Home Jejak Tokoh Kisah Jakob Oetama, Sang Pendiri Kompas yang Sudah Berpulang

Kisah Jakob Oetama, Sang Pendiri Kompas yang Sudah Berpulang

Jakarta, 09 September 2020 dunia media nusantara dirundung duka. Bagaimana tidak, salah satu tokoh jurnalis, guru, dan wirausahawan itu tutup usia pada usia 88 tahun.

Dialah Jakob Oetama, yang lahir di Borobudur, Magelang, 27 September 1931 seorang putra pensiunan guru dari Sleman, Yogyakarta. Dirinya dikenal sebagai pribadi yang inspiratif, pekerja keras, dan selalu bersemangat.

Namanya tidak hanya besar karena telah mendirikan surat kabar Kompas, namun sebelum menjajaki diri di dunia jurnalistik, Jakob Oetama adalah seorang guru.

Mengutip dari Wikipedia.org, berikut riwayat pekerjaan Jakob Oetama dalam dunia pendidikan.

  • Guru SMP Mardiyuana, Cipanas (1952-1953)
  • Guru Sekolah Guru Bantu (SGB), Bogor (1953-1954)
  • Guru SMP Van Lith, Jakarta (1954-1956)

Karir jurnalistik Jakob Oetama dimulai pada tahun 1956, pada usia 25 tahun beliau mendapat kepercayaan menjadi redaktur mingguan Penabur, Jakarta. Sebagai wartawan, Jakob Oetama muda memiliki banyak relasi sesama wartawan ternama saat itu diantaranya Parada Harahap, Adinegoro, Mochtar Lubis, Kamis Pari, juga Rosihan Anwar.

Jakob Oetama merupakan lulusan dari Perguruan Tinggi Publisistik Jakarta yang sekarang berganti nama Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( IISIP ) dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Rekam jejak karir Jakob Oetama ternyata mendapatkan perhatian khusus dari UGM, sehingga pada 15 Mei 2017 beliau mendapatkan Lifetime Achievement Award.

Pemberian penghargaan tersebut merupakan penghargaan pertama kalinya yang diberikan UGM kepada alumnusnya. Menurut Kuskridho Ambardi, selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Jakob Oetama telah berkontribusi aktif untuk menaikan level jurnalistik di Tanah Air.  

Terdapat dua langkah besar yang dilakukan Jakob Oetama dalam jejak kewartawanannya di tanah air. Pertama, bersama PK Ojong beliau berani mendirikan harian Kompas di mana saat itu sedang terjadi gejolak sosial, politik, dan ekonomi yang menjadikan keterbatasan ruang kebebasan bersuara.

Yang kedua, jejak Jakob Oetama dalam ranah bisnis yaitu dengan berdirinya Kelompok Kompas Gramedia ( KKG ) sebagai gugus konglomerasi media yang berkembang menjadi bisnis percetakan, media, televisi, hotel, dan Universitas Multimedia Nusantara.  

Jika ditarik lebih jauh lagi, jauh sebelum berdirinya surat kabar Kompas, PK Ojong telah menggandeng Jakob Oetama untuk mendirikan majalah Intisari pada tahun 1963. Majalah ini berkiblat pada majalah asal Amerika yang bernama Reader’s Digest. 

Sebagai seorang jurnalis, Jakob Oetama menghasilkan 4 karya tulis yang sangat menginspirasi. Bersumber dari Wikipedia.org berikut karya tulis dari Jakob Oetama :

  • Kedudukan dan Fungsi Pers dalam Sistem Demokrasi Terpimpin (skripsi di Fisipol UGM tahun 1962)
  • Dunia Usaha dan Etika Bisnis (Penerbit Buku Kompas, 2001)
  • Berpikir Ulang tentang Keindonesiaan (Penerbit Buku Kompas, 2002).
  • Bersyukur dan Menggugat Diri (Penerbit Buku Kompas, 2009)

Dalam sebuah artikel Kompas, terdapat kutipan Jakob Oetama yang tak kalah menginspirasi yaitu “Bekerja bukan sekadar cari nafkah, tapi ekspresi diri” ini menunjukan bahwa bagi seorang Jakob Oetama, ruang untuk mengekspresikan diri bisa dituangkannya lewat bekerja. Tentunya kata-kata tersebut bukan hanya sekedar quotes semata ya teman-teman, tapi bisa dijadikan pedoman bahwa bekerja merupakan media mengekspresikan, mengembangkan, serta menunjukan talenta diri yang sejati.

Selamat tinggal Jakob Oetama, terima kasih atas 88 tahun dedikasi, semangat, serta inspirasi yang sudah diberikan untuk negeri ini. Kami akan terus merindukan insan-insan inspiratif sepertimu, tunggu generasi kami yang akan meneruskan jejak luhur serta semangatmu di masa lalu. – LMF

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini