Home Teknologi Alasan Orang Indonesia Suka Chatting Pakai Whatsapp

Alasan Orang Indonesia Suka Chatting Pakai Whatsapp

Grup apalagi nih?

Pasti pernah merasa kesal karena tiba-tiba dimasukan ke dalam grup WhatsApp sama teman atau saudara tanpa basa-basi dulu ke kita. Atau pernah bikin grup Whatsapp cuma buat ngegosipin salah seorang temen?

Di antara kita pasti di handphonenya punya puluhan grup WhatsApp. Mulai dari grup keluarga, grup kerjaan, grup teman hangout, sampai grup yang isinya tetangga satu RT. Munculnya banyak grup seperti yang disebut barusan, tidak terlepas dari kegemaran orang Indonesia menggunakan aplikasi pesan instan, Whatsapp.

WhatsApp didirikan pada 24 Februari 2009, berarti sekarang WhatsApp sudah menginjak usia keenam. WhatsApp didirikan oleh Brian Acton dan Jan Koum yang pernah bekerja sebagai karyawan Yahoo.

September 2015 atau sembilan tahun setelah WhatsApp didirikan, pengguna aktif aplikasi pesan instan berlogo telepon dengan background hijau itu tercatat memiliki 900 juta. Banyaknya pengguna, membuat WhatsApp dilirik oleh jejaring media sosial Facebook. Facebook merogoh kocek sebesar $19 Miliar untuk mengakusisi WhatsApp.

Di Indonesia sendiri, WhatsApp sangat populer dibanding aplikasi pesan instan lainnya seperti Line atau Blackberry Messanger. Banyak alasan orang Indonesia lebih suka chatting pakai WhatsApp.

WhatsApp disukai banyak pengguna khususnya di Indonesia karena aplikasi ini otomatis tersinkron dengan nomor kontak di handphone. Berbeda dengan Line atau Blackberry Messenger yang harus meminta pin atau ID saat ini chatting-an dengan orang yang baru kita kenal. Sehingga baik kita sendiri maupun kenalan tidak perlu repot-repot untuk menghafal pin atau ID.

Bagi pengguna baru yang berasal dari kalangan lanjut atau orang tua, WhatsApp jauh lebih mudah dipahami cara penggunaannya. Aplikasi ini memiliki interface yang sederhana dibanding aplikasi pesan instan lainnya. Selain karena kemudahannya dalam digunakan, aplikasi WhatsAp terbilang ringan. Hingga saat digunakan baterai handphone tidak cepat drop. Soal pemakaian data, WhatsApp tidak begitu boros, sehingga paket data yang digunakan tidak mudah habis.

Alasan lainnya, WhatsApp disukai orang Indonesia dari segala macam usia adalah karena aplikasi ini tidak ada iklan. Berbeda dengan Blackberry Messenger misalnya yang menampilkan iklan di recent updates sehingga tidak sengaja terkadang ter-klik, WhatsApp bebas dari iklan. Sehingga memberi kenyamanan pengguna saat melihat status orang-orang yang berada di list kontaknya.

Kembali ke soal grup, pengguna dapat membuat grup WhatsApp dengan anggota ratusan. Dalam blog resminya, WhatsApp menyebut jumlah anggota sebuah grup maksimal 256 dari sebelumnya hanya dapat menampun 100 anggota. Maka tak heran jika untuk komunikasi dalam urusan pekerjaan atau proyek, grup WhatsApp menjadi andalan.

Dikutip dari Gatra.com, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui Sekretaris Jenderal Kominfo, Rosarita Niken Widiastutimenyebut dari 171 juta pengguna internet di Indonesia, 83% menggunakan WhatsApp sebagai media komunikasi.

Seiring penerapan work from home (WFH) dan kegiatan belajar mengajar secara online bagi siswa dan siswi serta guru, penggunaan WhatsApp di masa pandemi ini semakin meningkat. Tentunya peningkatan kegiatan serba online ini harus diimbangi dengan infrastruktur dan kecepatan internet.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Populer

Beberapa Versi Mengenai Gunung Sidahurip, Ada Piramida atau Tidak?

Gunung Sidahurip merupakan sebuah gunung yang berdiri kokoh di daerah Karangtengah, Kabupaten Garut. Gunung ini mungkin jarang disebut namanya oleh para pendaki atau kelompok...

Transformasi Layanan Psikologi Balanceway.id Di Tengah Pandemi COVID-19

Hampir mendekati 1 tahun kita berada di tengah pandemi Covid-19, hal ini memaksa semua bidang untuk beradaptasi dengan lebih cepat. Banyak kesulitan...

Klenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait: Kokoh diterjang Tsunami Letusan Krakatau Tahun 1883

Sekitar Agustus 1883, Hujan abu panas turun di Ketimbang atau saat ini dikenal dengan nama desa Banding, Rajabasa, Lampung. Kurang lebih 1000...

Rumah Multatuli: Cagar Budaya Terabaikan dari Sang Pemilik Tinta Emas

Berbagai situs bersejarah Indonesia, mulai dari zaman prasejarah hingga masa kolonialisme, masih terpelihara dengan baik hingga saat ini. Namun sayang, ada beberapa...

Komentar terkini