Home Lifestyle Kuliner Asal-Usul Seblak, Kuliner Sunda yang Senasib dengan Klepon

Asal-Usul Seblak, Kuliner Sunda yang Senasib dengan Klepon

Setelah beberapa hari lalu geger klepon disebut kue tidak islami, kini kuliner Nusantara lainnya juga mendapat label yang sama. Kali ini Seblak yang disebut tidak islami karena warna kuahnya yang merah dianggap perwujudan iblis.

Postingan soal seblak tidak islami ini muncul pertama kali di media sosial Fecebook. Entah serius atau bercanda, warganet yang mengunggah postingan itu membeberkan fakta soal seblak trik pemuja iblis untuk menggoda orang beriman.

Salah satu akun yang mengunggah ulang postingan soal seblak makanan tidak islami adalah akun twitter @bdngfess.

“SEBLAK TIDAK ISLAMI. Euy meni rudet kiyeu nya ih, meni sagala dijieun ribet” cuit akun tersebut.

Seblak sendiri sering dikenal sebagai kuliner khas Jawa Barat, tepatnya Bandung. Namun beberapa sumber menyebutkan seblak tidak berasal dari Bandung melainkan dari Sumpiuh, sebuah desa di Kabupaten Banyumas.

Di sana, makan yang konon cikal bakal seblak itu bernama kerupuk godog. Sebuah kuliner yang memakai kerupuk direbus sebagai bahan utamanya. Kuliner itu sendiri sudah terkenal sejak tahun 1940an.

Makanan sejenis juga sudah ada di daerah Cianjur bagian selatan sejak zaman sebelum kemerdekaan. Namun yang membedakan seblak dengan makanan sejenisnya adalah seblak pada umumnya menggunakan kerupuk oren dengan bumbu cikur dan disajikan dengan kuah pedas.

Cerita lain yang berkembang soal seblak adalah konon masyarakat pribumi di masa lalu kesulitan mendapatkan minyak kelapa. Alhasil jika ingin makan kerupuk terpaksa harus merebusnya, bukan digoreng.

Harus direbus itulah yang mengaitkan kerupuk godog dengan seblak. Karena penyajiannya sama-sama harus digodog (rebus-red).

Baik seblak maupun klepon, keduanya sama-sama kuliner Nusantara yang dibuat tentunya dengan bahan-bahan halal dan tak perlu diperdebatkan agamanya. Karena makanan memang tidak beragama. Makanan ada untuk disantap, bukan diperdebatkan.

Sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, sudah sepatutnya mencerna informasi yang beredar. Jangan sampai termakan berita bohong atau isu SARA yang dapat memecah belah kesatuan kita sebagai bangsa Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini