Home Jejak Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar abad ke-15 dengan trigger berupa pelayaran muhibah Cheng Ho ke kawasan tersebut. Tak dapat dipungkiri, kehadiran penjelajah kepercayaan Kaisar Yongle Tiongkok itu membawa banyak hal bagi beberapa tempat yang dikunjunginya, termasuk bagi Nusantara. Meski demikian, dalam liputan itu, saya juga menyatakan bahwa belum ditemukan bukti konkret yang secara eksplisit menunjukan waktu datangnya orang Tionghoa untuk pertama kalinya ke Nusantara.

Secara geografis, wilayah Nusantara paling utara adalah wilayah yang paling memungkinkan untuk pertama kalinya didatangi, atau sekedar dikunjungi, oleh orang-orang Tiongkok. Hipotesa atas hal ini, bukan hanya dilandasi oleh persoalan jarak, namun juga dapat diperkirakan dengan dasar persoalan musim angin dan teknologi perkapalan yang ada saat itu. Semua faktor seolah mendukung bahwa kawasan utara Nusantara adalah daerah yang pertama kali dicapai oleh orang Tionghoa. Namun kembali lagi, untuk mengetahui daerah utara mana yang paling awal dijangkau itu, perlu dilakukan kajian lebih lanjut.

Meski persoalan itu masih tertutup oleh kabut tebal misteri, tampaknya hubungan antara Tiongkok dan India sangat memengaruhi penjelajahan etnis Tionghoa ke Nusantara. Tentu kita tahu bahwa sebagai dwi bangsa yang termasuk tertua di dunia, Tiongkok dan India memiliki akar hubungan kebangsaan yang sangat tua. Dalam Study on The Etched Carnelian Beads Unearthed in China, Deyun Zhao menyatakan catatan kontak pertama itu telah ada pada Abad II SM, pasca ekspedisi Zhang Qian ke Asia Tengah (138-114 SM). Akan tetapi, resiko berat rute darat membuat kedua negara berpikir untuk membangun jaringan niaga maritim, jalur dimana Nusantara ada di dalamnya.

Di Nusantara sendiri, Jawa adalah salah satu pulau terpenting peradaban. Selain karena banyaknya temuan fragmen-fragmen manusia purba dan kebudayaannya, Jawa juga masyhur sebagai kekuatan regional terpenting di Kepulauan Nusantara. Tidak hanya saat ini, di mana hampir seluruh Presiden Indonesia berasal dari Suku Jawa, namun juga sejak masa lalu, bahkan di saat Nusantara mulai tampak peradabannya. Catatan tertulis di Indonesia, yang berupa temuan arkeologis berwujud Yupa Abad IV Masehi, memang ditemukan di Muara Kaman, Kutai, Kalimantan Timur. Namun, catatan sejarah klasik Tiongkok malah menyatakan bahwa Raja Jawa sudah melakukan kontak dengan mereka pada Abad II Masehi!

Dalam dokumen Hou Han Shu, bab Benji, dan bab Xinanyi Zhuan, tercatat bahwa pada tahun 131 Masehi atau Abad II Masehi, ada seorang duta atau utusan resmi negara yang datang ke Kaisar Yongjian sebagai perwakilan Raja Yediao (Jawa) bernama Bian. Duta Jawa itu bertugas untuk membawa sesembahan kepada Tiongkok, yang kemudian dibalas oleh Kaisar dengan stempel kekaisaran yang dibuat dari emas dengan hiasan pita berwarna ungu. Selengkapnya, catatan sejarah yang termasuk sebagai primary chronicle karena ditempatkan pada bagian Benji itu, adalah sebagaimana berikut:

永建六年 (131) 日南徼外葉調王便遣使貢獻 帝賜調便金印紫綬

Sebagai pulau yang luas, tentu akan muncul pertanyaan: Raja Jawa mana yang pada tahun 131 Masehi sudah eksis dan malah mengirimkan suatu utusan yang bersifat formal untuk membangun hubungan kenegaraan dengan suatu negeri yang letak negerinya jauh di seberang lautan? Melalui buku China and the Shaping of Indonesia, Hong Liu menyatakan bahwa kerajaan asal Jawa yang mengirim utusan ke ibukota Kerajaan Han Timur, atau Kota Luoyang, adalah sebuah kerajaan yang berada di Jawa bagian barat. Tidak jelas memang kerajaan apa, namun di bagian pulau itu memang berdiri sejumlah kerajaan tua Nusantara, seperti halnya Tarumanegara yang memiliki sumber primer prasasti dan Salakanegara yang masih berselimut misteri.

Kerajaan Jawa mana pun itu yang telah mengirimkan utusan resmi negara pada tahun 131 ke Tiongkok, setidaknya kita dapat ketahui bahwa sejak awal tahun masehi, Jawa sudah memiliki inisiatif menyeberangi lautan untuk membangun hubungan diplomatik kenegaraan. Tindakan ini merupakan sebuah hal yang menunjukkan bahwa Raja Jawa memiliki pola pikir yang sangat maju. Di samping itu, tampak pula betapa hebatnya teknologi maritim orang Jawa pada sekitar abad pertama masehi karena ternyata mereka sudah mampu melakukan pelayaran yang jauh dengan menyeberangi lautan serta samudera yang sangat luas.

Pada kesimpulannya, dengan adanya sumber tertulis dari dokumen klasik Tiongkok tersebut, apakah kita dapat menyatakan bahwa Kerajaan Jawa adalah yang tertua di Nusantara? Wallahu’alam bishowab, hanya kajian multidimensional lanjutan yang dapat mengungkapkannya..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Sunda, Pakuan, dan Pajajaran: Menggali Akar Historis Konseptual

Pada mulanya, saya sangat kesulitan untuk membedakan apa itu Sunda, Pakuan, dan Pajajaran. Meski tampak sebagai hal yang lazim, pada perkembangannya hal...

Apakah Kerajaan Tertua Nusantara Ada Di Jawa?

Dalam reportase Republika mengenai Khazanah Ke-Tionghoa-an Indonesia tahun 2017, saya menyatakan bahwa gerak massif migrasi etnis Tionghoa ke Nusantara terjadi sejak sekitar...

Peace Treaty Pajajaran-Cirebon: Perjanjian Perdamaian dengan Dasar Kekeluargaan

Pada tahun 1482, Prabu Jayadewata dinobatkan sebagai penguasa Sunda-Galuh dan berkedudukan di Keraton Sanghyang Sri Ratu Dewata, Kedatuan Sri Bima Punta Narayana...

Tarian Lego-Lego Dari Tanah Alor

Tanah Alor yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki tarian yang khas yang bernama Tarian Lego-Lego. Apakah kalian tahu, bahwa...

Komentar terkini