Home Jejak Kampung Empang Berawal dari Kolam Ikan Milik Bupati

Kampung Empang Berawal dari Kolam Ikan Milik Bupati

Empang adalah nama salah satu kelurahan di Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Bagi yang seringi melewati atau bagi warga Kota Bogor, kawasan ini terkenal sebagai perkampungan etnis Arab.

Asal muasal Empang menjadi perkampungan etnis Arab berawal pada tahun 1835. Saat itu pemerintah Kolonial Hindia-Belanda mengeluarkan Undang-Undang Wijkenstelsel yang isinya antara lain mengenai kampung etnis.

Daerah Empang kemudian dijadikan sebagai kawasan perkampungan Arab. Sedangkan bangsa Eropa di tengah pusat Kota Bogor dekat kebun raya dan kawasan pecinan di Suryakencana, Bogor Timur.

Jauh sebelum menjadi kawasan bagi etnis Arab, kawasan Empang merupakan lapangan yang luas dan sering menjadi tempat berkumpul penduduk di masa kerajaan Padjajaran.

Di tempat itu pula terjadi peperangan antara pasukan Banten dengan Pajajaran. tersebut melibatkan ratusan prajurit yang bertempur mati-matian dengan menggunakan tombak, kujang, dan panah.

Di dalam buku Sejarah Bogor yang ditulis Saleh Danasamita, disinggung tentang keberadaan Kampung Empang. Di dalam bab Purwacarita di buku itu disebutkan, “Dalam tahun tersebut (1754) kedudukan Bupati Bogor pindah dari Tanah Baru ke Sukahati yang kemudian dikenal dengan nama Kampung Empang. Sejak saat itu Kota Bogor mulai tumbuh sebagai pusat pemerintahan yang makin mantap.”

Wilayah Empang yang awalnya bernama Soekaati (Sukahati) dan menjadi pusat pemerintahan Kampung Baru yang dikemudian hari diketahui menjadi cikal bakal Kabupaten Bogor.

Sebutan Empang muncul ketika Bupati Kampung Baru, yaitu Demang Wiranata yang berkuasa 1749-1758 membuat kolam ikan di halaman pendopo.

Wiranata sendiri memang sebelumnya menjabat sebagai Patih Cianjur dan juga adik dari Wiratanu III (Dalem Cicondre) yang sangat dikenal VOC sebagai pelopor perkebunan kopi di Jampang.

Karena pembuatan kolam itu akhirnya daerah tersebut pun diidentikkan dengan Empang dan nama Sukahati perlahan-lahan mulai lenyap. Di tahun 1815 dibangun Masjid An Nur oleh Habib Abdullah Bin Mukhsin Alatas.

Meski zaman telah berubah, masih ada sejumlah bangunan peninggalan masa lampau yang masih bisa dilihat di kawasan Empang, antara lain, Masjid An Nur, Masjid Agung Empang, Makam Habib Abdullah bin Mukhsin Al Attas, bekas Rumah bupati Kampung Baru, Rumah Kapitan Arab, makam keluarga Dalem Shalawat, serta Bendungan Empang.

sumber: pojoksatu.id, sejarahbogor.com, sabogor.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini