Home Lifestyle Kuliner Asal-Usul Tahu Gejrot, Kuliner yang Disantap Food Vlogger Pakai 130 Cabai

Asal-Usul Tahu Gejrot, Kuliner yang Disantap Food Vlogger Pakai 130 Cabai

Aksi nekat dilakukan seorang wanita yang berprofesi sebagai food vlogger. Tak tanggung-tanggung, wanita cantik ini memakan tahu gejrot dengan kuah dari cabai sebanyak 130 buah!

Aksi nyeleneh itu diunggah di akun Instagram miliknya @sibungubung. Dalam video yang diunggah pada 20 Juli 2020 itu, ia meminta sang penjual tahu gejrot untuk membuatkan tahu gejrot level pedes mampus.

Wanita cantik itu lalu memberikan sebungkus cabai rawit yang ia sebut jumlahnya ratusan.

“Sadissss abangnya iseng banget, minta level pedes mampus yang 90 cabe rawit … malah dibikinin 130 cabe rawit,” tulis keterangan di akun instagramnya.

Wanita cantik tersebut nampak lahap menyantap seporsi tahu gerjot dengan cabai rawit yang melimpah ruah. Warganet yang menyakisikan video tersebut merasa takjub sekaligus ngeri.

“Wagela ce, maag ku menangiss liat ini,” tulis akun @claudiaprisella.

Tahu gerjot sendiri merupakan kuliner khas Cirebon, yang terbuat dari tahu dan bumbu lainnya. Tahu gejrot terdiri dari tahu yang sudah digoreng kemudian dipotong agak kecil lalu dimakan dengan kuah yang bumbunya cabai rawit, bawang putih, bawang merah, dan gula.

Food vlogger menyantap tahu gejrot dengan sambel cabai 130 buah. (instagram/sibungbung)

Dikutip dari holamingo.id, Nurdin M. Noer, budayawan asal Cirebon menyebut dapur-dapur produksi atau pabrik tahu gejrot mulanya berpusat di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon.

Masyarakat lokal mulai menciptakan kuliner ini sebelum Indonesia merdeka. Hingga kini pun menurutnya setidaknya ada enam dapur-dapur produksi yang tetap eksis dan berkembang tanpa meninggalkan sisi tradisionalnya. Usaha kuliner ini diwariskan secara turun temurun.

Nurdin M. Noer juga menambahkan bahwa awalnya pemilik dapur produksi tahu gejrot adalah orang-orang keturunan Cina sedangkan pekerjanya adalah orang pribumi.

Situasi ekonomi yang masih belum stabil di tahun 1950 membuat mereka mau bekerja apapun termasuk menjadi buruh pembuat makanan ini di dapur-dapur produksi tersebut.

Selain membuat, penduduk pribumi juga ikut memasarkan dengan berkeliling kampung. Biasanya dengan cara dipikul.

Karena zaman dulu masih serba sederhana, maka penyajiannya pun apa adanya, yakni dengan menggunakan piring gerabah. Namun, hal inilah yang justru membuat cita rasa tahu gejrot ini menjadi khas dan unik.

Nama tahu gejrot sendiri berasal dari cara penyajiannya. Saat kuah dari air rebusan kecap dituangkan ke tahu maka akan berbunyi, jrot..jrot..jrot. Hingga sekarang tahu gejrot laris diburu untuk camilan usai makan siang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini