Home Lifestyle Traveler Kampung Naga: Melestarikan Tradisi dan Budaya dengan Menjaga Amanah Leluhur

Kampung Naga: Melestarikan Tradisi dan Budaya dengan Menjaga Amanah Leluhur

Masyarakat adat merupakan istilah yang sering dipakai di Indonesia untuk merujuk penduduk asli yang masih mempertahankan tradisinya dari zaman dulu hingga sekarang. Di Jawa Barat, ada sebuah desa adat yang sangat populer, yaitu Kampung Naga yang terletak di daerah Tasikmalaya.

Dari namanya yang terdapat kata “Naga”, orang-orang yang pertama kali mendengar mungkin berpikir di kampung ini terdapat pengaruh Tionghoa. Hal ini dikarenakan naga sering diidentifikasi dengan kebudayaan Tionghoa. Padahal, sejarah dan tradisi di Kampung Naga tidak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa sama sekali.

Dari pada penasaran mengapa penamaannya demikian, yuk, simak artikel di bawah ini tentang sejarah dan tradisi yang ada di Kampung Naga.

Sejarah Kampung Naga

Jika banyak orang mungkin berpikir nama “Naga” diambil karena pengaruh kebudayaan Tionghoa, hal tersebut tidaklah benar. Nama Kampung Naga justru diambil dari Bahasa Sunda, yaitu “Na Gawir” yang berarti “jurang”. Nama ini diberikan karena lokasi kampung ini yang berada di dekat jurang, tepatnya di dekat Sungai Ciwulan.

Namun sayang, tidak ada bukti pasti mengenai sejarah berdrinya kampung ini. Hal ini dikarenakan peninggalan nenek moyang di kampung ini terbakar pada 1956. Walaupun demikian, masyarakat lokal percaya bahwa kampung ini didirikan oleh Mbah Dalem Singaparna.

Mbah Dalem Singaparna merupakan seorang abdi dari Sunan Gunung Jati yang saat itu berdakwah di daerah Jawa Barat.  Singaparna ditugaskan untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa Barat.

Melalui perintah tersebut, Singaparna melakukan semedi dan mendapat ilham untuk menyebarkan agama Islam di wilayah yang saat ini disebut Kampung Naga.

Tradisi dan hal-hal tabu di Kampung Naga

Hingga saat ini, tradisi-tradisi yang ada dari zaman dulu masih dipelihara dengan baik di Kampung Naga. Mereka percaya bahwa kesejahteraan bisa didapatkan dengan melestarikan tradisi budaya yang telah diturunkan oleh leluhur mereka.

Bahan-bahan pembuatan rumah di Kampung Naga jelas sangat berbeda dengan banyak wilayah di Indonesia. Jika rumah-rumah kita kebanyakan terbuat dari beton, keramik, dan sebagainya, rumah di Kampung Naga dibangun dari bahan-bahan yang diperoleh dari alam, seperti kayu dan bambu. Atapnya juga terbuat dari alang-alang, ijuk, atau daun nipah.

Warga di kampung ini percaya dengan makhluk-makhluk tidak kasat mata, baik makhluk ghaib maupun nenek moyang mereka di zaman dulu. Mereka bahkan menyiapkan 2 tempat yang tidak bisa diganggu untuk menghormati mereka, disebut dengan hutan larangan dan hutan keramat.

Kampung Naga juga memiliki beberapa hal yang dianggap tabu, misalnya dari cara berpakaian. Semua warga dilarang memakai baju kurung, sepatu, dan sandal. Untuk kaum pria dilarang memiliki rambut panjang. Namun, untuk para pendatang, hal tabu tersebut tidak diberlakukan.

Mengaku pecinta budaya asli Indonesia? Yuk, jalan-jalan ke Kampung Naga

Jika tertarik dengan kebudayaan asli Indonesia, bukan hanya desa adat Suku Baduy di Banten atau Kampung Wae Rebo di NTT yang bisa kamu kunjungi.

Kampung Naga yang terletak di daerah Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, hanya sekitar 30 km dari Kota Tasikmalaya dan 26 km dari Garut.

Masyarakat adat di Kampung Naga sangat ramah kepada orang-orang yang datang ke kampungnya. Tidak hanya untuk tujuan wisata, Kampung Naga juga sering dijadikan sebagai tempat penelitian antropologi untuk mempelajari masa-masa peralihan Hindu ke kebudayaan Islam di Indonesia, khususnya Jawa Barat.

Itu dia fakta tentang Kampung Naga yang perlu kamu ketahui. Jika tertarik mengunjungi Kampung Naga, yuk, segera direalisasikan! Toh jaraknya tidak terlalu jauh dari Tasikmalaya dan Kota Garut, kan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Sejarah Pendidikan Perempuan di Siak Sri Indrapura

Sejak dahulu pendidikan merupakan hal yang sangat diperlukan bagi seluruh perempuan agar menjadi sosok individu yang cerdas, kreatif, berpengetahuan luas, dan inovatif....

Perwalian Kekuasaan Putra Wiralodra

F. C. Hasselaer adalah salah seorang pejabat VOC yang selanjutnya berposisi sebagai Residen Cirebon. Dalam memorinya yang berangka tahun 1765, pejabat yang...

Banten : Tanah Para Ksatria

Mungkin kita sepakat bahwa saat ini Banten adalah tanahnya para jawara. Tidak terhitung sudah berapa jumlah pendekar yang dihasilkan daerah itu dari...

Komentar terkini