Home Jejak Agrikultur Indonesia Eksportir Beras Sejak Zaman Kerajaan Majapahit, Begini Nasibnya Sekarang

Indonesia Eksportir Beras Sejak Zaman Kerajaan Majapahit, Begini Nasibnya Sekarang

Masyarakat Indonesia tidak bisa dipisahkan dari pertanian. Itulah sebabnya Indonesia dijuluki negara agraris karena sebagian dari penduduknya berprofesi sebagai petani yang memproduksi beras.

Sejumlah kota di Indonesia seperti Cianjur dan Solok terkenal sebagai penghasil beras terbaik di tanah air. Dengan lahan sawah yang memadai, Indonesia pernah menjadi salah satu negara pengekspor beras.

Nusantara pengekspor beras terbesar
Dosen ilmu sejarah Universitas Indoensia, Muhammad Iskandar mengatakan bahwa dahulu Nusantara dikenal dengan pengekspor beras. Sejumlah wilayah di kawasan Asia Tenggara selalu mengimpor beras yang dipasok kerajaan Majapahit. Sejak abad ke 14, beras menjadi komoditas utama sektor ekonomi Nusantara.

Eksportir beras di era kolonial terjegal perang dunia
Di era kolonial, harga beras di tanah air dimonopoli oleh Pemerintah Hindia Belanda. Dibawah kebijakan dan kontrol ketat, ekspor beras terus dilakukan ke berbagai negara.

Pecahnya perang dunia I mengakibatkan jalur perdagangan ke Asia dan Eropa juga terhambat. Imbasnya harga beras melambung tinggi sehingga ekspor beras terhenti.

Eksportir beras di era demokrasi terpimpin
Di era demokrasi terpimpin eksportir beras sudah mulai berkurang sehingga devisa negara mengalami penurunan. Pemerintah tidak tinggal diam. Salah satu program yang yang dicanangkan untuk alternatif beras adalah jagung. Jagung dianggap lebih mudah ditanam dibandingkan padi. Nahas, program diversifikasi pangan dari beras ke Jagung tidak berhasil.

Eksportir beras menurun di masa orde baru
Di masa orde baru eksportir beras juga mengalami penurunan. Cara pemerintah mengatasinya dengan menggenjot pendapatan negara melalui ekspor minyak. Saat itu, pemerintah melakukan inovasi dengan membentuk swasembada pangan. Tujuannya agar tidak ada rakyat Indonesia yang mengalami kelaparan.

Hancurnya swasembada pangan, alasan impor beras
Harga minyak dunia turun di akhir medio 80-an, sektor pertanian terimbas. Kondisi tersebut diperparah dengan kemarau panjang yang membuat sektor pertanian di Indonesia babak belur. Swasembada pangan mulai goyah.

Di tahun 1998, pemerintah mulai melakukan impor beras untuk menjaga stok pangan di tanah air. Keran impor makin tak terbendung akibat kurangnya kontrol. Akhirnya, setiap tahun, Indonesia terus bergantung pada impor agar stok beras di masyarakat stabil.

Sebagai salah satu langkah atau solusi untuk menghindari kegiatan impor beras, pemerintah wajib membenahi sektor pertanian dibarengi dengan mengajak generasi muda untuk terjun di sektor pertanian .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini