuwangi atau Lokapala yang masih tersisa di wilayah Kabupaten Klaten antara lain Candi Plaosan, Candi Lumbung, Candi Sojiwan, Candi Bubrah, Candi Sewu, Candi Merak, Candi Gana, dan Candi Prambanan.

Loji Klaten dan Hari Jadi

Berada tepat di tengah antara kekuasaan Kasulatanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunan Surakarta Hadiningrat, kerap muncul konflik mengenai batas wilayah.

Pemerintah Hindia Belanda berlaku sebagai penengah dalam konflik yang terjadi di daerah vorstenlanden atau wilayah kerajaan.

Mengatasi konflik tersebut, Pemerintah Kolonial Belanda, Kasunanan Surakarta, dan Kasultanan Yogyakarta bersepakat untuk membangun benteng di Desa Klaten pada Sabtu Kliwon 12 Rabiulakir 1731 atau 28 Juli 1804.

Loji Klaten memiliki fungsi militer dan administrasi yang penting di masa Hindia Belanda agar meredam konflik wilayah antar dua kerajaan.

Akhirnya Pemerintah Kabupaten Klaten melalui Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2007 menetapkan 28 Juli sebagai hari jadi Klaten. Penetapan tanggal ini berdasarkan peristiwa sejarah peletakan batu pertama Benteng (Loji) Klaten.

Sugeng ambal warso, Klaten!

sumber: milesia.id, bergelora.com, klatenkab.go.id, goodnewsfromindonesia.id, indephedia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini