22.4 C
Indonesia
Thursday, December 2, 2021

TAPAK.id

spot_img

Keris Sunan Gunung Jati Menangis dalam Pusaran Konflik

Ganggaman (Bahasa Sunda), atau dalam tradisi Jawa disebut lebih singkat dengan kata gaman, merupakan istilah yang merujuk pada alat untuk membantu pertahanan diri manusia. Konsep ini sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka, dan telah berkelindan dengan masyarakat sebagai bagian dari adat dan kebudayaan yang tidak terpisahkan satu sama lain.

Pada zaman dahulu, sebagian besar penduduk Pulau Jawa telah mengenal peristilahan ini karena ganggaman menjadi atribut khusus yang umumnya dibawa kemana-mana oleh setiap lapisan masyarakat. Tidak hanya kalangan atas atau bangsawan kerajaan, lapisan rakyat bawah pun memiliki gaman-nya sendiri-sendiri. Yang membedakan mungkin hanya bentuk dan asesorisnya semata.

Syarif Hidayatullah, yang masyhur dikenal sebagai Kanjeng Sunan Maulana Jati, juga disebut-sebut memiliki gaman istimewanya sendiri, yakni sebilah keris berasesoris naga. Ada yang mengidentifikasinya sebagai Keris Ki Kantanaga, namun ada juga yang menyatakannya sebagai Keris Sanghyang Naga. Apapun namanya, karakter utama gaman itu adalah hewan mitologi nan legendaris tersebut.

Memang ada saja yang menyangsikan keberadaan keris itu dan menyebutkannya sebagai karangan para penulis babad untuk mengkultuskan sang penguasa Cirebon. Namun apabila ditelisik lebih jauh, di Tatar Pasundan, keris memang dikenal sebagai ganggaman para prabu atau raja. Dengan demikian wajar apabila Sunan Maulana Jati memiliki keris karena ia adalah seorang raja pada masanya.

Keris milik Kanjeng Sunan Cirebon, dikisahkan memiliki kesaktian yang sangat mengerikan bagi lawan. Bagaimana tidak, dalam setiap peperangan, keris itu setia menemani Sunan Maulana Jati dalam genggaman. Bersama sang empunya, Ki Sanghyang Naga telah menaklukan banyak wilayah dan memaksa penduduknya untuk menerima otoritas kekuasaan Cirebon atas daerah tersebut.

Dengan kata lain, gaman itu tidak hanya menjadi senjata fungsional Syekh Syarif Hidayatullah, namun turut menjadi sahabat sekaligus saksi sejarah Kanjeng Sunan dalam dakwahnya menyebarkan syiar Islam di wilayah Pasundan. Panjang sudah perjalanan yang dilalui bersama oleh keduanya, sehingga baik Kanjeng Sinuwun ataupun sang gaman tampak menyatu sebagai kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Seandainya Keris Sunan Gunung Jati masih ada, dan memiliki kemampuan pancaindra seperti halnya manusia, maka saat ganggaman itu melihat bagaimana (orang yang mengaku) keturunan tuannya senantiasa berselisih dan terus terjerumus di dalam pusaran konflik yang berkesinambungan, mungkin keris itu akan menangis. Ia tahu betul, ego dan keserakahan hawa nafsu saat ini, bukanlah kepribadian yang ada dalam diri Sunan Maulana Jati.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

20,753FansSuka
3,042PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles