Home Unik Bukan Sekedar Jajanan Pasar, Ternyata Lemper Memiliki Makna Filosofi yang Dalam

Bukan Sekedar Jajanan Pasar, Ternyata Lemper Memiliki Makna Filosofi yang Dalam

Indonesia merupakan negara yang terkenal akan kekayaan kulinernya. Khususnya di wilayah Jawa, jika kamu sedang berjalan-jalan ke sana, wisata kuliner merupakan wisata yang tidak dapat terlewatkan. Salah satunya adalah kuliner jajanan pasar.

Jika ditanya tentang salah satu jajanan pasar terfavorit dan paling mudah ditemukan, mungkin jawabannya adalah lemper. Makanan ini dibuat dari beras ketan sehingga memiliki tekstur yang lengket. Biasanya isinya berupa ayam suwir dengan rasa yang gurih dan sedikit manis.

Harga makanan yang biasanya dibentuk seperti kepalan dan dibungkus dengan daun pisang ini juga sangat terjangkau. Layaknya jajanan pasar, lemper biasanya dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp2500 hingga Rp10000, tergantung ukuran dan di mana kamu membelinya. Biasanya harganya lebih murah jika kamu membelinya di pasar.

Berdasarkan proses pembuatannya, lemper dibedakan menjadi dua jenis, yakni lemper bakar dan lemper kukus. Kedua jenis lemper ini cukup mengenyangkan jika dibandingkan dengan jajanan pasar lainnya.

Nah, bagi kamu yang sudah sering beli lemper di pasar maupun warung-warung makan, apakah kamu sudah tahu bahwa lemper ternyata memiliki filosofi?

Yuk, kita bahas dalam artikel di bawah ini!

Lemper zaman dulu

Meskipun lemper berasal dari Jawa Tengah, makanan ini tampaknya sudah mudah ditemukan di berbagai wilayah di Indonesia.

Lemper yang sering kita nikmati saat ini memang diisi dengan suwiran daging ayam. Bahkan beberapa ditemukan dengan isian suwiran daging sapi atau suwiran ikan.

Zaman dulu, harga daging ayam, sapi, dan ikan sangatlah mahal. Sebagai isian lemper, masyarakat menggunakan kelapa muda yang diparut dan digoreng hingga menghasilkan warna kuning kecokelatan dan dicampur dengan berbagai bumbu. Isian lemper ini disebut dengan serundeng atau gebingan.

Selain dari segi isian, saat ini lemper juga telah mengalami perubahan dari segi kemasan. Di zaman dulu, lemper selalu dibungkus dengan daun pisang. Saat ini, selain daun pisang, kita kerap menemukan lemper dibungkus dengan plastik karena dinilai lebih praktis.

Filosofi lemper, jajanan pasar murah dan mengenyangkan

Pernahkah kamu mendengar Cak Lontong mengucapkan frasa “Salam lemper”? Nah, frasa ini ternyata ada hubungannya lho dengan filosofi lemper. Meskipun makanan ini sederhana, ternyata makna yang terkandung di dalamnya sangat dalam.

Bagi masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, lemper bukanlah sekedar jajanan pasar yang terbuat dari ketan dan diisi dengan daging ayam. Teksturnya yang lengket memiliki makna persaudaraan. Bersaudara berarti bersatu.

Selain makna tersebut, nenek moyang masyarakat Jawa juga percaya bahwa tekstur lemper yang sangat lengket itu juga akan mendatangkan rezeki bagi siapapun yang memakannya.

Versi lain mengatakan lemper memiliki makna yang diambil dari bahasa Jawa, yakni “yen dilem atimu ojo memper” yang meminta kita untuk tidak segera tinggi hati ketika baru mendapat pujian.

Lemper dalam acara-acara besar

Meskipun terikat dengan nama “jajanan pasar”, lemper tidak hanya dapat ditemukan di pasar atau warung saja. Saat ini, lemper sering dijadikan snack khas untuk berbagai acara, mulai dari acara-acara formal di kantor, hingga acara-acara adat seperti hajatan dan sebagainya.

Di daerah Bantul, DI Yogyakarta, lemper sering ditampilkan dalam acara Rebo Pungkasan, yakni upacara adat yang digelar tiap hari terakhir tahun Hijriah.

Lemper yang ditampikan dalam acara ini bukanlah lemper biasa, namun lemper raksasa dengan ukuran 2×2,5 m. Lemper ini berisi ribuan lemper berukuran kecil yang nantinya akan dibagikan secara gratis kepada masyarakat.

Dalam upacara adat Rebo Pungkasan, lemper memiliki makna yang berbeda. Dalam hal ini, lemper diibaratkan seperti manusia. Kulit lemper diibaratkan seperti dosa manusia, sementara isi lemper diibaratkan sebagai inti hidup. Maknanya, manusia harus membuat dosanya terlebih dahulu agar dapat mencapai inti hidup sebagai manusia dan memperoleh surga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini