Home Jejak Banten : Tanah Para Ksatria

Banten : Tanah Para Ksatria

Mungkin kita sepakat bahwa saat ini Banten adalah tanahnya para jawara. Tidak terhitung sudah berapa jumlah pendekar yang dihasilkan daerah itu dari dulu sampai sekarang, yang berkiprah di banyak bidang, seperti bidang olahraga, bidang keamanan, dan lain sebagainya.

Kehebatan para jawara Banten terlestarikan dengan hadirnya banyak perguruan silat dan bela diri yang banyak terdapat disana. Mereka tidak hanya memelajari bagaimana cara menyehatkan diri, namun juga cara untuk memanfaatkan kemampuan raganya demi kebaikan.

Kiprah orang-orang Banten dalam bidang bela diri, tidak terjadi hanya dalam waktu sehari. Namun telah berkembang sejak lama, yaitu ketika Kesultanan Banten berada di masa keemasannya. Pada waktu itu, para ksatria Banten mendominasi keamanan jalur perniagaan perairan Jawa.

Apa yang dilakukan para ksatria Banten di perairan Jawa, senantiasa bertabrakan dengan kepentingan bangsa-bangsa asing yang hendak meraup keuntungan dari Kepulauan Nusantara. Oleh karena itu, Banten tidak jarang bertempur dengan imperialis asing seperti Portugis dan Kompeni Belanda.

Melawan Portugis, jawara Banten begitu berperan dalam Perang Sunda Kelapa. Saat itu, terjadi peperangan antara pihak Cirebon dan Demak di satu sisi dengan pihak Portugis dan Pajajaran di sisi yang lain. Bersama dengan orang Kuningan, orang Banten menjadi inti kekuatan pasukan Cirebon.

Dalam konfliknya dengan Kompeni Belanda, orang-orang Banten terlibat dalam perseteruan yang lebih panjang. Sejak kekalahan pertamanya dari Banten, VOC seolah memendam dendam karena pelbagai perang terus terjadi hingga Banten berhasil ditundukkan melalui kontrak dan perjanjian di tahun 1680-an.

Meski kebesaran Kesultanan Banten telah runtuh bersama memudarnya pamor pemimpinnya yang berada di bawah kekuasaan Kompeni Belanda, pergerakan orang Banten eks-kesultanan yang memilih keluar dari sana, tetap terjadi. Mereka melakukan gerilya di darat dan perairan Jawa.

Di darat, orang-orang Banten bergabung melindungi Syekh Yusuf yang melakukan perlawanan dari pedalaman Priangan. Sementara di perairan, orang-orang Banten acapkali mengganggu kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh orang-orang Belanda dengan menyerang kapal-kapal niaga mereka.

Perlawanan orang-orang Banten sangat merugikan Maskapai Dagang VOC. Tidak terhitung berapa juta rijksaalder dan gulden kerugian yang Kompeni alami akibat hal itu. Namun yang jelas, hal itu mengganggu neraca keuangan Batavia, sampai-sampai mereka melaksanakan pelbagai cara untuk menghentikannya.

Pada akhirnya, nama para pejuang Banten akan tetap terpatri kuat dalam catatan sejarah sebagai kelompok ksatria yang berani mengangkat senjata melawan hegemoni politik dan ekonomi Kompeni Hindia Belanda di Kepulauan Nusantara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini