Home Lifestyle Ini Alasan Demam Drama Korea Melanda Indonesia

Ini Alasan Demam Drama Korea Melanda Indonesia

Siapa yang tidak suka dengan drama Korea? Drama Korea atau dikenal juga dengan K-Drama pertama kali melalui jaringan radio di saluran Korean Broadcasting System (KBS) tahun 1927. Mulanya tayangan drama tersebut difokuskan sebagai edukasi masyarakat dan dukungan terhadap militer hingga kini berjaya dilayar kaca dengan beragam genre.

Candunnya masyarakat Indonesia dengan budaya populer Korea Selatan tidak lepas dari deretan acara hiburan yang tayang di televisi tanah air. Bagaimana tidak? Banyak alasan demam drama Korea melanda Indonesia.

Mulai dari persona aktor dan aktris yang memikat, plot cerita yang mengagumkan bahkan kadang hampir jarang bisa ditebak, iringan latar belakang lagu yang memilukan hati, serta akting makan yang sering disisipkan hingga membuat para penonton menjadi ikutan lapar dan masih banyak lagi.

Yang hanya berawal dari China dan Jepang, akhirnya perkembangan dunia hiburan yang sangat pesat membawa drama Korea menembus pasar Indonesia pada medio 2000an.

Endless Love, drama korea pertama yang mulai mengambil hati masyarakat Indonesia terutama kaum hawa. Drama korea ini berhasil membuat penonton tanah air berderai air mata dan meningkatkan minat untuk terus menonton drama-drama korea lainnya.

Kesuksesan K-drama tidak hanya berakibat pada meningkatnya hasrat masyarakat tanah air pada tayangan-tayangan dari Negeri Gingseng, tetapi juga merangsang ketertarikan pada dunia hiburan dan budaya popular Korea Selatan secara keseluruhan.

Berbagai stasiun televisi dan platform digital berlomba-lomba membuat program khusus bertemakan Korea Selatan.

Hallyu atau Korean wave merupakan sebutan kebudayaan atau pop culture yang berasal dari Korea Selatan. Dalam Korean wave ini publik disuguhkan informasi tentang kebudayaan Korea Selatan melalui musik, film, drama, makanan, fashion dan trend.

Korean wave menjadi bentuk nyata kemujuran pemerintah Korea Selatan melakukan inflitrasi budaya diberbagai negara di tengah derasnya arus globalisasi budaya Barat.

Namun, booming-nya budaya Korea Selatan atau K-Pop seperti saat ini tidak ditempuh dengan cara yang instan.

Sejak dua puluh tahun lalu pemerintah Korea Selatan merancang planning Korea masa depan dengan budayanya yang digemari banyak orang di dunia.

Pemerintah Korea Selatan sejak saat itu memberikan program beasiswa besar-besaran bagi para artis dan seniman di negaranya untuk mencari ilmu yang berkaitan dengan dunia entertain di Amerika Serikat dan Eropa menjadi tujuan utama.

Dari program tersebut lahirlah aktor dan aktris tersohor saat ini yang mengerti selera musik, gaya hidup, bahkan selera pasar. Hasilnya, kini pemerintah setempat memetik buah dari keseriusannya menggarap tagline ‘Korea Masa Depan’.

Strategi pemerintah Korea Selatan untuk memberikan program beasiswa sukses menjadikan Korea Selatan sebagai negara yang dapat memberi pengaruh besar dalam bidang hiburan secara global.

Korean wave juga berhasil mendobrak lintas zaman karena terlihat dari keberhasilannya yang tidak hanya membuat anak muda demam K-Drama, melainkan juga para orangtua yang tidak segan menyisihkan waktunya untuk menyaksikan drama Korea.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Banten : Tanah Para Ksatria

Mungkin kita sepakat bahwa saat ini Banten adalah tanahnya para jawara. Tidak terhitung sudah berapa jumlah pendekar yang dihasilkan daerah itu dari...

Penyamun Kidul, Si Pengacau Kompeni

Pasca merengkuh Tanah Priangan dari Mataram melalui serangkaian perjanjian di tahun 1677, Kompeni tidak langsung mengurus wilayah barunya itu. Di samping maskapai...

Pembagian Wilayah Cirebon Dari Masa Ke Masa

Sejak dirintis oleh Pangeran Walangsung a.k.a Pangeran Cakrabuana di era Pajajaran akhir, Cirebon telah mengalami perkembangan yang luar biasa. Pedukuhan kecil yang...

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Komentar terkini