30.4 C
Indonesia
Wednesday, October 20, 2021

TAPAK.id

spot_img

Cara Pemerintah Kolonial Hadapi Flu Spanyol, Mirip PSBB

Pandemi Covid-19 yang melanda seluruh negara di dunia termasuk Indonesia mirip dengan yang terjadi saat wabah flu Spanyol 1918 lalu.

Hal tersebut diungkapkan Sejarawan Universitas Indonesia Tri Wahyuning M Irsyam. Sebagai bentuk pencegahan, pemerintah kolonial kalau itu gencar melakukan sosialisasi untuk membangun kesadaran masyarakat.

Sepintas tak jauh atau mirip dengan Pembatas Sosial Berskala Besar (PSBB) saat ini

“Petugas pemerintah kolonial rutin berkeliling menggunakan mobil untuk menyosialisasikan bahwa penyakit itu mematikan, lebih baik di rumah saja, memakai masker dan menjaga kebersihan,” kata Tri dalam acara bincang-bincang Satuan Tugas Penanganan COVID-19 yang disiarkan melalui akun Youtube BNPB Indonesia dari Gedung Graha BNPB, Jakarta, Sabtu (1/8/2020) seperti dikutip dari Antaranews.com

Tri menyebut hal itu dilakukan pemerintah kolonial Hindia Belanda karena tidak semua orang pada saat itu bisa membaca koran sehingga khawatir beredar informasi yang tidak benar.

Pemerintah kolonial menggunakan cara-cara sosialisasi secara langsung agar masyarakat pendudukan tidak menganggap remeh dan tetap waspada terhadap wabah flu spanyol yang merenggut jutaan jiwa.

Menurut Tri, pada saat itu terdapat perbedaan sudut pandang antara pemerintah kolonial dengan masyarakat dalam menanggapi flu spanyol.

Masyarakat umum meyakini sumber wabah berasal dari alam, sementara pemerintah kolonial beranggapan wabah menular antar manusia.

“Masyarakat memandang penyakit tersebut bersumber dari alam seperti debu, angin dan lain-lain. Sementara pemerintah kolonial melihat sumber penularan berasal dari luar, yaitu orang-orang pendatang yang menjadi pembawa virus,” tuturnya.

Sama seperti saat ini, Tri mengatakan pada masa awal flu spanyol terjadi, hampir tidak ada yang siap, baik pemerintah negara-negara di dunia maupun masyarakatnya. Ketidaksiapan itu terlihat dari penanganan yang lamban.

Ketika wabah penyakit itu mulai terjadi, dan beberapa orang mulai memperlihatkan gejala-gejala tertentu, para petinggi sejumlah negara seolah-olah abai dengan fenomena yang terjadi di masyarakat.

Begitu pula dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Ketika sudah ada laporan dari daerah melalui telegram yang menyatakan sudah ada banyak korban, di antaranya dari Bali dan Banyuwangi, laporan itu tertahan di lembaga yang secara administratif setara dengan sekretariat negara selama berbulan-bulan.

“Karena tidak mendapat tanggapan, pemerintah kolonial di daerah akhirnya menjadi panik dan menyerahkan kepada masyarakat agar bertindak sendiri,” tuturnya.

Masyarakat akhirnya lebih mengedepankan upaya pengobatan tradisional. Di dalam Serat Centini disebutkan sejumlah bahan-bahan alami seperti jamu yang kerap digunakan sebagai pengobatan.

Sebagai informasi, flu Spanyol menewaskan sekitar 50 juta orang di seluruh dunia. Flu Spanyol bahkan dijuluki ibu segala pandemi.

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Stay Connected

20,753FansSuka
2,988PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles