Home Lifestyle Kuliner Daun Jati, Pembungkus Makanan Ramah Lingkungan Beraroma Khas

Daun Jati, Pembungkus Makanan Ramah Lingkungan Beraroma Khas

Selama ini daun pisang dikenal sebagai pembungkus makanan alami. Banyak makanan tradisional dibungkus atau dikukus dengan balutan daun pisang yang sudah dibersihkan dan dijemur.

Tapi tahukan ternyata ada satu daun lagi yang juga bisa dipakai dan disebut lebih baik untuk membungkus makanan? Namanya daun jati.

Daun jati sudah sejak lama dikenal dan digunakan sebagai pembungkus seperti makanan tradisional seperti Nasi Jamblang khas Cirebon dan juga Gudeg dari Yogyakarta.

Banyak yang percaya bahwa jika makanan dibungkus dengan daun jati maka makanan akan mengeluarkan aroma yang khas. Aroma daun jati ini disebut-sebut bisa menambah nafsu makan seseorang.

Pembuat tape ketan di desa-desa kerap menggunkan daun jati sebagai pembungkusnya agar aroma tape ketan lebih kuat. Hal yang sama diterapkan saat mengolah kuliner nasi tradisional.

Nasi akan lebih hangat dalam waktu yang lama jika dibungkus dengan daun jati. Hal ini karena tekstur daun jati lebih tebal dan lebar sehingga dapat mempertahankan kehangatan lebih awet dibanding daun-daun lainnya.

Dan yang lebih penting, dengan makakan dibungkus daun jati atau daun lainnya yang berasal dari alam, akan membuat makanan terhindar dari bahan kimia. Seperti kita tahu, saat memesan makanan untuk dibawa pulang, kerap kali pembungkusnya adalah styrofoam.

Seperti diketahui, styrofoam atau dikenal juga gabus memiliki senyawa kimia yang disebut zat stirena. Semakin tinggi suhu makanan yang ada dalam styrofoam, semakin mudah zat stirena berpindah ke makanan. Hal ini bisa menimbulkan gangguan kesehatan dan penyakit.

Penggunaan styrofoam juga berbahaya bagi kesehatan tubuh manusia. Pasalnya, Styrofoam dimasukkan dalam kelompok plastik dan mengandung berbagai zat kimia yang berbahaya bagi manusia, diantaranya benzene dan styrene. Apabila manusia terpapar zat beracun tersebut, maka risiko kanker akan meningkat.

WHO juga telah memberikan pernyataan bahwa benzene dan styrene yang merupakan bahan pembuan styrofoam bersifat karsiogenik dan dapat menyebabkan tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh manusia jika kandungan di dalam tubuh melibih 5000 ppm.

Selain itu, styrofoam mengancam kelestarian alam karena styrofoam juga mengandung Polistirena dan gas CFC (freon) yang dapat merusak lapisan ozon. Selain itu sulit terurai secara alami, sampah dari styrofoam dapat mencemari lingkungan seperti pencemaran tanah dan pencemaran air.

Walhasil, dengan mengkonsumsi makanan yang dibungkus daun jati atau daun lainnya yang berasal dari alam membuat makanan terhindar dari bahan kimia yang berbahaya. Mulai sekarang, yuk ganti ke yang alami!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini