Home Cerita Kisah Pilu Pejuang Indonesia di Hari Veteran

Kisah Pilu Pejuang Indonesia di Hari Veteran

Setiap tahunnya, pada tanggal 10 Agustus, Indonesia memperingati Hari Veteran Nasional.

Hari Veteran disetujui oleh Presiden Soekarno pada 10 Agustus 1949. Berawal dari adanya gencatan senjata yang disepakati bersama Belanda melalui perjanjian Roem-Royen.

Dikutip dari situs resmi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, jenis Veteran Republik Indonesia ditentukan berdasarkan peristiwa keveteranan.

Secara umum ada tiga tingkatan Veteran, yang tertinggi adalah Veteran perang kemerdekaan, kemudian Veteran perang untuk mempertahankan kemerdekaan bangsa dari agresi luar negeri, dan selanjutnya adalah Veteran perang untuk membela kepentingan bersama bangsa-bangsa yang menjadi sekutunya.

Hari peringatan ini telah diatur dalam Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 30 Tahun 2014 tentang Hari Veteran Nasional.

Pada Peraturan Presiden (Perpres) 79/2014 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2012 tentang Veteran Republik Indonesia dijelaskan beberapa hak-hak yang diterima oleh para veteran Republik Indoneia beruap Keringanan kewajiban pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), keringanan pembayaran biaya penggunaan transportasi jasa angkutan penumpang.

Tak hanya itu, veteran juga mendapat jaminan pemeliharaan kesehatan, keringanan biaya pendidikan, bimbingan usaha kecil dan menengah,dan hal memperoleh perlindungan hukum.

Namun, meski telah tertulis dalam keppres, rupanya masih banyak veteran yang masih menyisakan kisah pilu di hari tuanya.

Rohadi, pejuang Dwikora asal Semarang ini di masa tuanya bekerja sebagai pengayuh becak. Dikutip dari video yang diunggah channel Youtube, X-Channel,Rohadi pernah berjuang di Tanjung Pinang menghadapi pasukan sekutu.

Dirinya mengaku memiliki surat resmi yang menyatakan dirinya sebagai keanggotaan Dwikora, namun Rohadi memilih untuk mencari penghasilan sebagai pengayuh becak.

Tak berbeda jauh dengan Rohadi,salah seorang pejuang Dwikora lainnya, Pelan harus mengubur mimpi untuk hidup bahagia di masa tuanya.

Kini, tangannya yang gagah memanggul lebih banyak berjibaku dengan ban peralatan bengkel.

Ya, Paelan sang pejuang Dwikora sekarang harus menerima nasib sebagai seorang tukang tambal ban lantaran dana tunjangan yang hanya cukup untuk hidup sehari-hari.


Dikutip dari Boombastis.com, Paelan dibawa dari pulau Jawa ke Sumatera untuk berjuang melawan gempuran Inggris dalam pertempuran Dwikora.

Lelaki yang bergabung di pasukan sukarelawan ini maju di garda depan melawan kecanggihan para pasukan Inggris di wilayah perbatasan Malaysia.

Rohadi dan Paelan, dua diantara sekian banyak veteran yang masih harus berjuang menghidupi diri dan keluarganya dengan pekerjaan yang terasa berat untuk ukuran seusia mereka.

Namun mereka tahu hidup harus terus berlanjut. Mengandalkan tunjangan saja tak cukup. Apalagi bagi yang tak memperoleh tunjangan.

Namun, bagi mereka, kemerdekaan yang kini dirasakan oleh anak dan cucu sudah membuat mereka senang dan bangga luar biasa bahwa perjuangan para veteran tak sia-sia. Perjuangan yang harusnya mendapat perhatian lebih dari pemerintah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini