Home Lifestyle Traveler Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Adat di Kaki Gunung Halimun

Kasepuhan Ciptagelar, Kampung Adat di Kaki Gunung Halimun

Beberapa waktu lalu publik dikejutkan dengan kabar penghapusan kampung wisata adat suku Baduy dari peta wisata Indonesia. Namun, isu tersebut dibantah Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya.

Menurutnya tidak ada permintaan dari suku Baduy agar kampungnya dihapuskan dari peta wisata. Ivi bahkan geram adanya oknum yang mengaku sebagai perwakilan suku Baduy yang ditugaskan untuk mengirim surat ke presiden soal wacana penghapusan kampung adat suku Baduy.

Berbicara kampung adat, tidak hanya kampung adat suku Baduy yang ada di Lebak, Banten. Bergeser ke wilayah Jawa Barat ada kampung adat yang bernama Kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar.

Dikutip dari ciptagelar.info, Kasepuhan Ciptagelar adalah masyarakat hukum adat yang berada di kawasan pedalaman Gunung Halimun-Salak.

Istilah kasepuhan berasal dari bahasa Sunda, yang secara umum artinya adalah mereka yang dituakan.

Secara spesifik wilayah perkampungan masyarakat Kasepuhan Ciptagelar atau Kampung Gede Ciptagelar tersebar di tiga kabupaten yang berada di sekitar wilayah perbatasan Provinsi Banten dan Jawa Barat.

Berdasarkan catatan yang ada, Kasepuhan Adat Ciptagelar mulai berdiri pada 1368 dan telah beberapa kali mengalami perubahan kepemimpinan yang dilakukan secara turun temurun.

Kampung adat ini adalah merupakan sebuah kawasan yang tidak pernah tersentuh oleh perkembangan zaman dan menjunjung tradisi serta budaya Sunda.

Di kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar, pengunjung dapat menyaksikan rumah-rumah adat yang berbentuk rumah panggung. Rumah adat tersebut dibuat dengan material alam seperti bambu dan kayu. Di bagian atap, penduduk menggunakan dedaunan yang dibuat sedemikian rupa hingga menjadi atap yang ringan namun kokoh.

Setiap rumah di Kasepuhan Ciptagelar harus memiliki kolong sebagai bentuk penghormatan terhadap unsur kehidupan di dalam tanah.

Dikutip dari IDNtimes.com, kampung adat ini dipimpinoleh seseorang laki-laki yang dijuluki Abah. Saat ini dipimpin Abah Ugi Sugriana Rakasiwi.

Penduduk kampung Gede Kasepuhan Ciptagelar umumnya berprofesi sebagai petani. Pola pertanian dijalankan secara tradisional dengan ketentuan adat istiadat leluhurunya yakni melarang menjual padi dari hasil cocok tanam.

Karena bergangutung pada hasil tani, terutama padi. Penduduk kampung adat kasepuhan Ciptagelar begitu menjunjung tinggi hasil pertanian mereka lewat sebuah upacara adat yang biasa dikenal dengan seren taun. Sebuah tradisi dimana masyarakat bersama-sama memasukan padi ke dalam lumbung.

Meski menjadi daerah wisata, pengunjung harus patuh terhadap peraturan dan tata tertib yang ada di kampung wisaya. Jangan sampai merusak ekosistem dan benda-benda budaya yang ada di dalamnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Sejarah Pendidikan Perempuan di Siak Sri Indrapura

Sejak dahulu pendidikan merupakan hal yang sangat diperlukan bagi seluruh perempuan agar menjadi sosok individu yang cerdas, kreatif, berpengetahuan luas, dan inovatif....

Perwalian Kekuasaan Putra Wiralodra

F. C. Hasselaer adalah salah seorang pejabat VOC yang selanjutnya berposisi sebagai Residen Cirebon. Dalam memorinya yang berangka tahun 1765, pejabat yang...

Banten : Tanah Para Ksatria

Mungkin kita sepakat bahwa saat ini Banten adalah tanahnya para jawara. Tidak terhitung sudah berapa jumlah pendekar yang dihasilkan daerah itu dari...

Komentar terkini